31 Oktober 2011

PROFIL KELAPA SAWIT

by PUTRA SIAK  |  in Lingkup Pertanian at  Senin, Oktober 31, 2011
Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal dari Amerika. Brazil dipercaya sebagai tempat di mana pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan. Benih kelapa sawit pertama kali yang ditanam di Indonesia pada tahun 1984 berasal dari Mauritius, Afrika. Perkebunan kelapa sawit pertama dibangun di Tanahitam, Hulu Sumatera Utara oleh Schadt (Jerman) pada tahun 1911.

Klasifikasi kelapa sawit adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Palmaceae
Sub keluarga : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq

Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan. Hasil persilangan tersebut memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Varietas unggul hasil persilangan antara lain: Dura Deli Marihat (keturunan 434B x 34C; 425B x 435B; 34C x 43C), Dura Deli D. Sinumbah, Pabatu, Bah Jambi, Tinjowan, D. Ilir (keturunan 533 x 533; 544 x 571), Dura Dumpy Pabatu, Dura Deli G. Bayu dan G Malayu (berasal dari Kebun Seleksi G. Bayu dan G. Melayu), Pisifera D. Sinumbah dan Bah Jambi (berasal dari Yangambi), Pisifera Marihat (berasal dari Kamerun), Pisifera SP 540T (berasal dari Kongo dan ditanam di Sei Pancur).


Beberapa ciri yang dapat digunakan untuk menandai kecambah yang dikategorikan baik dan layak untuk ditanam antara lain sebagai berikut:
• Warna radikula kekuning-kuningan, sedangkan plumula keputih-putihan
• Ukuran radikula lebih panjang daripada plumula
• Pertumbuhan radikula dan plumula lurus dan berlawanan arah
• Panjang maksimum radikula 5 cm, sedangkan plumula 3 cm.

Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special Quality) mengandung asam lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada saat pengapalan. Kualitas standar minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa sawit bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % - 22,2 % (tertinggi) dan kadar asam lemak bebas 1,7 % - 2,1 % (terendah). Istilah mutu minyak sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama, benar-benar murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat-sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan DXP Simalungun DXP Langkat DXP Bah Jambi DXP Dlk sinumbah DXP Lame DXP SP 1 DXP Yangambi DXP Marihat DXP Avros DXP SP 1.
Spesifikasi standar mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak sawit yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing-masing berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya harus lebih diperhatikan. Rendahnya mutu minyak sawit sangat ditentukan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya, penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan. Selain itu, ada beberapa faktor yang langsung berkaitan dengan standar mutu minyak sawit seperti di bawah ini :

• Free Fatty Acid (FFA)
(As Palmitic)
• Moisture % impurities (M&I)
• Peroxide value
• Iodine value
• DOBI
• Melting Point
• Cloud Point
• M.Pt (AOCS Cc3-25)
• Colour (5 1/4" Lovibond Cell)
• Saponifiable Matter
• Dirt
• Fibre
• Profat


Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit tersebut, didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :

• Crude Palm Oil
• Crude Palm Stearin
• RBD Palm Oil
• RBD Olein
• RBD Stearin
• Palm Kernel Oil
• Palm Kernel Fatty Acid
• Palm Kernel
• Palm Kernel Expeller (PKE)
• Palm Cooking Oil
• Refined Palm Oil (RPO)
• Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
• Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
• Palm Kernel Pellet
• Palm Kernel Shell Charcoal


Selain standar mutu sesuai dengan standar Dirjen Perkebunan berikut kualitas CPO yang baik: (sesuai Standar Produksi SP 10-1975)
a) kadar minyak minimum 48 % cara pengujian AP-SMP-13-1975
b) kadar air maksimum 8,5 % cara pengujian SP-SMP-7-1975
c) kontaminasi maksimum 4 % cara pengujian SP-SMP-31-1975
d) kadar inti pecah maksimum 15 % cara pengujian SP-SMP-31-1975.



1. SYARAT PERTUMBUHAN
a. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-28°C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
b. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.

a. Pembibitan
Pembibitan merupakan awal kegiatan lapangan yang harus dimulai paling lambat satu tahun sebelum penanaman di lapangan. Standar yang biasa dilakukan, kapasitas pembibitan 1 ha kelapa sawit dapat menyediakan bibit tanaman untuk kebun seluas 71 ha. Lokasi pembibitan harus mendapat perhatian, terutama hal-hal sebagai berikut:
• dekat dengan sumber air
• bebas genangan air atau banjir
• dekat dari pengawasan, mudah dikunjungi
• tidak jauh dari areal yang akan ditanami
• tidak terlalu jauh dengan sumber tanah (top soil) untuk mengisi polybag.




Untuk memperoleh bibit yang berasal dari biji dapat dilakukan dengan mengusahakan sendiri atau memesan ke produsen resmi bibit kelapa sawit yang telah ditunjuk pemerintah. Kegiatan mengusahakan bibit kelapa sawit dimulai dengan melakukan seleksi biji, mengecambahkan, menyemai, dan membibitkannya.
1. Persemaian
Persemaian bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan bibit yang merata sebelum dipindahkan ke pembibitan. Medium persemaian biasanya dipilih pasir atau tanah berpasir. Persemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dalam bentuk bedengan atau polibag. Berikut langkah-langkah persemaian:
1. Kecambah dimasukkan polibag 12x23 atau 15x23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak.
2. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm.
3. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
4. Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40x50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak.
5. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air.
6. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90x90 cm.
Dalam proses pembibitan juga perlu dilakukan pemeliharaan. Pemeliharaan pada proses pembibitan antara lain sbb :
a. Penyiraman dilakukan dua kali sehari kecuali jika ada hujan 7 - 8 mm.
b. Gulma dibuang/dicabut atau disemprot dengan herbisida setiap 3 bulan. Penyiangan dilakukan 2 - 3 kali dalam sebulan.
c. Bibit yang buruk harus dibuang.




Pemupukan dilakukan beberapa kali selama masa pembibitan, selengkapnya seperti terlihat pada table di bawah ini:
Umur dan Jenis Pupuk yang Digunakan Pada Persemaian
Pupuk Dosis/Periode Umur
Urea 0,2 % 3 - 4 lt/100 bibit 4 - 5 minggu

Urea 0,2 % 4 - 5lt/100 bibit 6 - 7 minggu

Rustica 15.15.6.4 1 gr/bibit 8 - 16 minggu

Rustica 12.12.17.2 1 gr/bibit 8 - 16 minggu

Sumber: Seri AgriBisnis, Kelapa Sawit, Budidaya dan Pengolahannya, Penerbit Penebar Swadaya.

2. Sistem Pembibitan
Pada dasarnya dikenal dua sistem pembibitan yaitu sistem pembibitan ganda (double stage system) dan sistem pembibitan tunggal (single stage system). Pada penerapan sistem tahap ganda, penanaman bibit dilakukan sebanyak dua kali. Tahap pertama disebut pembibitan pendahuluan, yaitu kecambah ditanam dengan menggunakan plastik polibag kecil sampai bibit berumur 3 bulan, kemudian tahap kedua bibit tersebut ditanam ke pembibitan utama yang menggunakan plastik polibag besar selama 9 bulan. Pada sistem pembibitan tahap tunggal, bibit langsung di tanam di dalam plastik polibag besar hingga berumur 12 bulan tanpa harus ditanam di dalam plastik polibag kecil. Pada prinsipnya sistem manapun yang dipilih tujuannya sama, yaitu untuk menghasilkan bibit yang berkualitas dengan daya tahan tinggi dan kemampuan adaptasinya yang besar sehingga faktor kematian bibit di pembibitan dan setelah dilapangan dapat ditekan.
Pekerjaan yang dilakukan pada pembibitan ini meliputi:
a. Pembuatan pembibitan awal (0 – 3 bulan), meliputi pekerjaan : persiapan lahan dan perataan lahan, pengadaan alat dan bahan, pembuatan naungan, pembuatan jaringan irigasi dan penanaman.
b. Pembuatan pembibitan utama (3 – 9 bulan), meliputi pekerjaan : persiapan lahan dan perataan lahan, pengadaan alat dan bahan, pemindahan tanaman dari plastik kecil ke plastic besar, pengaturan jarak, dll.
c. Pemeliharaan tanaman meliputi : pemupukan, penyiraman, pengendalian hama penyakit, penyiangan gulma, dan seleksi bibit.

b. Pembukaan Lahan dan Penyiapan Lahan
Perkebunan kelapa sawit dapat dibangun di daerah bekas hutan, daerah bekas alang-alang, atau bekas perkebunan. Daerah-daerah tersebut memiliki topografi yang berbeda-beda. Namun, yang perlu diperhatikan dalam pemukaan areal perkebunan adalah tetap terjaganya lapisan olah tanah. Selain itu, harus memperhatikan urutan pekerjaan, alat, dan teknik pelaksanaannya. Sebelum melakukan pembukaan lahan terlebih dahulu dilakukan identifikasi vegetasi yang ada pada lahan tersebut. Dari data yang ada maka dapat ditentukan apakah pembukaan lahan dilakukan secara manual, manual – mekanis atau secara mekanis saja. Pembukaan areal perkebunan kelapa sawit pada daerah alang-alang dapat dilakukan dengan cara mekanis dan khemis, secara mekanis dilakukan dengan cara membajak dan menggaru, secara khemis dilakukan dengan menyemprot alang-alang dengan racun antara lain Dalapon atau Glyphospate. Pembukaan kelapa sawit juga bisa dengan cara konversi yaitu membuka areal perkebunan dari bekas perkebunan lain. Metode pembukaan lahan yang sebaiknya dilakukan adalah pembukaan lahan tanpa bakar, karena dengan cara membakar hutan dilarang oleh pemerintah dengan dikeluarkannya SK Dirjen Perkebunan No. 38 tahun 1995, tentang pelarangan membakar hutan. Selain itu alas an menggunakan metode ini adalah:
• mempertahankan kesuburan tanah,
• menjamin pengembalian unsur hara,
• mencegah erosi permukaan tanah, dan
• membantu pelestarian lingkungan.





Tahapan untuk pembukaan lahan adalah sebagai berikut : membabat rintisan, mengimas, menebang, merancek, membuat pancang kepala dan membersihkan jalur. Sedangkan tahapan untuk penyiapan lahan adalah : pembuatan teras dan pembuatan benteng (tanggul) sinambung dan rorak. Pembuatan saluran drainase, penanaman tanaman penutup tanah (cover crop), dan pembuatan jalan transportasi.

c. Penanaman
Penanaman di lapangan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan atau pada bulan Oktober sampai Februari. Tahapan pekerjaan penanaman adalah sebagai berikut:
1.Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan satu minggu sebelum penanaman. Pembuatan lubang tanam lebih satu minggu akan memungkinkan tertimbunnya kembali sebagian lubang yang sudah digali dengan tanah yang berada di sekitar galian lubang itu sendiri. Hal ini dapat mengurangi produktivitas tenaga kerja penanaman bibit, karena tenaga kerja harus mengulang kembali penggalian lubang yang telah tertimbun. Begitu pula sebaliknya, penggalian lubang tanam yang terlalu cepat atau kurang dari satu minggu juga tidak dianjurkan karena semakin kecil persiapan untuk mengontol kebenaran ukuran dan posisi lubang. Pembuatan lubang tanam berbeda untuk tanah mineral dan tanah gambut.

2. Umur dan Tinggi Bibit
Bibit tanaman terlebih dahulu diseleksi sebelum dipindahkan terutama dari segi umur dan tinggi bibit. Penyeleksian bibit dimaksudkan agar bibit yang akan ditanam merupakan bibit yang tahan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki produktivitas yang tinggi. Umur bibit yang akan ditanam di lapangan tidak sama di semua tempat. Hal ini disebabkan oleh iklim yang mempengaruhinya. Pemindahan bibit pada umur yang tidak tepat dapat menyebabkan kematian. Bibit dengan umur 12 - 14 bulan adalah yang terbaik untuk dipindahkan. Bibit yang berumur kurang dari 6 bulan tidak tahan terhadap hama dan penyakit. Sebaliknya, jika melebihi akan menambah biaya penanaman dan waktu tanam. Walaupun umurnya sama, tinggi bibit di pembibitan tidak seragam. Tinggi bibit yang dianjurkan berkisar 70 - 180 cm. Bibit yang tingginya kurang dari ukuran yang dianjurkan akan menurunkan produksi, sedangkan yang terlalu tinggi, produksinya tidak lebih tinggi dibandingkan tanaman yang berasal dari bibit yang
dianjurkan.

d. Susunan dan Jarak Tanam
Pembibitan dengan sistem kantong plastik mempermudah pada saat bibit akan dipindahkan. Pembibitan sistem lapangan, pemindahan bibitnya dilakukan dengan cara putaran atau cabutan. Dengan cara putaran, bibit yang akan dipindahkan harus beserta tanahnya. Caranya dengan menggunakan sekop yang tajam. Dalam jarak kira-kira 15 cm dari bibit, sekop ditekankan ke tanah sehingga sebagaian akar terputus. Dalam waktu 2 minggu bibit dibiarkan dan diamati pertumbuhannya. Pada bibit yang masih segar, pemotongan akar yang kedua dapat dilakukan 4 minggu sebelum ditanam dan bibit dapat diputar. Bibit putaran sebaiknya dibungkus dengan kulit batang pisang kering, daun kelapa, atau pembungkus lain. Pembungkusan bertujuan untuk mencegah pecahnya tanah dan mempermudah pengangkutan.
e. Waktu Tanam
Penanaman pada awal musim hujan adalah yang paling tepat karena persediaan air sangat berperan dalam menjaga pertumbuhan bibit tanaman yang baru dipindahkan. Penanaman yang dilakukan pada musim kemarau dapat menyebabkan kematian dan memerlukan biaya yang lebih karena perlu persediaan air. Minimum 10 hari setelah penanaman diharapkan dapat turun hujan secara berturut-turut. Di Indonesia, saat terbaik untuk melakukan penanaman adalah pada
bulan Oktober atau November.





f. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Ketika tajuk belum saling menutup, kelapa sawit dapat ditumpangsari dengan segala jenis tanaman pangan/buah-buahan seperti nenas, tapi bila tajuk telah menutupi maka pola tanamnya monokultur.

2. Pembuatan Lubang Tanam
Pengajiran dilakukan untuk menentukan tempat-tempat yang akan dibuat lubang tanam. Ajir dipasang pada jarak 9 x 9 x 9 m dalam pola segi tiga. Lubang tanam dibaut beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50 x 40 cm sedalam 40 cm.

3. Cara Penanaman
Kelapa sawit ditanam pada awal musim hujan, atau setelah turun hujan dengan teratur.
a. Lubang tanam dipupuk dengan pupuk fostat Agrophos 250g/lubang.
b. Lepaskan plastik polybag dan masukkan bibit.
c. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman.
d. Timbun bibit dengan galian atas tanah, padatkan.
e. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki).
f. Beri mulsa disekitar batang.
g. Pemeliharaan Tanaman
3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.
3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.
3.3.3. Pemupukan
Anjuran pemupukan sebagai berikut :
• Pupuk Makro

Urea 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
225 kg/ha
1000 kg/ha

TSP 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 48 & 60
115 kg/ha
750 kg/ha

MOP/KCl 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
200 kg/ha
1200 kg/ha

Kieserite 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
75 kg/ha
600 kg/ha

Borax 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
20 kg/ha
40 kg/ha

NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September – Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April).





• POC NASA
a. Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-36 bln 2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 4 - 5 bulan sekali
>36 bln 3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan sekali
b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA
Tahap 1 : Aplikasikan 3 - 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman.

3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
a. Pemangkasan pasir
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.

b. Pemangkasan produksi
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.


c. Pemangkasan pemeliharaan
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.

3.3.5. Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.
3.3.6. Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.
a. Penyerbukan oleh manusia
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir
Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti(minyak inti) meningkat sampai 30%.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Hama
a. Hama Tungau. Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.
b. Ulat Setora. Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

3.4.2. Penyakit

a. Root Blast Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.
b. Garis Kuning Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.
c. Dry Basal Rot Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .

h. Panen dan Produksi
1. Umur panen
Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan buahnya masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Kelapa sawit dapat dipanen jika tanaman berumur 31 bulan, sedikitnya 60 % buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Satu tandan beratnya berkisar 10 kg lebih.

2. Cara Panen
a. Tandan matang dipanen semuanya dengan kriteria 25 - 75 % buah luar memberondol atau kurang matang dengan 12,5 - 25 % buah luar memberondol.
b. Potong pelepah daun yang menyangga buah.
c. Tandan dipotong.
d. Bertanda di bekas potongan dengan nama atau tanggal panen.
e. Tumpuk pelepah daun yang dipotong secara teratur di gawangan dengan cara ditelungkupkan.

3. Periode panen.

Panen dilakukan 5 hari dalam seminggu, 2 hari untuk pemeliharaan alat. Tingkat produksi dipengaruhi kualitas tanaman, kesuburan tanah, keadaan iklim, umur tanaman, pemeliharaan tanaman dan serangan hama - penyakit.





Contoh kapasitas produksi kelapa sawit jenis dura:
1. Umur tanaman 4 tahun hasil minyak = 500 kg/ha, hasil inti = 100 kg/ha
2. Umur tanaman 6 tahun hasil minyak = 1.000 kg/ha, hasil inti = 200 kg/ha
3. Umur tanaman 8 tahun hasil minyak = 1.600 kg/ha, hasil inti = 320 kg/ha
4. Umur tanaman 10 tahun hasil minyak= 2000 kg/ha, hasil inti = 400 kg/ha
5. Umur tanaman 12 tahun hasil minyak = 2250 kg/ha, hasil inti = 450 kg/ha.
Pada dasarnya, ada dua macam hasil olahan utama TBS di pabrik yaitu minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah dan minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit. Secara ringkas, tahap-tahap proses pengolahan TBS sampai dihasilkan minyak diuraikan sebagai berikut:
1. Pengangkutan TBS ke Pabrik
2. Perebusan TBS
3. Perontokan dan Pelumatan Buah
4. Pemerasan atau Ekstraksi Minyak Sawit
5. Pemurnian dan Penjernihan Minyak Sawit
6. Pengeringan dan Pemecahan Kulit
7. Pemisahan Inti Sawit dari Tempurung













PROSPEK KELAPA SAWIT
PELUANG INVESTASI BISNIS KELAPA SAWIT DI INDONESIA

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang pertum-buhannya paling pesat pada dua dekade terakhir. Pada era tahun 1980-an sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, industri kelapa sawit berkembang sangat pesat. Pada periode tersebut, areal meningkat dengan laju sekitar 11.% per tahun. Sejalan dengan perluasan areal, produksi juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Konsumsi domestik dan ekspor juga meningkat pesat dengan laju masing-masing 10% dan 13% per tahun (Direktorat Jenderal Perkebunan 2002). Laju yang demikian pesat menandai era di mana kelapa sawit merupakan salah primadona pada sub-sektor perkebunan.
Pada lima tahun terakhir, ketika Indonesia mengalami krisis multi-dimensional dan tingkat persaingan pasar minyak nabati yang dihadapi CPO semakin ketat, laju pertumbuhan industri CPO mulai melambat. Sebagai ilustrasi, laju perluasan areal pada periode 1991-2001 hanya sekitar 9.62% per tahun. Makin melambatnya pertumbuhan tersebut juga diiringi oleh isu bahwa pasar kelapa sawit sudah mulai jenuh sehingga banyak investor yang mulai ragu-ragu untuk melakukan investasi pada bisnis kelapa sawit.
Benarkah investasi pada bisnis kelapa sawit sudah jenuh? Makalah ini akan mencoba melihat peluang investasi bisnis perkebunan pada masa mendatang. Peluang tersebut dilihat dari dua sisi yaitu sisi peremajaan atau rehabilitasi (regenerasi) dan sisi perluasan. Sisi peremajaan perlu mendapat perhatian karena kebun-kebun kelapa sawit yang dibangun pada tahun 1970-an secara teknis sudah layak untuk diremajakan. Pada sisi lain, beberapa hasil studi seperti oleh FAO (2001) menunjukkan bahwa bisnis kelapa sawit masih berpeluang untuk melakukan perluasan.
Sejalan dengan hal itu, organisasi tulisan ini disusun sebagai berikut. Setelah Pendahuluan, sekilas akan diuraikan perkembangan industri CPO Indonesia. Selanjutnya bahasan difokuskan pada peluang CPO di pasar internasional. Berdasarkan peluang tersebut, peluang investasi kelapa sawit didiskusikan pada bagian akhir tulisan ini.
Prospek CPO Di Pasar Internasional
Hasil analisis yang dilakukan FAO (2001), Mielke (2001), dan Susila (2002) menunjukkan bahwa propek pasar CPO di pasar internasional relatif masih cerah. Hal ini antara lain tercermin dari sisi konsumsi yang diperkirakan masih terbuka dengan laju pertumbuhan konsumsi CPO dunia diproyeksikan mencapai sekitar 3.5%-4.5% per tahun sampai dengan tahun 2005 (Gambar 1). Dengan demikian, konsumsi CPO dunia pada tahun 2005 diproyeksikan mencapai 27.67 juta ton. Untuk jangka panjang, laju peningkatan konsumsi diperkirakan sekitar 3% per tahun.

Peningkatan yang signifikan terutama akan terjadi pada nega¬ra yang sedang berkembang seperti di Cina, Pakistan, dan juga Indonesia. Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan konsumsi dengan laju sekitar 4%-6% per tahun. Konsumsi CPO di Cina dan Pakistan diproyeksikan juga akan tumbuh dengan laju sekitar 4-6% per tahun (Susila 2001).
Sejalan dengan peluang peningkatan konsumsi yang masih terbuka, FAO (2001) menyebutkan bahwa peluang peningkatan produksi sampai dengan 2005 mendatang masih terbuka dengan laju sekitar 4-5% per tahun (Gambar 2). Produksi CPO dunia pada tahun 2005 diperkirakan sekitar 27.68 juta ton.

Produksi CPO dunia pada dekade mendatang masih akan didominasi oleh Malaysia dan Indonesia. Malaysia sebagai produsen utama akan mengalami peningkatan produksi dengan laju 2.8% per tahun. Indonesia diperkirakan masih akan mempunyai peluang untuk peningkatan produksi dengan laju antara 7.6% per tahun, sehingga produksi CPO Indonesia pada tahun 2005 mencapai 10 juta ton (Susila, 2002)
Perdagangan (ekspor-impor) CPO dunia diproyeksikan akan meningkat dengan laju sekitar 3.8% per tahun untuk periode 2000-2005 (Gambar 3). Dengan perkembangan yang demikian, maka volume perdagangan pada tahun 2005 diproyeksikan sekitar 19.16 juta ton (FAO 2001).

Malaysia dan Indonesia tetap merupakan negara pengekspor utama dengan peluang peningkatan ekspor masing-masing sekitar 3.2% dan 6.5% per tahun. Dari sudut alokasi pangsa pasar, Indonesia diperkirakan masih menguasai pasar untuk negara-negara di beberapa Eropa Barat seperti Inggris, Italia, Belanda, dan Jerman. Malaysia lebih banyak menguasai pasar China (1.8 juta ton), India (1.7 juta ton), EU (1.5 juta ton), Pakistan (1.1 juta ton), Mesir (0.5 juta ton), dan Jepang (0.4 juta ton)
Seperti kebanyakan harga produk primer pertanian, harga CPO relatif sulit untuk diprediksi dengan akurasi yang tinggi. Harga cenderung fluktuatif dengan dinamika yang perubahan yang relatif sangat cepat. Dengan kesulitan tersebut, maka proyeksi harga yang dilakukan lebih pada menduga kisaran harga untuk periode 2000-2005. Jika tidak ada shock dalam perdagangan dan produksi, maka harga CPO di pasar internasional pada periode tersebut diperkirakan lebih tinggi bila dibandingkan dengan situasi harga tahun 2001 yang dengan rata-rata sekitar US$ 265/ton. Di samping itu, mulai menurunnya stok pada periode menjelang 2005 juga mendukung perkiraan tersebut. Dengan argumen tersebut, harga CPO sampai dengan 2005 diperkirakan akan berfluktuasi sekitar US$ 350-450/ton (Susila dan Supriono 2001).
Peluang Pasar Indonesia
Secara umum, ada dua sumber permintaan (peluang pasar) untuk CPO Indonesia yaitu konsumsi domestik dan ekspor. Setelah sebelumnya meningkat dengan laju sekitar 8% per tahun, peluang konsumsi CPO di dalam negeri diperkirakan akan meningkat dengan laju antara 6% pada tahap awal dan menurun menjadi sekitar 4% pada akhir dekade mendatang. (Gambar 4). Untuk periode 2000-2005, konsumsi domestik diperkirakan meningkat dengan laju 5%-6% per tahun. Selanjutnya, untuk periode 2005-2010, laju peningkatan konsumsi diperkirakan adalah 3%-5% per tahun. Dengan laju pertumbuhan tersebut, maka konsumsi domestik pada tahun 2005 dan 2010 masing-masing adalah 3.92 juta ton dan 4.58 juta ton.
Selain mengandalkan pasar domestik, pasar ekspor merupakan pasar utama CPO Indonesia. Ekspor CPO Indonesia pada dekade terakhir meningkat dengan laju antara 7-8% per tahun. Di samping dipengaruhi oleh harga di pasar internasional dan tingkat produksi, kinerja ekspor CPO Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, khususnya tingkat pajak ekspor.
Dengan asumsi tingkat pajak ekspor adalah masih di bawah 5%, maka ekspor CPO Indonesia diperkirakan akan tumbuh dengan laju 4-8% per tahun pada periode 2000-2010 (Gambar 5). Pada periode 2000-2005, ekspor akan tumbuh dengan laju 5%-8% per tahun sehingga volume ekspor pada periode tersebut sekitar 5.4 juta ton. Pada periode 2005-2010, volume ekspor meningkat dengan laju 4%-5% per tahun yang membuat volume ekspor menjadi 6.79 juta ton pada tahun 2010.

Peluang Investasi dari Perluasan Areal
Berdasarkan peluang pasar tersebut, maka peluang investasi dari sisi perluasan areal diperkirakan masih cukup terbuka. Secara teoritis, ada banyak skenario yang dapat dilakukan untuk memenuhi peluang pasar tersebut. Salah satu skenario peluang perluasan areal adalah pada periode 2003-2005 perluasan areal adalah antara 3.5% per tahun, sedangkan pada periode 2006-2010 adalah sekitar 2% per tahun.
Dengan asumsi tersebut, peluang investasi dari sisi perluasan areal diperkirakan sekitar 117000 ha per tahun pada periode 2003-2005 dan 70000 ha per tahun untuk periode 2006-2010. Untuk mewujudkan hal tersebut, dana investasi yang dibutuhkan adalah sekitar 1.7 triliun per tahun pada periode pertama dan sekitar 1.1 triliun per tahun pada periode kedua. Kebutuhan benih untuk mendukung hal tersebut berkisar antara 14.8 – 23.5 juta per tahun.
Tabel 1. Peluang Investasi Bisnis Kelapa Sawit 2003-2010
Aspek 2003-2005 2006-2010
Pertumbuhan Areal (% /tahun) 3.5 2.0
Perluasan areal (000 ha/th) 117 74
Jumlah Bibit (juta benih/th) 23.5 14.8
Nilai Investasi (Rp T/th) 1.7 1.1
Asumsi : 1 ha = 200 benih ;Investasi Rp 15 juta/ha
Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Taher (2000), areal yang tersedia untuk perluasan areal mencapai 2.960 juta ha (Tabel 2) yang tersebar di 6 propinsi. Dengan demikian, lahan yang tersedia cukup memadai untuk me-manfaatkan peluang pasar. Namun demikian, potensi yang luas tersebut me-merlukan suatu pendekatan yang tepat untuk meminimisasi konflik lahan yang kini menjadi salah satu potret industri kelapa sawit Indonesia.
Tabel 2. Ketersediaan Lahan Untuk Perluasan Kelapa Sawit
Propinsi Luas (000 ha)
Jambi 50
Kalimantan Tengah 310
Kalimantan Timur 370
Sulawesi Selatan 130
Sulawesi Tengah 200
Papua Barat 2000
Total 2960
Peluang Investasi dari Peremajaan
Karena perkebunan kelapa sawit mulai berkembang pesat sejak tahun 1970-an, maka pada mulai awal dekade ini akan banyak tanaman yang potensial sudah perlu diremajakan. Dalam hal ini, tanaman yang potensial untuk diremajakan adalah tanaman yang sudah umurnya lebih dari 25 tahun. Dengan pendekatan ini, maka potensi peremajaan pada tahun 2003-2010 adalah seperti disajikan pada Gambar 6.


Secara umum, potensi peremajaan adalah berkisar antara 20000-50000 ha per tahun. Pada tahun 2003-2004, potensi areal untuk peremajaan adalah sekitar 20 ribu ha per tahun. Pada tahun 2005, potensi areal peremajaan meningkat menjadi sekitar 30 ribu ha. Potensi areal peremajaan meningkat cukup pesat pada tahun 2009 dan 2010 yang masing-masing mencapai sekitar 50 ribu dan 37 ribu ha. Dengan demikian, kebutuhanan dana investasi berkisar antara Rp 300 – Rp 750 miliar per tahun, sedangkan benih yang dibutuhkan berkisar antara 4 - 10 juta benih per tahun.
Potensi areal yang potensial untuk diremajakan terutama berada di lima propinsi utama (Tabel 3). Potensi areal terluas untuk peremajaan berada di Sumatera Utara yang mempunyai pangsa sekitar 33.2% dari areal yang potensial untuk diremajakan. Pada propinsi tersebut, areal peremajaan berkisar antara 6644 ha sampai dengan 16609 ha per tahun. Propinsi Riau merupakan daerah potensial terbesar kedua dengan pangsa sekitar 25.7% atau dengan potensi antara 5144 ha – 12860 ha per tahun. Sumatera Selatan, kalimantan Barat, dan Aceh merupakan daerah yang juga cukup potensial dengan pangsa diatas 7% dari potensi peremajaan secara nasional.
Tabel 3. Potensi Peremajaan Kelapa Sawit di Beberapa Propinsi
Propinsi Pangsa (%) Areal Peremajaan (ha)
Sumatera Utara 33.2 6644 – 16609
Riau 25.7 5144 – 12860
Sumatera Selatan 12.6 2520 – 6300
Kalimantan Barat 10.4 2080 – 5200
Aceh 8.0 1600 – 4000
Lainnya 10.1 2013 – 5031
Jika kedua peluang investasi digabungkan, maka setiap tahunnya diperlukan pembangunan kebun (perluasan dan peremajaan) rata-rata sekitar 117 000 ha per tahun. Untuk itu, dana investasi yang diperlukan rata-rata sekitar 1.7 triliun per tahun. Dari segi benih, kebutuhan benih diperkirakan sekitar 23 juta benih per tahun, Dengan perhitungan tersebut, maka luas areal kelapa sawit pada tahun 2005 dan 2010 masing-masing adalah 3.744 juta ha dan 4.424 juta ha.
Jika hal tersebut dapat diwujudkan, potensi produksi berdasarkan kom-posisi tanaman berdasarkan umur (vintage tanaman) adalah seperti Gambar 7. Pada periode 2000-2005, laju peningkatan produksi diperkirakan sekitar 7.6% per tahun, sehingga produksi CPO pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 10.20 juta ton. Laju pertumbuhan produksi menurun pada periode 2005-2010 dengan laju sekitar 2.7% per tahun yang menyebabkan produksi CPO Indonesia men-capai 11.64 juta ton. Secara umum, peningkatan produksi untuk periode 2000-2010 adalah 5.1% per tahun. Pada tahun 2010, pangsa produksi perkebunan rakyat¸ PTPN, dan perkebunan besar swasta masing-masing menjadi 25.9%, 20.0%, dan 53.1%.

Setalah mengalami masa keemasan sampai dengan pertengahan tahun 1990-an, bisnis kelapa sawit mengalami penurunan kinerja, khususnya dari aspek investasi. Berbagai faktor internal dan eksternal telah menimbulkan persepsi bahwa peluang investasi di bisnis tersebut mulai menurun. Namun demikian, peluang investasi sebenarnya masih cukup terbuka dengan deskripsi sebagai berikut:
* Pasar CPO di pasar internasional masih prospektif walau peluang peningkatan lebih kecil dari pada periode sebelumnya. Peluang pasar dari sisi konsumsi diperkirakan masih tumbuh sekitar 3.5%-4.5% per tahun, sedangkan dari segi perdagangan sekitar 3.8% per tahun.? Sampai dengan tahun 2010, peluang pasar untuk CPO Indonesia dari sisi konsumsi domestik diperkirakan tumbuh antara 4%-6% per tahun, sedangkan dari sisi ekspor adalah sekitar 5%-8% per tahun.
* Dengan peluang pasar tersebut, peluang investasi dari sisi perluasan areal diperkirakan berkisar antara 74000-117000 ha per tahun, dengan kebu-tuhan dana investasi berkisar antara 1.1-1.7 triliun per tahun. Kebutuhan benih untuk mendukung hal tersebut berkisar antara 14.8 – 23.5 juta benih per tahun.
* Dari sisi peremajaan, peluang invetasi adalah berkisar antara 20000-50000 ha per tahun dengan kebutuhan investasi berkisar antara Rp 300 – Rp 75 miliar per tahun. Benih yang dibutuhkan berkisar antara 4 - 10 juta benih per tahun.
Prospek Kelapa Sawit
a. Harga
Hingga tahun 2008, harga minyak sawit di pasar Rotterdan diperkirakan akan mengalami kenaikan walaupun secara riil akan mengalami sedikit penurunan karena adanya kenaikan inflasi. Pada tahun 2004, harga minyak sawit di Rotterdam sekitar US$ 0.56/kg dan pada tahun 2008 mencapai US$ 0.68/kg (Gambar 2). Kenaikan harga ini diperkirakan tidak terlepas dari berkembangnya pasar minyak sawit, terutama di negara-negara berkembang. Dengan kata lain, minyak sawit masih mempunyai prospek kedepan.

b. Ekspor
Meskipun hingga tahun 2008 ekspor CPO Indonesia meningkat dengan laju 5.22% per tahun, Malaysia masih tetap unggul dibandingkan Indonesia. Ekspor Indonesia dan Malaysia pada tahun 2004 masing-masing 4.57 juta dan 5.6 juta ton menjadi 5.61 juta dan 8.78 juta ton pada tahun 2008. Dalam periode di tersebut, Indonesia akan menguasai 33.32%, sedangkan Malaysia menguasai 56.90% dari total ekspor dunia.
Pertumbuhan tersebut dapat dicapai jika Indonesia mengalami peningkatan produktivitas menjadi rata-rata sekitar 5.51 ton CPO/ha/tahun hingga tahun 2008. Dengan kondisi pertanaman yang ada, Indonesia masih memiliki kemungkinan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi.

c. Pengembangan Produk
Pengembangan produk kelapa sawit diperoleh dari produk utama, yaitu minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit, serta produk sampingan yang berasal dari limbah. Beberapa produk yang dihasilkan dari pengembangan minyak sawit diantaranya adalah minyak goreng, produk-produk oleokimia, seperti fatty acid, fatty alkohol, glycerine, metalic soap, stearic acid, methyl ester, dan stearin. Perkembangan industri oleokimia dasar merangsang pertumbuhan industri barang
konsumen seperti deterjen, sabun, dan kosmetika. Sedangkan produk-produk yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah diantaranya adalah pupuk organik, kompos, dan kalium serta serat yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit, arang aktif dari tempurung buah, pulp kertas yang berasal dari batang dan tandan sawit, perabot dan papan partikel dari batang, dan pakan ternak dari batang pelepah, serta pupuk organik dari limbah cair dari proses produksi minyak sawit.

c. Potensi Kelapa Sawit
1. Kesesuaian dan ketersediaan lahan
Pengembangan tanaman kelapa sawit telah dilakukan secara luas di Indonesia baik di kawasan barat maupun di kawasan timur Indonesia. Potensi lahan yang tersedia untuk pengembangan kelapa sawit umumnya cukup bervariasi, yaitu lahan berpotensi tinggi, lahan berpotensi sedang, dan lahan yang berpotensi rendah.
Lahan berpotensi tinggi adalah lahan yang memiliki Kelas Kesesuaian Lahan (KKL) untuk kelapa sawit tergolong sesuai (>75%) dan sesuai bersyarat (<25%). Lahan berpotensi sedang memiliki KKL tergolong sesuai (25-50%) dan sesuai bersyarat (50-75%), sementara lahanberpotensi rendah memiliki KKL tergolong sesuai bersyarat (50-75%) dan tidak sesuai (25-50%). Penyebaran areal yang berpotensi untuk pengembangan kelapa sawit tersebut umumnya terdapat di propinsi NAD (454.468 ha), Sumatera Utara (285.652 ha), Sumatera Barat (47.796 ha), Riau (1.557.863 ha), Jambi (511.433 ha), Sumatera Selatan (1.350.275 ha), Kalimantan Barat (1.252.371 ha), Kalimantan Tengah (1.401.236 ha), Kalimantan Timur (2.830.015 ha), Kalimantan Selatan (965.544 ha), Irian Jaya (1.511.276 ha), dan Sulawesi Tengah (215.728 ha).
Pada saat ini areal berpotensi tinggi sudah terbatas ketersediaannya, dan areal yang masih cukup tersedia dan berpeluang untuk dikembangkan adalah yang berpotensi sedang – rendah. Areal berpotensi rendah – sedang tersebut memiliki faktor pembatas untuk pengembangan kelapa sawit yang meliputi:
• Faktor iklim yaitu jumlah bulan kering yang berkisar 2-3 bulan/tahun yang menggambarkan penyebaran curah hujan yang tidak merata dalam setahun.
• Topografi areal yang berbukit-bergunung dengan kelerengan 25 – 40% (areal dengan kemiringan lereng di atas 40% tidak disarankan untuk pengembangan tanaman kelapa sawit).
• Kedalaman efektif tanah yang dangkal, terutama pada daerah dengan jenis tanah yang memiliki kandungan batuan yang tinggi dan kondisi drainase kurang baik.
• Lahan gambut.
• Drainase yang jelek pada dataran pasang surut, dataran aluvium, dan lahan gambut.
• Potensi tanah sulfat masam pada daerah dataran pasang surut.

2. Produktivitas
Produktivitas PBN, PR dan PBS hingga tahun 2008 ke depan masing-masing meningkat dari 4.79, 3.18 dan 3.21 ton CPO/ha/tahun tahun 2004 menjadi 5.23, 3.69 dan 3.28 ton CPO/ha/tahun. Artinya, produktivitas PR diproyeksikan akan mengalami peningkatann terbesar diikuti dengan PBN. Meskipun mengalami peningkatan, tingkat produktivitas ketiga jenis perkebunan di atas masih berada dibawah potensi produktivitas 8 ton CPO/ha/tahun, dan produktivitas yang dicapai perkebunan kelapa sawit Malaysia, yaitu antara 6-7 ton
CPO/ha/tahun.
Hal ini mengisyaratkan bahwa peluang untuk meningkatkan produktivitas kebun berbagai jenis pengusahaan masih ada, sehingga gerakan peningkatan produktivitas nasional harus menjadi tema penting dalam pengembangan kelapa sawit ke depan. Penggunaan bibit unggul dalam penanaman baru, dan peningkatan intensitas pemeliharaan menjadi kunci sukses program peningkatan produktivitas.

3. Pengembangan Industri
Produk-produk yang dapat dihasilkan dari minyak sawit sangat luas dengan intensitas modal dan teknologi yang bervariasi. Produksi CPO Indonesia yang diolah di dalam negeri sebagian besar masih dalam bentuk produk antara seperti RBD palm oil, stearin dan olein, yang nilai tambahnya tidak begitu besar dan baru sebagian kecil yang diolah menjadi produk-produk oleokimia dengan nilai tambah yang cukup tinggi.

a. Industri Minyak Makan
Industri fraksinasi/rafinasi menghasilkan nilai tambah yang relatif kecil tetapi kapasitas terpasang industri ini sudah terlalu besar. Disisi lain, tahapan fraksinasi/rafinasi harus dilakukan dalam industri minyak makan. Nilai tambah yang diperoleh dari perdagangan eceran (retail) minyak makan cukup besar. Oleh karena itu pengembangan industri ini perlu diarahkan kepada usaha retail minyak makan baik untuk pasar dalam negeri maupun untuk pasar luar negeri. Untuk itu dibutuhkan kebijakan pemerintah yang terpadu dalam pengembangan minyak goreng/makan (edible oil).

b. Industri Oleokimia
Industri oleokimia dasar masih relatif kecil padahal nilai tambahnya cukup besar. Penggunaan minyak/lemak dalam industri oleokimia dunia hanya sekitar 6% dari total produksi minyak/lemak dunia. Namun, industri oleokimia berkembang dengan sangat pesat terutama di Malaysia. Produksi oleokimia dasar dalam 1970-1995 meningkat dari 2,5 juta ton menjadi 5 juta ton dan diperkirakan menjadi 6 juta ton pada 2000. Produksi Malaysia pada tahun 1995 adalah 1,792 juta ton sedangkan Indonesia baru 652 ribu ton/tahun. Segmen pasar oleokimia akan berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi oleokimia dan kesadaran masyarakat akan lingkungan serta semakin langkanya petrokimia. Teknologi untuk membuat berbagai produk oleokimia sudah ditemukan tetapi belum layak dikembangkan karena belum adanya insentif untuk produk-produk yang ramah lingkungan.

d. Arah Pengembangan
Dengan potensi dan kemungkinan pengembangannya, maka pengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan mengarah pada pengembangan kawasan industry masyarakat perkebunan melalui pemberdayaan di hulu, dan penguatan di hilir.
Pengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan tidak terlepas dari:
• Pengembangan sistem dan usaha agribisnis berbasis kelapa sawit,
• Mendorong pengembangan pasar modal yang memungkinkan petani sebagai pemegang saham perusahaan,
• Pengembangan inovasi teknologi dan kelembagaan,
• Pengembangan keseimbangan perdagangan domestik dan internasional,
• Pengembangan investasi kebun lengkap dengan pengolahan minyak sawit
• Mendorong pengembangan industri hilir kelapa sawit.

Dalam kaitan dengan pengembangan wilayah, pengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan tetap berorientasi di sentra-sentra produksi kelapa sawit saat ini, yaitu Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Pemerintah mentargetkan luas areal kelapa sawit dari tahun 2005 hingga 2010 secara berurutan 5,025,094 ha, 5,075,345 ha, 5,126,099 ha, 5,177,360 ha, 5,229,133 ha, dan 5,281,425 ha. Dengan kata lain, kenaikan luas areal tiap tahun dari tahun 2005 hingga tahun 2010 secara berurutan adalah 50,251 ha, 50,754 ha, 51,262 ha, 51,773 ha, dan 52,292 ha.
DAN SASARAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Penawaran dan permintaan produk kelapa sawit
Berbagai jenis minyak nabati dan lemak yang ada di pasaran dunia mempunyai sifat yang dapat saling menggantikan (barang substitusi). Oleh karenanya, penawaran dan permintaan produk kelapa sawit harus dibicarakan dalam konteks ekonomi minyak nabati dan lemak dunia.
1. Permintaan dan konsumsi domestic
Kondisi konsumsi domestic yang tinggi merupakan salah satu factor pendorong untuk meningkatkan produktivitas. Konsumsi domestic MKS dan IKS terutama didorong permintaan turunan (derived demand) dari permintaan minyak goreng yang merupakan permintaan utama (primary demand) terhadap permintaan konsumen rumah tangga dan industry hilir.
Permintaan konsumsi minyak makan dunia terus meningkat karena dipengaruhi oleh pertambahan penduduk dan pertumbuhan GDP per kapita penduduk dunia yang juga semakin meningkat. Berdasarkan perkiraan jumlah penduduk Indonesia than 2004 (222,61 juta) dan tahun 1995 (225,31 juta) dengan masing-masing konsumsi minyak dan lemak nabati sebanyak 17,70 dan 18,20 kg perkapita/tahun maka kebutuhan minyak dan lemak nabati di dalam negeri pada tahun 2004 dan 2005 masing-masing 3,94 juta ton dan 4,10 juta ton. Kebutuhan minyak goreng ini sebenarnya dapat dipenuhi dari produksi minyak dan lemak nabati dalam negeri yang diolah dari bahan MKS serta 16 jenis minyak dan lemak nabati lainnya. Adapun produksi beberapa jenis minyak nabati dan lemak hewani dalam negeri disajikan dalam tabel 1.
Dari tabel 1 dapat disimpulkan bahwa kebutuhan minyak goreng dalam negeri dapat dipenuhi dari pasokan MKS serta minyak nabti dan lemak hewani dalam negeri. Namun, adanya peningkatan kontribusi MKS terhadap produksi minyak goreng dunia akan menyebabkan peningkatan permintaan MKS di pasar internasional. Menurut hasil survei, meningkatnya penggunaan minyak goreng eks-MKS- karena memiliki keunggulan teknis dari minyak kelapa yaitu kecenderungan berasap yang lebih rendah, mempunyai sifat pembakaran yang lebih baik untuk kue dan roti, serta menyebabkan tingkat perkaratan pada kuali yang lebih rendah. Satu-satunya kelemahan minyak goreng eks-MKS yaitu minyak cenderung cepat berbau. Namun, hal ini dapat diatasi dengan penambahan bahan tambahan makanan (BTM) kedalam produk yang telah diolah.
Konsumsi minyak goreng sebagai sumber kalori bangsa Indonesia baru mencapai sekitar 18%. Padahal, jumlah ideal yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan pangan yang dipolakan dalam pola pangan harapan (PPH) sekitar 20-30%. Berdasarkan kondisi ini, permintaan minyak goreng eks-MKS untuk kebutuhan ekspor maupun dalam negeri diperkirakan akan terus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan industrri hilir pengolahan MKS dalam negeri pada tahun 2004 saja diperlukan lebih kurang 12,17 jta ton MKS (liat tabel 2). Dari tabel 2 dapat diartikan bahwa jika seluruh industri hilir beroperasi dengan kapasitas penuh, permintaan MKS dalam negeri hampir setara dengan produksi MKS Indonesia pada tahun 2005 yaitu, 12,80 juta ton. Dengan demikian, upaya peningkatan produksi MKS didalam negeri harus terus dipacu untuk memenuhi kebutuhan industri hilir. Jika tidak terpenuhi, terpaksa harus membuka keran import MKS dari luar negeri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi volume permintaan MKS di pasar domestik dan dunia sebagai berikut .
a) Pertambahan penduduk dan pertumbuhan gross domestic product (GDP)
b) Kepentingan politik masing-masing negara
c) Letak geografis suatu negara dan biaya transportasi MKS ke negara tersebut
d) Akses informasi
e) Tingkat substitusi produk

a. Pertambahan penduduk dan peningkatan GDP
Menurut proyeksi Oli World , pertambahan penduduk pada kurun waktu 2000-2005 sebesar 1,06 % per tahun, sedangkan GDP dunia akan tumbuh dengan rata-rata 5,91% per tahun. Peningkatan GDP akan meningkatkan pertumbuhan konsumsi minyak dan lemak nabati dunia pada tahun 2005 menjadi 20,97 kg. Dengan demikian, pertumbuhan konsumsi minyak dan lemak nabati dunia meningkat dengan rata-rata 2,05% per tahun serta konsumsi total minyak dan lemak nabati dunia pada tahun 2005 menjadi 135,39 juta ton.

Peningkatan konsumsi minya nabati dan lemak hewani dunia akan meningkatkan permintaan MKS. Konsumsi MKS/kapita/tahun (2000-2005) tumbuh rata-rata 7,83% per tahun sehingga meningkatkan konsumsi MKS/kapita dunia dari 3,57 kg pada tahun 2000 menjadi 4,94 kg pada tahun 2005 akan mencapai 31,86 juta ton dan pangsa pasar MKS dunia terhadap minyak nabati dan lemak hewani dunia pada tahun 2005 diproyeksikan mencapai 23,53%.
Pengaruh pertambahan penduduk dan peningkatan GDP terhadap konsumsi MKS disajikan pada gambar 3.
b. Kepentingan politik masing-masing negara
Negara konsumen MKS yang sekaligus juga merupakan produsen MKS atau produk substitusi minyak nabati dan lemak hewan lainnya mempunyai kepentingan politik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rakyat dan melindungi produk dalam negeri. Banyak kebijakan dan tindakan yang dilakukan secara transparan maupun sembunyi-sembunyi untuk kepentingan negara tersebut.
Kepentingan polotik negara-negara tersebut tercermin dari adanya beberapa perlakuan yang merupakan praktik perdagangan dengan halangan maupun nontarif. Adapun kepentingan politik masing-masing negara sebagai berikut:
• Negara-negara Eropa (UE 25) melakukan subsidi bagi produk minyak canola dalam negeri dan kampanye negatif terhadap MKS-perusahaan hutan hujan tropis, kepunahan orang hutan, dan lain-lain.
• India dan Cina menetapkan bea masuk yang tinggi untuk melindungi produk minyak nabati dalam negeri.
• Adanya kampanye anti-MKS yang dilakukan oleh American Soybean Association (ASA) yang menjurus pada tindakan diskriminatif dan penyebaran informasi yang menyesatkan.
Kesepakatan putaran Urugay yang membidani terbentuknya World Trade Organization (WTO) sebagai badan tertinggi yang mengurus liberalisasi pasr dunia pasca GTT menghendaki adanya perdagangan bebas bagi produk pertanian dan produk olahannya dengan menghapuskan praktek proteksinya.
Kesepakatan pembentukana WTO untuk melakukan liberalisasi pasar produk pertanian selalu sukar tercapai karena adanya perbedaan kepentingan dan fase-fase pembangunan di negara-negara berkembang, bahkan di negara industri maju seperti Jepang, Amerika Serikat dan Perancis. Komoditi pertanian secara makro sangat rentan dan bernilai politisi tinggi sehingga kestabilan suatu pemerintahan di negara berkembang sangat dipengaruhi oleh harga bahan pangan. Sebaliknya, di negara industri maju seperti Jepang praktek pertanian biaya tinggi tetap dipertahankan untuk menghasilkan bahan makanan domestik dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pangan terhadap negara lain demi alasan ketahanan pangan nasional.
Kesepakatan tenggang waktu WTO untuk melakukan liberalisasi perdagangan bebas telah ditentukan, yaitu paling lambat pada tahun 2020. Peluang untuk memperbesar pangsa pasar bagi produk MKS dan hasil olahannya akan semakin terbuka karena harga pokok penjualan MKS yang lebih kompetitif dari minyak nabati lainnya, khususnya ke negara-negara yang selama ini telah melaksanakan praktek proteksi seperti di Eropa Barat, Amerika serikat, India dan Cina.
c. Letak geografis dan biaya transportasi
Letak geografis akan mempengaruhi biaya transportasi. Jarak yang jauh akan menyebabkan penambahan biaya pengiriman dan asuransi sehingga meningkatkan harga pokok penjualan. Biaya transportasi pada produk MKS dan MIKS dari Afrika akan lebih murah bila di kirim ke Eropa daripada dari Malaysia atau Indonesia.
Apabila harga pokok untuk menghasilkan MKS/MIKS diasi numsikan sama maka penambahan biaya transportasi yang lebih mahal dapat menurunkan volume permintaan pasar disuatu negara konsumen. Untuk menyiasati faktor biaya transportasi tersebut, produsen harus melakukan efesiensi kerja mulai dari lini bawah (kebun), lini tengah (pabrik), sampai lini akhir (pegiriman dan penyimpanan). Dengan demikian, harga pokok penjualan dapat ditekan dan tetap kompetitf bila dibandingkan dengan harga pokok penjualan negara produsen MKS lain yang letak geografisnya lebih dekat kenegara konsumen tersebut.
Konsep daerah pemasaran tradisional MKS untuk beberapa negara misalnya negara MEE merupakan pasar tradisional bagi indonesia, tidak memperlihatkan adanya keterkaitan bila ditinjau dari biaya transportasi. Namun, hal ini lebih merupakan “ikatan emosional” praktik perdagangan MKS yang telah dilakukan sejak zaman hindia belanda melalui pelabuhan Rotterdam sebagai pintu masuk ke negara MEE lainnya.
d. Akses informasi
Kondisi dunia yang semakin global dan kebebasan informasi karena kemajuan teknologi, kemudahan untuk mengakses pertukaran iformasi oleh produusen dan konsumen akan meningkatkan volume transaksi MKS dan IKS. Konsumen dengan cepat dapat mengetahui jumlah dan harga yang ditawarkan oleh produsen, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, kedua belah pihak dapat dengan cepat menyelesaikan transaksi. Adanya bursa komoditi berjangka merupakan salah satu contoh kemudahan akses informasi yang meningkatkan nilai kapitalisasi pasar. Bursa komoditi berjangka di Indonesia (jakarta) sebagai alternatif pelengkap bursa komoditi berjangka di malaysia (Kuala Lumpur) dan Chicago harus digalakkan karena posisi Indonesia sebagai pemasok MKs tersbesar kedua didunia harus diantisipasi sejak dini. Indeks MKS dan olien harus diposisikan sebagai komplemen dari MDEX (indeks bursa berjangka malaysia).
e. Tingkat subtitusi produk.
Tingkat subtitusi produk dapat mempengaruhi permintaan MKS dunia. Teknologi yang semakin maju melalui praktek bioteknologi telah semakin mengaburkan “batas-batas” antara produk minyak dan lemak nabati. Salah satu keunggulan ioteknologi yaitu kemampuannya untuk meningkatkan sifat tukar menukar (interchangeable, subtitusi) bahan mentah untuk menghasilkan produk akhir yang kurang lebih bersifat sama. Pada kondisi ini, produk-produk perkebunan, seperti MKS/MIKS, biji coklat, dan lain-lain, tidak lagi menjadi bahan mentah pada industri pada masa sekarang yaitu, senyawa-senyawa yang dulunya ada didalam produk tersebut seperti minyak ,lemak,protein dan pati.
Interchangeable produk berarti juga interchangeable produsen. Pemakai (user) bahan mentah mempunyai lebih banyak pilihan sesuai dengan harga pasar dunia, kekuatan teknologi yang dimiliki,serta keadaan politik dinegara produsen komoditi.
Kecenderungan pertumbuhan produksi MKS dan MIKS menunjukan penambahan pangsa pasar dari 19,12 % pada tahun 2000 menjadi 23,53 % pada tahun 2005 (naik 4,41 %). Sementara totalitas minyak kedelai, minyak nabati lainnya, serta 4 jenis lemak hewani menurun 4,29 %. Dengan demikian, minyak sawit secara progesif telah memakan pangsa pasar minyak nabati dan lemak dunia pada periode 2000-2005. Peningkatan pangsa pasar yang spektakuler tersebut terutama disebabkan oleh struktur biaya pokok penjualan minyak sawit yang lebih rendah dari pada harga minyak nabati dan lemak hewani sebagai kompetitornya.
Negara konsemen minyak sawit berjumlah lebih dari 133 negara didunia dengan konsumen terbesar berada di eropa dan asia. Secara fokus, aktivitas pemasaran MKS/MIKS indonesia sebaiknya diarahkan pada negara-negara asia pasifik yang meliputi hampir setengah penduduk dunia dengan rata-rata pertumbuhan GDP tertenggi didunia pada kondisi beberapa tahun terakhir ini. Selain itu, pengalihan sebagian ekspor dari pasar tradisional (Eropa) ke asia pasifik merupakan antisipasi terhadap jenuhnya pasar karena konsumsi minyak perkapita di eropa sudah sangat tinggi, sedangkan laju pertambahan penduduk dan GDP nya relatif menurun.
2. Penawaran dan produksi
Konsumsi domestik yang tinggi merupakan salah satu faktor yang mendorong peningkatan produktifitas. Dalam kasus minyak sawit, indonesia merupakan negara produsen kedua terbesar di dunia, sekaligus sebagai negara terbesar didunia. Pada tahun 2005 konsumsi MKS indonesia sebesar 3,44 juta ton atau 10,8 % dari konsumsi MKS dunia. Dengan demikian 27,32 % dari produksi indonesia dikonsumsi sendiri.
Keseimbangan penawaran dan permintaan MKS indonesia menunjukan peran indonesia yang semakin dominan sebagai negara yang mempengaruhi pola penawaran dan permintaan MKS dunia. Dari produksi MKS dunia tahun 2005 sebesar 32,5 juta ton, indonesia merupakan negara produsen nomor dua dengan produksi 12,6 juta ton (38,77% pangsa pasar ). Pada tahun 2008, indonesia diproyeksikan menjadi negara penghasil MKS terbesar melampaui produksi malaysia. Hal ini dinilai wajar bila memperhatikan laju pertumbuhan areal baru tanaman kelapa sawit yang diprioritaskan oleh pemerintah.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penawaran dan produksi minyak sawit dalam memenuhi permintaan konsumsi dunia yaitu 1) iklim, 2) luas lahan yang tersedia, 3) Ketersedian tenaga kerja, 4) Dukungan masing-masing negara, 5) Gerakan para pemerhati lingkungan, dan 6) pendaan investasi.
a. Iklim
Sebagaimana telah dipaparkan pada bagian sebelumya, luas dan penyebaran geografis areal kelapa sawit terkonsentrasi pada daerah tropis sepanjang garis katulistiwa. Dengan demikian, produksi perkebunan berupa MKS/MIKS akan terbatas pada daerah yang memiliki iklim tropis sehingga daerah surplus akan terkonsentrasi pada negara-negara produsen di daerah katulistiwa. Sementara, daerah defisit (konsumen) akan merata pada seluruh dunia yang membutuhkan produk ini. Daerah-daerah baru yang masih memungkinkan untuk mengembangkan komoditas kelapa sawit dan mempunyai prospek yang baik ditinjau dari segi iklim yaitu brazil, india, kamerun, zaire, dan ghana.
Esklusifitas negara produsen MKS/MIKS akan menyebabkan terbatasnya produk yang bisa ditambah kepasar dalam periode yang singkat sehingga pasokan MKS/MIKS relatif tidak akan begitu bergejolak. Selain itu, sebagi tanaman tahunan, kelapa sawit sangat tahan terhadap perubahaan lingkungan dan serangan hama penyakit. Dengan demikian, kesinambungan produksinya stabil dibandingkan dengan tanaman setahun penghasil minyak nabati lainnya. Seperti kedelai, jagung, canolah, bunga matahari, dan lain-lain.


b. Luas lahan yang tersedia
Selain iklim yang sesuai, pengembangan kebun kelapa sawit membutuhkan lahan yang luas dengan tingkat kesuburan tanah yang baik guna mencapai skala ekonomi. Lahan yang subur akan mencukupi sebagian unsur hara yang dibutuhkan tanaman dan mengurangi biaya pemakaian pupuk buatan yang dapat mencapai 60 % dari seluruh biaya perawatan tanaman,
Luas lahan yang tersedia dan dapat dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit merupakan faktor yang akan mempengaruhi pasokan MKS ke pasar. Skala usaha komersial perkebunan kelapa sawit yang memenuhi skala ekonomi yaitu luasan kebun sekitar 6000 ha per unit usaha sehingga biaya per satuan luas akan menjadi lebih kecil. Berdasarkan keunggulan sumber daya lahan yang dimiliki, negara produsen kelapa sawit yang sangat prospektif di masa datang yaitu Brasil, Indonesia, Colombia, Papua New Guinea, dan Kamerun.
c. Ketersediaan tenaga kerja
Strategi bisnis perkebunan yaitu mencapai skala ekonomi. Ciri usaha perkebunan kelapa sawit merupakan usaha yang padat karya. Industri pengolahan kelapa sawit bukan merupakan industri yang padat teknologi sehingga tidak menuntut perkembangan teknologi yang pesat. Sejak zaman Cultuur Stelsel sampai Orde Baru, praktik perkebunan tetap menggunakan teknologi yang sama, yaitu cangkul dan parang. Inovasi hanya terjadi pada sebagian pekerjaan yang memungkinkan untuk dilakukan praktik mekanisasi, seperti pemakaian gergaji rantai dan bulldozer untuk pembukaan lahan, penggunaan bahan kimia untuk pengendalian hama, penyakit dan gulma, serta penggunaan angkong dan traktor mini untuk pengangkutan TBS dari areal panen.


Dari karakteristik perkebunan yang padat karya ini, ketersediaan tenaga kerja yang melimpah dengan keahlian yang cukup dan murah merupakan faktor yang sangat menentukan tercapainya skala ekonomi bisnis perkebunan kelapa sawit. Negara-negara yang memiliki keunggulan tenaga kerja untuk sektor perkebunan yaitu India, Indonesia, Kamerun, Zaire, dan Ghana.
Posisi keunggulan tenaga kerja Indonesia semakin lama semakin melemah karena adanya kenaikan upah buruh yang tidak proporsional dengan kenaikan produktivitas kerja. Artinya, kenaikan upah buruh yang mengikuti formula COLA (Cost of Lining Adjustment) terlihat seakan-akan menjadi suatu kewajiban menjadi pengusaha, tanpa adanya imbal balik dari peningkatan produktivitas. Jika hal ini tidak ditangani dengan benar, keunggulan kompetitif tenaga kerja Indonesia akan semakin tergerus dan mengurangi daya saing produk MKS/MIKS di pasar internasional.
d. Dukungan Pemerintah Masing-Masing
Data mengenai dukungan pemerintah dari masing-masing negara terhadap industri minyak sawit masih diketahui secara mendalam. Kuantifikasi dukungan pemerintah tsb dapat dianaisis secara kasar dari data pertumbuhan luas areal perkebunan kelapa sawit di masing-masing negara produsen.
Total luas perkebunan kelapa sawit dunia pada tahun 1991 hanya 5,48 juta ha, sedangkan luas lahan yang tersedia diperkirakan dapat mencapai 145,64 juta ha. Malaysia memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar selus 2,38 juta ha yang merupakan 43,97% dari total perkebunan kelapa sawit dunia. Dengan demikian, sampat tahun 1991 hanya pemerintah Malaysia yang memberikan dukungan besar terhadap industri minyak sawitnya. Hal ini sangat jelas sekali dengan diberikannya kemudahan dan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran pada dasawarsa tahun 1970-an serta dibentuknya kelembagaan FELDA ( semacam PIR di Indonesia ).
Dukungan pemerintah Indonesia mulai dirasakan pengusaha perkebunan dengan diberikannya kesempatan kepada para pemilik pabrik minyak goreng untuk melakukan diversifikasi pembukaan kebun kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya pada dasawarsa tahun 1980-an. Kelapa sawit ditetapkan oleh Departemen Pertanian menjadi komoditas yang pengembangannya dipercepat serta diberikanya paket kredit likuiditas ( soft loan) oleh Bank Indonesia kepada perkebunan besar swasta nasional ( PBSN ) maupun perkebunan inti rakyat ( PIR ). Pertumubuhan areal perkebunan kelapa sawit Indonesia meningkat dengan tajam pada tahun 1980-an dan masih akan terus berlanjut sampai tahun 2000-an. Dukungan pemerintah juga diwujudkan dalam peraturan dalam perundang-undangan.
e. Gerakan Pemerhati Lingkungan
Gerakan para pemerhati lingkungan dapat menjadi faktor yang menghambat pertumbuhan produksi MKS. Seperti telah dipaparkan di atas, perkebunan kelapa sawit hanya dapat diusahan di daerah yang beriklim tropis. Biasanya, usaha untuk mengembangkan dilakukan dengan membuka lahan hutan yang tersedia.
Aksi dan kampanye para pemerhati lingkungan untuk menjaga kelestarian hutan hujan tropis dari penebangan secara besar-besaran dilakukan demi alasan melindungi bumi dari tragedi bencana yang hebat. Alasan mereka, dengan pembukaaan hutan serta proses pematangan tanah melalui pembakaran menyebabkan semakin besarnya lubang ozon diatas Antartika. Lobi yang dilakukan para pemerhati lingkungan ini secara nyata telah menggagalkan masuknya perusahaan kertas tissue scott dari Amerika Serikat. Untuk melakukan pembangunan pabrik pulp dengan Astra di Irian Jaya.
Fenomena lubang ozon sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh pembakaran hutan tropis saja, tetapi terutama sekali disebabkan oleh emisi gas CO dari pabrik-pabrik industri dan kendaraan bermotor di negara maju. Alasan memboikot penebangan hutan serta adanya ketentuan ecolabeling sebagai prasyarat perdagangan merupakan cermin arogansi Negara maju terhadap negara berkembang. Hal ini dikarenakan praktek industri perkayuan sampai sekarang masih berjalan secara legal di Kanada, Norwegia, negara-negara Skandinavia dan Siberia.
Kunci permasalahan sebenarnya yaitu adanya kartel Petrokimia yang menguasai dunia dewasa ini. Dalam hal ini, kartel industri menguasai teknologi bahan dasar bagi seluruh industri dan bahan bakar turunan minyak bumi. Kekhawatiran akan habisnya sumberdaya minyak bumi yang menjadi tulang punggung kartel petrokimia telah menyadarkan sebagian masyarakat untuk mengalihkan penggunaan bahan bakar dari minyak bumi manjadi bahan bakar dari sumber daya yang dapat terbaharui (renewable resources). Salah satu bahan bakar yang mempunyai prospek sangat bagus yaitu minyak nabati (Biodiesel dan Gasohol).
Penelitian intensif yang dilakukan di Indonesia dan Malaysia menyimpulkan bahwa MKS sangat potensial untuk dijadikan alternative bahan bakar diesel. Minyak nabati memiliki potensi yang sangat besar sebagai bahan bakar pengganti (fuel substitusi) maupun sebagai perluasan bahan bakar (fuel extender) untuk motor diesel. Begitu pentingnya masa depan minyak nabati sebagai pengganti BBM pada bulan januari 1995 PORIM (Palm oil Research Institute Of Malaysia) mengadakan suatu konferensi yang dihadiri oleh berbagai Negara, seperti Jerman, Italia, dan Indonesia. Pada konferensi tersebut, bahan bakar dalam bentuk methyl ester telah digunakan untuk kendaraan antar jemput peserta di bandara Kuala Lumpur.
Penggunaan MKS sebagai bahan bakar mesin diesel dilakukan melalui proses transesterfikasi. Transesterfikasi merupakan suatu cara untuk mendapatkan bentuk ester dari MKS dengan mereaksikannya dengan jenis alcohol dan dibantu dengan suatu katalis. Proses transesterfikasi MKS yaitu menggantikan Gliserol dari trigliserida (molekul MKS) dengan 3 molekul mono alcohol seperti Methanol. Sementara, katalis yang digunakan dapat berbentuk asam atau basa seperti H2SO4 atau KOH.
Kemungkinan, penggunaan minyak nabati (Oleokimia) untuk menggantikan penggunaan minyak bumi (petrokimia) akhirnya menimbulkan ancaman yang serius terhadap industry yang berbahan dasar petrokimia. Pergumulan antara kartel petrokimia melawan kartel Oleokimia nenjadi suatu pertandingan yang sarat dengan intrik, lobi, dan permainan kekuasaan dalam setiap forum internasional.
Hasil penelitial Dr. Syahrinuddin dari Cuvillier Verlag Gottingen pada tahun 2005 menyimpulkan bahwa penanaman kelapa sawit pada tanah marjinal dan terdegradasi merupakan cara efektif untuk membangun sumber karbon bumi. Penyimpanan karbon sampai dengan kedalaman 5 meter di perkebunan kelapa sawit Sumatera meningkat 2 kali lipat lading alang-alang. Perkebunan kelapa sawit memainkan peranan dalam emisi Co2 ke atmosfir. Bahkan, emisi gas oksigen diduga akan lebih banyak dihasilkan dari areal budidaya daripada areal alang-alang sehingga tuduhan pembukaan perkebunan akan mengakibatkan peningkatan efek rumah kaca hamper dikatakan tidak berpengaruh nyata. Sebaliknya penggunaan MKS sebagai bahan bakar mempunyai emisi gasbuang yang relative sedikit dibandingkan solar sehingga mengurangi polusi dan efek rumah kaca.
Keuntungan lainnya yaitu sifat fisika almiah MKS yang berupa cairan, kandungan energi (heat konten) hampir 88% solar, mempunyai bilangan setan (setane number) yang tinggi, mudah diperoleh, serta sumber BBM yang dapat diperbaharui. Dengan demikian, gerakan para pemerhati lingkungan dapat menghambat atau memacu produksi MKS tergantung pada kontek dan kerangka acuan yang digunakan untuk menanggapi aksi yang mereka lakukan. Hal ini dikarenakan gerakan ini juga bertujuan umtuk menyadarkan masyarakat dunia untuk tidak menggunakan minyak dan gas alam yang dapat mempercepat kerusakan bumi sehingga kesadaran masyarakat untuk menggunakan minyak nabati akan semakin tinggi. Semuanya memerlukan proses dan waktu. Dari keadaan status quo ini dapat disimpulkan bahwa permintaan minyak nabati akan meningkat, tetapi penawaran masih akan terbatas. Hal ini berarti sisi keuntungan bagi produsen MKS.
f. Pendanaan Investasi
Mengembangkan perkebunan kelapa sawit memerlukan dan investasi yang besar dan bersifat jangka panjang. Hal ini merupakan salah satu factor penghambat dalam upaya meningkatkan produksi minyak sawit dunia. Negara-negara afrika yang mempunyai prosfek baik dari segi iklim, Luas lahan, serta tenaga kerja yang tersedia seperti Nigeria, Pantai Gading, Kamerun, Zaere, dan Gana, ternyata belum dapat mengembangkan dan meningkatkan produksinya karena kesulitan pendanaan investasi.
Penanaman modal asing masih belum memberikan penyelesaian yang terbaik karena ketidakstabilan politis dinegara-negara afrika tersebut. Sementara, bisnis ini merupakan bisnis jangka panjang dengan siklus produksi 30 tahunan.

E. POLA PERDAGANGAN DAN MEKANISME HARGA
Minyak dan lemak nabati maupun hewani mempunyai sifat yang dapat saling menggantikan (interchangeable). Oleh karenanya, pola perdagangan produk minyak sawit (MKS/MIKS) harus dibahas dalam konteks ekonomi minyak dan lemak dunia secara totalitas.
Berdasarkan sumber dasarnya minyak dan lemak dapat digolongkan dalam 3 kategori yaitu, minyak nabati, lemak hewani, dan minyak ikan. Dalam setiap kategori baik minyak maupun lemak diklasifikasikan sebagai “bahan makanan” atau “bahan untuk industri”. Untuk kepentingan praktis, pembagian antara minyak dan lemak sebagai bahan makanan dan bahan industri tidak bersifat mutlak karena beberapa fraksi dari minyak bahan makanan dapat digunakan untuk industri, demikian juga sebaliknya.
Bagian terbesar dari perdagangan minyak dan lemak dunia dihasilakan dari produk biji-bijian. Ekstrak biji-bijian yang mengandung minyak akan menghasilkan minyak dan bungkil. Perbandingan antara jumlah minyak dan bungkil sangat bervariasi tergantung dari jenis tanamannya. Table 3
Pengolahan produ biji-bijian ini umumnya menghasilkan minyak sekitar 40% atau lebih. Ampas yang umumnya disebut bungkil atau cake merupakan produk samnpingan dengan nilai yang lebih rendah dari pada harga minyaknya. Kedelai merupakan suatu pengecualian karena bijinya mengandung 80% bungkil yang sangat sesui dengan pakan ternak sehingga harga bungkilnya lebih mahal dari harga minyaknya. Kedelai terutama dihasilkan untuk pakan ternak sehingga produksinya sangat tergantung pada permintaan pakan dalam hubungan dengan permintaan protein hewani.
Biji kapas merupakan produk sampingan dari produksi kapas sehingga produksinya sangat tergantung pada permintaan kapas. Dalam bagian ini “nilai ekuivalen minyak” merujuk kepada minyak dan perbandingan antara minyak dalam biji yang belum dip roses. Sementara, “nilai ekuivalen bungkil” merujuk pada bungkil dan perbandingan bungkil dalam biji yang belum diproses.



a. perkembangan pola perdagangan MKS Indonesia
Minyak kelapa sampai dengan 1970-an merupakan pemasok utama minyak goreng dalam negeri. Produksi kopra yang cenderung menurun menyebabkan tidak terjaminnya pasokan bahan baku bagi industri minyak goreng sehingga menimbulkan krisis minyak pada awal 1970-an. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah mengambil kebijakan dengan mengatur pemasaran minyak di dalam negeri, terutama pengaturan kerja dan pengaturan alokasi penggunaan produksi. Pada tahun 1978, pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penetapan harga dengan tujuan menjaga stabilitas harga minyak goreng pada tingkat konsumen, mendorong ekspor minyak nabati yang telah di proses, melindungi dan meningkatkan pendapatan petani kopra, serta menjamin keuntungan yang wajar bagi pabrik dan perkebunan.
Pengaturan alokasi produksi MKS dalam negeri diatur melalui surat keputusan bersama(SKB) 3 menteri, yaitu menteri pertanian, perindustrian, dan perdagangan nomor 275/KPB/XII/78 tanggal 16 Desember 1978 hal-hal sebagai berikut:
• Jumlah produksi dan rencana ekspor.
• Kapasitas dan kebutuhan masing-masing unit industri pengolahan lanjutan, seperti minyak goreng, sabun, dan lain-lain.
• Pengawasan penyaluran MKS ke industri pengolahan lanjutan.
• Harga ditetapkan oleh pemerintah.

Berdasarkan SKB 3 menteri tersebut, pengaturan alokasi produksi MKS berdasarkan penggunaan dan harganya ditetapkan sebagai berikut:
• Harga MKS untuk pembuatan minyak goreng ditetapkan di Belawan
• Harga MKS untuk operasi pasar berdasarkan minyak goreng dikurangi dengan biaya operasional.
• Harga MKS untuk industri hilir sama dengan harga ekspor FOB Belawan.
Alokasi keperluan MKS dalam negeri diatur oleh pemerintah melalui SK Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Nomor 22/DAGRI KP/T/83 yang merupakan perubahan dan penyesuaian SK yang pernah ditetapkan sebelumnya (1979), yaitu tentang pedoman dan petunjuk pelaksanaan teknis SKB 3 Menteri tentang Tataniaga Minyak Sawit Kebutuhan dalam Negeri.
SK tersebut antara lain mengatur alokasi MKS untuk masing-masing industri pengolahan MKS dalam waktu 6 bulan disesuaikan dengan jumlah MKS yang disediakan untuk kebuttuhan dalam negeri dan masing-masing industri yang bersangkutan seluruh alokasi MKS yang disediakan tidak boleh diperjualbelikan. Jumlah efektif MKS yang harus didistribusikan ke dalam negeri dan penetapan harganya diatur melalui SKB Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Pertanian, dan Menteri Perindustrian. Masing-masing Departemen sebagai berikut:
• Departemen Pertanian menyampaikan jumlah produksi dan rencana ekspor dari masing-masing produsen serta melakukan pengawasan penyaluran MKS kepada industri di dalam negeri.
• Departemen Perindustrian menyampaikan kapasitas dan kebutuhan masing-masing unit industri minyak goreng, sabun, dan industri lainnya serta melakukan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan industri penerima alokasi MKS.
• Berdasarkan kedua data tersebut, Menteri Perdagangan dan Koperasi bertugas menetapkan jumlah dan efektif MKS yang dilalokasikan untuk kebutuhan pengolahan MKS sekaligus menetapkan harganya.
Syarat-syarat penyerahan MKS dari produsen kepada industri dilaksanakan berdasarkan SK Dirjen Perdagangan Dalam Negeri yang pada pokoknya mengatur harga dan cara penyerahan MKS dari produsen kepada industri pengolah menurut lokasi industri masing-masing. MKS yang diperdagangkan berasal dari dua sumber, yaitu perkebunan negara (PNP/PTP) dan perkebunan swasta (PBSN/PBSA). Sesuai dengan kesepakatan PNP/ PTP, pemasaran MKS yang berasal dari PNP/PTP harus melalui kantor pemasaran bersama (KPB), baik untuk konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Kebutuhan dalam negeri, KPB bisa langsung menjual ke industri pengolahan melalui jatah alokasi yang ditetapkan. Untuk konsumen dalam negeri, pemasaran melalui broker lokal yang selanjutnya berhubungan dengan pemasaran di luar negeri, seperti Indoham yang menangani pemasaran di Hamburg dan New York. Pada periode selanjutnya, penjualan MKS tidak lagi melalui Indoham tetapi dapat langsung berhubungan dengan importir di luar negeri. Sementara, MKS dari perusahaan swasta, pemasaran untuk konsumen dalam negeri tetap hatus melalui KPB sedangkan untuk luar negeri dapat langsung berhubungan dengan importir atau agen luar negeri.
Kilas balik praktik perdagangan MKS di indonesia terjadi pada tahun 1991, dimana pemerintah melakukan deregulasi dengan Pakjun 1991(3 juni 1991) yang menghapus berbagai SKB 3 mentri sebelumnya. pada intinya, pakjum 1991 melonggarkan semua ketentuan tataniaga yang ada untuk memcu ekspor dan mendorong investasi minyak goreng di dalam negri. Berdasarkan pakjum 1991, peluang bagi pengusaha perkebunan untuk melakukan ekspor MKS semakin terbuka. Melalui deregulasi tersebut, harga perdagangan MKS dalam negeri tidak ditetapkan oleh pemerintah dan perdagangan MKS PBSN tidak melalui meknisme KPB lagi.
Liberalisasi perdagangan MKS indonesia pasca-pakjum 1991 dan kenaikan harga MKS dipasar internasional menyebabkan terjadinya kelangkaan MKS di dalam negeri. Oleh karenanya, pada akhir tahun 1994 pemerintah terpaksa mengeluarkan instrumen kebujaksanaan pajak ekspor (PE) untuk menjamin ketersediaan MKS di dalam negeri. Melalui SK mentri keuangan nomor 439/KMK.017/1994 tanggal31 agustus 1994, terhitung mulai 1 september 1994 pemerintah akan menerapkan PE terhadap MKS jika harga minyak goreng didalam negeri di atas Rp 1250,00/kg. Dengan cara demikian, secara tidak langsung telah terjadi export barrier agar persediaan MKS terjamin untuk memenuhi kebutuhan industri minyak goreng dalam negeri.
Untuk memenuhi kecukupan minyak goreng didalam negeri secara spesifik dalam jangka pendek, telah ditempuh tiga instrumen kebuksanaan secara berurutan , sebagai berikut.
• Menetapkan pajak ekspor secara berkala terhadap MKS.
• Merupakan buffer stock MKS di dalam negri dengan melibatkan partisipasi pihak swasta dan PTP.
• Jika langkah a) dan b) masih belum efektif maka akan dilakukan impor MKS.
Langkah koordinatif yang dilakukan pemerintah melui blog untuk memupuk buffer stock ditempuh dengan menetapkan jumalah cadangan penyangga MKS, sebesar 75.000 ton yang disediakan oleh pengusaha swasta yang memiliki lahan minimal 10.000 ha dan KPB/PTP masing-masing sebesar 50%. Cadangan penyangga ini akan diolah menjadi minyak goreng oleh pemerintah jika harga naik secara tajam. Melalui kerja sama dengan FAMNI (federasi asosiasi minyak dan lemak nabatiindonesia) dan GAPKI (gabungan pengusaha kelapa sawit indonesia), ada 10 perusahaan swasta yangikut berpartisipasi menunjang cadangan penyangga tersebut.
Dalam pengendalian harga minyak gereng ini, bulog sebagai koordinator telah meminta kesediaan pihak swasta untuk sementara waktu “merelakan” kehilangan opportunity cost ( income foregone) rata-rata sekitar RP 152,OO/kg MKS akibat kerugian tidak mengekspor dengan harga yang lebih menguntungkan. Kebijaksanaan ini hendaknya dilihat dalam konteks kepedulian nasional para pengusaha perekbunan dengan motif membantu pemerintah meredakan gejolak harga minyak goreng yang minyak goreng yang akan berdampak secara nyata terhadap inflasi. Pada gilirannya, kondisi tersebut akan mempengaruhi perusahaan itu sendiri.
Saat ini, rantai tataniaga MKS dan IKS telah dihapuskan. Setiap perusahaan perkebunan swasta bebas melakukan penjualan prodaknya sendiri-sendiri tanpa melalui Kantor Pemasaran Bersama. Saluran, mekanisme pemasaran MKS perkebunan Negara tetap melalui Kantor Pemasaran bersama sesui Surat Keputusan Direksi seluruh PTPN. Penentuan harga dilakukan dengan sistem lelang yang dilakukan 2 kali seminggu.
Dengan melakukan penjualan langsung keluar negri (destination sales), sebagian pemasaran akan berinteraksi denagan dinamika pasar dinegara tujuan. Denagn demikian mereka akan lebih mengetahuia apa yang sedang atau yang akan terjadi di pasar dan dapat memperkirakan harga yang opptimum untuk penjualan forward (penyeraha dimasa yang akan datang). Kejelian bagian pemsaran membaca tanda-tanda pasar akan sangat memntukan keuntungan perusahaan karena diskriminan keuangan bisnis MKS sangat ditentukan oleh faktor ditentukan oleh faktor hagra jual..


b. prospek pemsaran.
Prospek pemasaran MKS sangat cerah karena tekanan permintaan terhadap minyak goreng yang berasal dari MKS terus meningkat karena meningkatnya jumlah penduduk dan GDP dunia. Di samping itu, prospek pemsaran MKS juga dipenguruhi pesatnya perkembangan industri yang berbasis bahan baku produk kelapa sawit.
Fluktuasi harga MKS pada saat ini lebih banyak disebakan oleh goncannya pasokan (supply stock) yang disesabkan oleh faktor internal(ganngguan produksi MKS dan kopra di dalam negeri) serta faktor eksternal berupa tarikan harga pasaran dunia yan tinggi sehingga merangsang ekspor MKS dalam jumlah besar. Pembentukan harga MKS sangat ditentukan oleh situasi perdagangan di luar negeri. Analisis kenaikan harga MKS di pasar dunia biasanya diakibatkan oleh isu jelek yang mengkibatkan gagalnya panen komoditi lainya seperti kedelai, bunga matahari, dan kanola. Naiknya harag MKS terutama disebkan oleh berkurangnya pasokan minyak nabati lainnya.
Simulasi pengaruh iklim yang semuala dianggap akan menggalkan panen komoditi tertentu di suatu negara pada pertengahan tahun tertentu membuat para trader berspekulasi bahwa negara itu akan membuka tender MKS. Jika ternyata gangguannya tidak terlalu parah sehingga negara itu akan membatalkan rencana pembelian maka harga MKS akan bergerak turun. Situasi bullish atau over bought (pasar diserbu pembeli karena hagra diperkirakan naik) pad bursa komoditi berjangka biasanya dipicu oleh adanya informasi atau prediksi tentang kegagalan panen (berkurangnya pasokan) komoditas subtitusi MKS yang berisfat tanamah setahun yang sangat rentan terhadap iklim.
Dengan melihat kecenderungan pasar serat pertimabngan faktor penawaran dan permintaan maka prospek pemasaran MKS dalam dua dasawarsa mendatang akan cenderung meningkat, sepanjang kondisi-kondisi yang mempengaruhi pembentukan harga dipengeruhi oleh mekanisme pasara secara bebas. Produsen MKS harus hati-hati untuk tidak tergoda pada pilihan MKS yang melebihi harga minyak nabati subsitusinya. Dengan demikian, akhirnya akan terjadi koreksi pasar dan bisa menurunkan harga MKS secara drastis.
Prospek pemasaran MKS di dalam negeri akan dipengeruhi oleh peran pemerintah dalam rangka pembangunan ekonomi merujik pada sistem ekonomi pasar. Secar umum, masa depan industri kelapa sawit dan produk olahannya dapat dirasakan sangat prospektif.



KELAPA SAWIT TAHUN 2005-2010

PROFIL USAHA KOMODITI MANGGA

by PUTRA SIAK  |  in Lingkup at  Senin, Oktober 31, 2011
1. Latar Belakang
Tanaman mangga di duga berasal dari India dan Ceylon pada tahun 4.000 tahun yang lalu. Tanaman ini kemudian tersebar luas keseluruh daerah tropika, termasuk Indonesia. Belum dapat di sebut dengan pasti apa ratus jumlah varietas manga yang tumbuh dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Yang pasti,di kebun mangga cukurgondang,probolinggo,jawa timur terdapat sekitar 224 tanaman ( varietas mangga ), belum termasuk tanaman variasi yang tumbuh dari biji.
Buah mangga merupakan buah musiman yang sangat di gemari, baik dalam negeri maupun di luar negeri. Rasanya yang lezat dank has sangat di sukai sehingga menduduki buah pilihan pertama yang di susul buah durian dan lengkeng.
Rasa buah mangga mulai dari yang enak di makan segar sampai buah yang hanya enak di makan setelah di olah. Buah mangga yang enak di makan sebagai buah segar dan memmunyai nilai ekonomi tinggi di antaranya mangga arum manis, gedong, golek, manalagi dan cengkir. Rasa buah mangga varietsnya unggul ddan tingkat ketuaan buhnya cuku, tetapi kalau bibit tanaman berasal dari biji maka rasa buahnya dapat menyimpang dari induknya.
Musim berbuah tanaman mangga bersamaaan dengan musim kemarau. Tanaman mangga berbunga 1,5 – 2 bulan sesudah kemarau di mulai dan buah matang 3 – 4 bulan kemudian. Bila musim kemaraunya lebih kering, hasil produksi akan lebih baik. Demikian daerah – daerah dengan musim kering yang panjang baik di gunakan untuk kebun mangga. Musim panen buah mangga umumnya jatuh pada bulan agustus – desember. Namun, di daerah jambi, Aceh , Sumatra utara, Sumatra barat, dan Sumatra selatan di luar bulan tersebut. Keadaan seperti itu menyebabkan buah mangga tersedia sepanjang tahun. Ketersediaan buah mangga sepanjang tahun dapat di usahakan juga dengan pembungaan buatan.
2. Manfaat buah mangga
Buah mangga mengandung beberapa zat gizi yang bermanfaat untuk perbaikan gizi masyarakat. Daging buah mangga yang berwarna merah oranye banyak mengandung vitamin A yang sangat di butuhkan tubuh. Tidak semua buah mangga mengandung vitamin A dengan jumlah yang sama. Kandungan vitamin A buah mangga berkisar antara 1.200 – 16.400 SI. Mangga dengan kandungan vitamin A tertinggi adalah mangga gedong ( 16.400 SI ). Selain vitamin A buah mangga juga mengandung vitamin c. kandungan vitamin C pada buah mangga berkisar antara 6 – 30 mg/100 g buah.
3. Varietas tanaman mangga
Terdapat banyak varietas mangga yang tumbuh di indonesiamaupun di Negara lain. Dari sekian banyak varietas tersebuut hanya beberapa saja yang komersial. Ciri – ciri tanaman mangga yang komersial, baik di Indonesia maupun di Negara lain adalah sebagai berikut :

A. Mangga komersial di indonesia
Buah mangga yang di tanam di idonesia varietasnya beragam mulia daribuah yang enak di makan segar maupun mangga rucah yang rasa buahnya enak hanya untuk produk olahan, seperti rujak atau asinan. Mangga untuk buah segar memmpunyai nilai ekonomis yang tinggi di bandingkan mangga rucah. Harga buah mangga untuk konsumsi buah segar dapat di pengaruhi oleh varietas, ukuran buah, dan penampakan.
Jenis jenis mangga yanmg mempunyai nilai ekonomis tinggi di antaranya mangga gedong, golek, manalagi dan cengkir. Sifat – sifat fisik buah mangga segar sebagai berikut :

a. Mangga arumanis
Buah mangga arumanis mempunyai cirri – cirri antara lain bentuknya jorong, letak tangkai di tengah, pangkal buah bulat miring, tidak atau erlekuk dangkal, pucuk buah runcing, dan berparuh sedikit. Berat buah 450 gram dengan ukuran ( 1,51 x 7,8 x 5,5 ) cm. Kulit buah tipis, halus, berlilin, bintik – bintik jarang, berwarna putih kehijauan. Pangkal buah berwarna kuning kecoklatansampai merah keunguan dan pucuknya berwarna hijaudaging buah masak berwarna kuning kemerahan, dagingnya tebal, berderat halus, harum, kandungan air banyak, dan rasanya manis. Bijinya tipis, berukuran ( 13,75 x 4,25 x 1,9 )cm, dan sebagian biji bersereat pendek. Kadar total padatan terlarut (TPT) 17,78%, keasaman 0,264%, nisbah/atau gula asam 67,37%, dan kadar air 80,3 %. Musim berbuahnya bulan agustus sampai desember.
b. Mangga manalagi 69 ( manalagi besar )
Buah mangga manalagi berbentuk jorong, letak tangkai miring, pangkal buah runcing sedikit berleher, pucuk buah bulat, tidak atau sedikit berlekuk. Berat buah 560 gram denga ukuran ( 16,1 x 8,2 x 7,3 )cm. Kulit buah tebal, halus, berlilin, binti – bintik jarang berwarna putih kehijauan, dan kemudian timbul titik – titik coklat di tengahnya. Warna kulit buah masak pada pangkalnya kuning dan pucuknya hijau. Warna buah masak kuning. Dagin buah masak tebal, berserat halus, air buah sedang, berarroma harum, dan rasanya manis segar. Biji buah kecil berukuran ( 14 x 4,6 x 2,2 )cm dan sebagian biji berserat pendek. Musim berbuahnya sekitar bulan agustus sampai desember. Mangga ini berasal dari pasuruan atau probolinggo.
c. Mangga manalagi kecil
Manalagi kecil sangat popular di masyarakat karena rasanya manis dan tersedia sepanjang tahun. Mangga ini sering kali berbuah di luar musim. Bentuknya hamper sama manalagi besar, tetapi kulitnya berbintik putih. Keistimewanya adalah meskipun belum matang, rasa buahnya manis segar. Bobot per buah sekitar 200 gram.
d. Mangga golek
Buah mangga golek berbentuk panjang, letak tangkal buah di tengah, pangkal dan pucuk buah runcing, tidak berlekuk, dan tidak berparuh. Berat rata – rata 512 gram dengan ukuran ( 16,7 x 7,9 x 6,2 ) cm. Kulit buah agak tebal, halus berlilin, binti – bintik sedang berwarna putih kehijauan. Warna kulit buah masak bagian pangkal kuning dan bagian pucuk hijau. Daging buahnya teebal, lunak, berserat halus, air buah sedang beraroma agak harum, dan rasanya manis. Bila terlalu masak, rasa buahnya kurang enak. Bijinya sedang berukuran ( 14,5 x 4,2 x 2,8 ) cm dan sebagian biji berserat pendek. Musim mangga pada bulan agustus sampai desember.
e. Mangga gedong biasa
Buah mangga gedong biasa berbentuk bulat, letak tangkai di tengah, pangkal buah miring, sedikit berlekuk, pucuk buah bulat dan sedikit pecah. Berat buah rata – rata 300 gram dan berukuran ( 9,4 x 7,4 x 6,1 ) cm. Kulit buah tebal, halus, berlilin, bintik – bintik agak jarang, dan berwarna putih kehijauan. Warna kulit buah masak dengan pangkal merah jingga dan pucuk merah kekuningan. Warna buah masak kuning jingga. Daging buah tebal, kenyal, berserat halus sekali, kandungan air banyak, beraroma harum dank has, serta manis segar. Bijinya besar berukuran ( 7,9 x 4,5 x 2,3 ) cm dan sebagian biji berserat pendek.








f. mangga gedong gincu
Mangga ini banyak di hasilkan di jawa barat, khususnya daerah majalengka, Cirebon, indramayu, dan sekitarnya. Warna kulit buahnya sangat menarik dan agak beda dengan mangga gedong biasa, yaitu berwarna mera oranye. Mangga ini cukup laku di pasaran dalam dan luar negeri. Harga mangga gedong gincu lebih mahal di bandingkan dengan mangga gedong biasa. Bentuk buahnya hamper bulat dengan panjang 10 cm dan lebarnya 8 cm. Bobotnya rata- rata 200 – 250 gram /buah. Kulitnya tipis dan halus. Daging buah tebal dan berwarna kunig kemerahan, berserat, beraroma harum dan rasanya manis musim berbuah bulan agustus – desember.
g. Mangga cengkir indramayu
Buah mangga cengkir berbentuk jorong dengan warna kulit kuning sewaktu matang. Bentuk fisiknya memang kurang menarik, tetapi ternyata banyak konsumennya. Berat buah rata – rata 51 gram dengan ukuran ( 16,7 x 7,9 x 6,2 ) cm. Kulit buah agak tebal halus dan berlilin. Saat masak pangkal buah berwarna kuning dan pucuk berwarna hijau. Warna daging buah masak berwarna kuning. Bijinya sedang berukuran ( 14,5 x 4,4 x 2,8 ) cm, sebagian biji berserat pendek. Jenis mangga ini lebih din sukai dalam keadaan tua, tetapi belum masak ( mangkal) karena daging buahnya terasa renyyah dan agak gurih. Musim buah pada bulan agustus – desember.

4. Biologi tanaman mangga
Klasifikasi botani tanaman mangga adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Anarcadiaceae
Genus : Mangifera
Spesies : Mangifera spp
Tanaman mangga termasuk keluarga Anacardiaceae, sama dengan jambu monyet dan kedondong. Genus dari marga Anacardiaceae yang berasal dari asia tenggara tercatat ada 62 species. Enam belas species di antaranya memiliki buah yang dapat di makan, tetapi hanya species mangifera caesia, jack, mangifera Foetida, Lour., Mangifera odorata, Griff.,dan Mangifera indica, L. yang biasa di makan. Di antara ke empat belas mangga yang dapat di makan tersebut yang memiliki jenis paling banyak adalah Mangifera indica,L. Sebagian dari mangga tersebut memiliki aroma terpenting yang cukup kuat.
Daun mangga terletak di sepanjang ranting, bergantian, dan jaraknya tidak teratur. Daun – daun tersebut bertangkai panjang atau pendek, berbentuk jorong meruncing, kaku, keduaq permukaanya halus, bagian atas berwarna hijau gelap mengilap, bagian bawah berwarna hijau kekuningan, panjang daun 10 – 40 cm dan lebar 2 – 10 cm, dasar daun tajam atau meruncing, daun muda berwarna ungu kemerahan atau merah tua , setelah tua menjadi hijau gelap.
Biologi bunga mangga terdiri dari bunga jantn dan bunga betina ( hermaprodit ). Dari enam varietas mangga yang pernah di teliti, persentase bunga jantina terbesar terdapat di bagian pucuk malai bunga.penelitian lain menemukan, perbandingan atau nisbah bunga jantan dan bunga betina di bagian pucuk malai lebih besar daripada baian tengah dan pangkal malai bunga mangga gadung, golek dan manalagi.

a. Morfologi
mangga termasuk golongan buah sejati tunggal, yakni buah yang hanya terjadi dari satu bunga dan dari satu bakal buah. Jenis mangga ini mempunyai satu ruang dengan satu biji. Sifat – sifat mangga bias di identifikasikan berdasarkan bentuk, letak tangkai, pangkal buah, pucuk buah, lekukan dan paruhnya.

5. Syarat Tumbuh Tanaman Mangga
Tanaman mangga dapat tumbuh baik dan berproduksi di semua jenis tanah. Derajat keasaman tanah ( pH tanah ) ideal untuk tanaman mangga adalah 5,5 – 6,0. Kedalaman air tanah minimum 200 cm dengan kapasitas pertukaran kation ( KTK ) lebih besar dari 8 me/100 g. Tanaman mangga tumbuh cukup baik di dataran rendah denga ketinggian 500 m dpl dengan tingkat kemiringan kurang dari 15%. Kondisi bulan kering yang diperlukan mangga adalah 4 – 8 bulan/tahun dengan suhu 24 – 27 derajat celcius. Tingkat kelembabanya dari agak kering hingga kering. Curah hujan yang di butuhkan mangga sebesar 1.000 mm pertahun dengan tingkat penyinaran 50 – 80 %.




6. Penyiapan Lahan

a. Pengolahan Lahan
Sebagai tanaman keras, mangga memerlukan ruangan yang memadai untuk pertumbuhanya sehingga lahan yang akan di guanakan sebagai kebun mangga harus di bersihkan dari tanaman yang akan mengganggu perkembanganya. Kemiringan dan tropografi lahan menjadi dasar pertimbangan untuk menyusun barisan tanaman mangga dan pola pengelolaan kebun. Hal ini yang perlu di perhatikan dalam pengolahan lahan adalah pembagian luasan blok pertanaman, jalan pemisah antar blok untuk pemeliharaan, pengangkutan hasil panen, pengawasan kebun dan jaringan irigasi yang akan melayani seluruh blok pertanaman. Lubang tanam di atur di blok pertanaman sesuai sesuai dengan kepadatan pertanaman yang di inginkan. Kepadatan tanaman berkaitan eratdengan jarak tanam yang juga di pengaruhi oleh kultivar batang atas dan batang bawah

b. Pembuatan lubang tanam
Jarak tanam yang biasa di gunakan sekitar 8x8 m sampai 12 x 12 m.Budidaya intensif dengan jarak tanam 4 x 5 m dan 5 x 6 m dapat di lakukan dengan cara menjarangkan tajuk saat tanaman berumur 7 sampai 10 tahun atau dengan menggunakan kultivar cebol. Tujuanya adalah agar tajuk tanaman tidak saling bersentuhan.
Di tempat yang sudah di tandai, lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm di gali dengan cara memisahkan tanah galian bagian atas dan bagian bawah. Selanjutnya, lubang tanam galianya di jemur selam 1- 2 bulan agar keasamanya menurun dan terbebas dari hama dan penyakit tular tanah yang sudah ada sebelumnya. Pupuk kandang sebanyak 30 untuk setiap lubang tanam di campur tanah galian yang telah di pisah agar lebih gembur. Kemudian campuran tersebut di masukkan kembali kedalam lubang tanam. Ajir di tancapkan di tengah timbunan lubang tanam sebagai tanda penanaman bibit mangga. Pembuatan lubang tanam di lakukan pada musim kemarau menjelang musim hujan.






7. Penyediaan Bibit
Setelah lahan tepilih, bibit menjadi faktor penentu keberhasilan usahatani mangga. Ketepatan pemilihan kultivar dan kepastian kemurnian genetis bibit yang terpilih merupakan hal penting yang harus di pahami oleh pekebun mangga. Pemilihan mangga sebaiknya berdasrkan kultivar yang telah di lepas oleh menteri pertanian melalui surat keputusan mentri pertanian. Beberapa kultivar mangga yang telah di lepas oleh mentri pertanian adalah arumanis-143, manalagi-69, golek-31, gedong, sukku, lanabbu, legong, durih dan dodol. Saat ini, sudah banyak pengusaha bibit atau penagkar bibit, tetapi jaminan kepastian dan kemurnian genetic bibit kultivar mangga masih sulit di peroleh. Untuk memilih bibit bermutu tersebut, para pekebun mangga dapat melakukan dua pendekatan sebagai berikut ;
1. Bekerjasama dengan instusi penelitian yang memproduksi bibit mangga dengan system jaminan mutu.
2. menghasilkan sendiri bibit bermutu dengan cara memilih dan menyeleksi pohon induk mangga yang bibitnnya akan di perbanyak
Persyaratan bibit bermutu yang harus di ketahui oleh para pekebun mangga sebagai berikut :
a. Asli
Tanaman akan menampilkan sifat – sifat yang sesuai dengan varietas yang di wakilinya.
b. Seragam
Dalamm satu pot ( populasi bibit ) bibit asli harus memenui standar mutu keseragaman diameter batang bawah, diameter batang atas, tinggi tempelan, tinggi sambungan, jumlah daun muda ( pupus ), jumlah pertunasan, tinggi bibit, jumlah daun, ukuran wadah, media tanam, warna kulit batang bibit, dan umur bibit.
c. Sehat
Bibit tidak terinfeksi penyakit atau rusak oleh hama tanaman.
d. Bersih
media tumbuh tidak di tumbuhi gulma dan bersih dari serasah ( kotoran dari ranting atau daun kering ).
e. Daya Tumbuh
Dalam satu plot persentase pertumbuhan bibit lebih dari 95%.



Perbanyakan tanaman mangga secara grafting atau sambung celah secara dini merupakan piliahan yang menguntungkan. Setelah berumur 1- 2 bulan, batang bawah dari varietas madu, podang, kopyor, beruk,endog dan rayu sudah dapat di sambung. Setelah berumur satu tahun batang bawah sudah bisa di pindahkan kelahan pertanaman. Keuntuungan teknologi sambung secara celah adalah lebih cepat, lebih efisien dalam penggunanan tempat dan hasilnya berupa bibit jadi yang berukuran mungil. Untuk efisiensi pengangkutan di gunakan polibag berdiameter 16 cm dan tinggi 25 cm. Media tanamnya berupa campuran pasir, pupuk kandang, sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Bisa juga berupa campuran seperti di atas , tetapi di tambah dengan 5-10 gram pupuk organic untuk setiap polibag.

8. Penanaman
Penanaman bibit mangga di kebun sebaiknya di lakukan pada musim hujan. Caranya, bibit mangga di keluarkan dari polibag dan di tanam di dalam lubang tanam yang telah di siapkan. Ukuran lubang tanam sebesar bongkahan tanah yang menyelimuti akar bibit tanaman. Untuk mencegah berkembangnuya hama dan penyakit tular tanah, perlu di taburkan pestisida kedalam lubang tanam.,
Pemupukan awal dapat di lakukan saat tanam dengan memberikan 100 g urea,25g TSP, dan 50 g KCL. Pupuk tersebut di taburkan di sela sela bongkahan tanah yang menyelimuti akar bibit mangga dan lubang tanah yang telah disediakan. Penyiraman dan penaungan di perlukan untuk melindungi tanaman muda bedrlangsung hinggaq pukul 10.00. penyiraman dan penaungan tersebut tidak di perlukan jika kondisi tanah lembab dan tanaman muda terlihat tegar. Kelembaban tanah dapat di jaga dengan cara menutup tanah di sekitar batang pokok tanaman dengan jerami kering.
Pergantian tanaman dilakukan terhadap tanaman yang mati pada awal pertumbuhan. Tanaman mangga juga bisa dig anti njika buahnya bukan dari kultivar yang di inginkan. Langkah pertama sebelum pergantian tanaman adalah melakukan eradikasi ( pemusnahan total ) tanaman dan melakukan sanitasi lubang bekas tanaman dan lingkungan. Pergantian tanaman pada tanaman sudah besar dan mulai berbuah dapat di lakukan dengan cara membongkar tanaman, lalu menggantinay dengan tanaman yang terjami n kultivarnya.



Secara ringkas kegiatan topworking dapat di lakukan sebagai berikut :
1. tanaman mangga dewasa dapat di potong setinggi 1 m dari permukaan tanah
2. Luka bekas potongan di tutup dengan paraffin
3. Entris dari kultivar mangga yang di inginkan di sambung – celahklan ketunas baru yang tumbuh dari batang pokok atau di sambung – sisispkan ke batang pokok.

9. Pemupukan dan pengairan
Pemupukan dan pengairan bertujuan menjaga kesehatan pertumbuhan tanaman dan mengimbangi atau mengganti kekurangan unsure hara akibat ketidak suburan tanah. Pupuk yang di berikan atau di tambahkan ketanaman merupakan campuran bahan yang terdiri dari 20 unsur yang di perlukan tanaman.
Berdasarkan bentuk dan unsur yang di kandungnya , pupuk di bagi menjadi pupuk organik dan anorganik. Contoh pupuk organic antara lain ; pupuk kandang, kompos, dan limbah pengolahan hasil ternak. Sementara itu contoh pupuk anorganik adalah urea, TSP, ZA dan KCL. Denagn demikian pemupukan yang efektif dan efisien dan ramah lingkungan harus memperhatikan tingkat kebutuhan tanaman terhadap unsur hara.unsur hara yang mendasar bagi pertumbuhan tanaman adalah C,H,O,N,P,S,K,Ca,Mg,B,Cl,Cu,Fe,Mn,Mo an Zn.

Pengambilan contoh untuk daun mangga untuk keperluuananalisis dapat di lakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Menentukan umur daun, yakni 5 – 7 bulan
2. Posisi daun dari bagian tengah pupus dewasa terakhir hingga semua sisi pohon. Sebaiknya di hindari pengambilan contoh daun terminal ( ujung ).

10. Hama Dan Penyakit

a. Hama
1) Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)
Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur.
2) Bubuk buah mangga
Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke tanah yang telah dicangkul.
3) Bisul daun(Procontarinia matteiana.)
Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.
4) Lalat buah
Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metal eugenol di dalam wadah dan insektisida.
5) Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang
membeku menimbulkan jamur kerak hitam. Pengendalian dengan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.
6) Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)
Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.
7) Codot
Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.

b. Penyakit
1) Penyakit mangga
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung. Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.



2) Penyakit diplodia
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi. Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.
3) Cendawan jelaga
Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang.
4) Bercak karat merah
Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.
5) Kudis buah
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.
6) Penyakit Blendok
Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur Bordeaux
.
c. Gulma
Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat.




11. Panen
Ciri – Ciri yang dapat di lihat dari buah mangga yang siap untuk di panen adalah :
a. Umur buah
penentuan umur panen buah mangga dapat di tentukan mulia dari bunga pertama mekar, bunga mekar penuh, atau mulai dari pentil ( buah mangga sebesar kelereng ). Buah dapat di panen setelah sekitar 70 – 115 hari dari bunga pertama mekar, bunga mekar penuh, atau sejak terbentuknya pentil. Umur panen buah mangga tidak sama, tergantung jenis dan lokasinya.
b. Bentuk buah
Buah mangga tua mempunyai bentuk membulat di bagian dekat ujung buah. Buahntersebut kelihatan padat dan berisi.
c. Tangkai Buah
Bekas tangkai buah yang tidak jadi dapat di gunakan sebagai petunjuk untuk mmenentukan derajat ketuaan buah. Bekas tangkai sudah kelihatan mongering semuanya, berarti buah mangga sudah cukup tua untuk di pungut.
d. Lapisan lilin
Buah mangga yang sudah tua biasanya kulit buahnya tertutup dengan suatu lapisan yang berwqarna keputih – putihan seperti bedak.
e. Letiseln Pada kulit buah
Letisel yang terdapat pada kulit buah kelihatan lebih besar dan nyata.

Cara panen buah mangga
Untuk mendapatkan buah dengan bentuk ketuaan yang seragam, pemanenan buah di lakukan bertahap. Pemanenan dapat di lakukan 2 – 4 kali sampai buah habis. Sebelum pemanenan dilakukian sampling ( pengujian mengenai ketuaan beberapa buah ) terlebih dahulu agar di ketahui tingkat ketuaan buah.
Selain tingkat ketuaan mutu buah mangga di pengaruhi pula oleh cara panennya. Penanganan yang asal – asalan dapat menyebabkan kulit buah menjadi luka sehingga menurunkan kualitasnya. Mutu buah mangga yang baik tidak hanya di butuhkan untuk pasar luar negeri, tetapi juga di perlukan untuk pasar domestic.
Untuk mendapatkan hasil pane yang baik, ada dua macam cara pemanennanya yaitu :
1. Untuk yang terjangkau tangan, buah dan tangkainya di petik dengan tangan, kemudian di tampung dalam keranjang penampungan yang di ikat di dahan.
2. Untuk Yang tidak terjangkau oleh tangan, buah di panen dengan menggunakan galah. Galah tersebut di buat dari bamboo yang di lengkapi dengan pisau pemotong dan penampung buah yang terbuat dari anyaman bambua tau anyaman rotan.

Dalam pemanenan, di usahakan agar buah tetap bertangkai dan getah yang keluar dari tangkai tidak menempel pada permukaan kulit buah. Adanya getah yang menempel pada kulit akan mempengaruhi penampilan dan menurunkan mutu buah, walaupun telah di bersihkan. Beberapa cara untuk mengurangi getah dan menghindari getah menempel pada kulit buah sebagai berikut :
1. Buah di panen ada tingkat ketuaan yang cukup
2. sebaiknya buah di panen pada pukul 09.00 – 15.00 karena pada waktu itu tekana turgor pada buah turun dan produksi getah minimal.
3. Pemanenan di lakukan dengan menggunakan tangan ( di petik langsung ) atau dengan galah yang di lengkapi dengan penampung buah.
4. Buah di panen dengan tangkai yang panjang.
5. Setelah di panen buah di letakkan di dalam keranjang secara hati – hati jangan sampai kulit buah luka dengan posisi pangkal buah di bawah.

Setelah di panen buah di kumpulkan dalam keranjang bambu atau keranjang pelastik. Kemudian, di angkut ke gudang pengumpulan untuk di lakukan pemilihan, pengelasan, dan pengemasan.












PROSPEK USAHA KOMODITI MANGGA
Aspek Pemasaran
a. Permintaan
Permintaan Dalam Negeri
Sebagian besar (kalau tidak dapat dikatakan seluruhnya) buah mangga yang masak segar, didistribusikan dan dipasarkan guna memenuhi permintaan dalam negeri. Permintaan dalam negeri tersebut cenderung meningkat sepanjang tahun. Data pada tahun 1990 menunjukkan bahwa total konsumsi terhadap buah mangga mencapai 12 ribu ton. Besaran konsumsi ini diperkirakan akan terus meningkat sepanjang tahun dan sampai tahun 2000 besaran konsumsi tersebut diperkirakan akan mencapai 533 ribu ton. Bila dibandingkan dengan angka perkiraan FAO pada tahun 2000 yaitu bahwa konsumsi buah-buahan akan mencapai 60 kg per kapita per tahun, maka konsumsi buah-buahan di Indonesia masih relatif sangat rendah yaitu baru akan mencapai 36 kg per kapita dengan 2.5 kg di antaranya berasal dari buah mangga. Faktor penentu peningkatan permintaan terhadap buah-buahan khususnya buah mangga, adalah peningkatan jumlah penduduk terutama penduduk perkotaan dan wilayah industri, semakin membaiknya pendapatan masyarakat pada umumnya, serta meningkatnya arus kedatangan wisatawan mancanegara serta pemintaan yang datang dari industri olah lanjut yang cenderung memerlukan pasokan bahan baku yang tepat jumlah dan waktu serta kepastian kesinambungan pasokannya. Besaran konsumsi tersebut dipenuhi langsung melalui para produsen, pedagang pengumpul, pedagang ditingkat pasar eceran baik di pasar-pasar tradisional, maupun melalui pasar supermarket, hotel, restoran dan melalui bentuk produk olahan.
Permintaan Luar Negeri
Dari hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB (Maret, 1998), Indonesia berpotensi dan berpeluang untuk melakukan ekspor komoditas buah-buahan. Secara garis besar terdapat tiga kawasan yang berpotensi untuk pemasaran buah buahan tropis termasuk

yang dari Indonesia, yaitu :
1. Kawasan Eropa yang terdiri dari Jerman, Perancis, Inggris, dan
Benelux yang menyerap sebesar 58% dari pasar dunia;
2. Kawasan Amerika yang terdiri dari Amerika Serikat dan Kanada yang
menyerap sebesar 10,2% dari pasar dunia;
3. Kawasan Asia Pasifik yang terdiri dari Jepang, Hongkong, Singapura
dan Australia yang menyerap sebesar 9,3% pasar dunia.

Andai Indonesia sebagai salah satu negara pemasok buah tropis segar dunia masih sangat kecit yakni kurang dari 1%. Sebenarnya buah-buahan tropis asal Indonesia telah mampu memenuhi pasaran dunia termasuk Eropa Barat. Tetapi jumlah pasokan masih sangat kecil/terbatas akibat kemampuan untuk memasok yang masih rendah dan belum mampu menjamin kesinambungan pasokan. Bilamana proses pasca panen dapat menjamin mutu buah mangga yang diminta pasar dunia maka peluang ekspor dari Indonesia akan lebih besar.

b. Penawaran/Peluang
Penawaran
Secara geografis, mangga (Mangifera indica) terdapat di semua propinsi di Indonesia. Namun pulau Jawa merupakan tempat produksi dan pasar yang paling dominan. Dari total luas tanaman 160.000 ha, sebesar 50,32% dari total luas tanam berada di pulau Jawa dan Madura. Sementara itu berturut-turut diikuti oleh Bati dan Nusa Tenggara sebesar 32,8%, Sulawesi sebesar 12%, dan sisanya terdapat di Sumatra (3%), Maluku dan Irian Jaya (1.88%) dan Kalimantan sebesar 1%. Perkebunan Mangga secara komersial telah berkembang di beberapa kota di Jawa Timur yaitu di Gresik, Pasuruan dan Probolinggo, sedangkan di daerah Jawa Barat terletak di kota-kota Cirebon, Indramayu, dan Majalengka.
Peluang Pengembangan
Peluang pengembangan tanaman mangga dapat dipicu oleh adanya potensi permintaan terhadap buah ini, baik yang datang dari permintaan dalam negeri sendiri maupun yang datang dari luar negeri. Adanya peluang permintaan terhadap buah mangga dapat di cerminkan dari kecenderungan peningkatan nilai ekspor buah mangga selama 5 tahun terakhir semenjak tahun 1991. Nilai ekspor tertinggi dicapai pada tahun 1995 yaitu sebesar US $ 1.311.728. Dan nilai ekspor yang terendah pada kurun waktu lima tahun tersebut terjadi pada tahun 1993 yaitu sebesar US $ 586.123. Kecenderungan eskpor mangga dari Indonesia, sekalipun berjalan secara "erratic", tetapi kecenderungannya menggambarkan peningkatan sepanjang tahun. Dalam situasi perekonomian seperti saat-saat ini, maka peningkatan peranan mata dagangan berpotensi ekspor yang dalam pelaksanaan proses produksinya sebagian besar menggunakan komponen lokal, akan mendapat tempat dan prioroitas yang sangat tinggi dari Pemerintah. Salah satu fasilitas yang disediakan pemerintah untuk menunjang pengembangan budidaya tanaman mangga yaitu kredit dengan tingkat bunga yang disubsidi sehingga dapat dimanfaatkan oleh proyek-proyek dengan jangka waktu yang relative lama karena tingkat bunganya rendah.
Upaya untuk meningkatkan ekspor/substitusi impor buah mangga secara riil akan sangat tergantung dari beberapa faktor pelaksanaan suatu proyek budidaya yang ditunjang dengan skim kredit diatas, yaitu :
1. Perlunya kehadiran perusahaan dan atau koperasi yang mampu melaksanakan ekspor buah mangga;
2. Adanya kemampuan dan kesungguhan perusahaan dan atau koperasi tersebut, dengan cara bermitra usaha, dapat bekerjasama dan membantu para petani mangga pada total luasan tertentu (300-500 ha), untuk melaksanakan proses produksi dan proses panen serta proses pasca panen yang baik dan benar;
3. Bahwa dengan perencanaan penyediaan produksi dari total luasan tertentu tersebut, diduga dapat menjamin kesinambungan pasokan untuk ekspor;
4. Produksi mangga pada areal tersebut harus dapat dilaksanakan dengan unit biaya yang menyebabkan produk mangga dari Indonesia mampu bersaing di pasar global;
5. Diusahakan agar rantai distribusi dan pemasaran dapat dilaksanakan sependek mungkin sehingga dengan demikian harga buah dari tingkat produsen s/d tingkat pasar eceran di dalam negeri, dapat dijangkau oleh para konsumen dengan berbagai tingkat pendapatan;
6. Sedangkan untuk menunjang ekspor, disamping penanganan pasca panen yang baik dan benar, juga memerlukan komitmen untuk menjamin kesinambungan ketepatan penyampaian dan jumlah serta harga pasokannya.

4. Aspek Produksi
a. Umum
Berkebun mangga dalam skala usaha yang cukup besar, perlu sekali melihat kondisi lahan yang akan ditanami yaitu harus memperhatikan kesesuaian lahan. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu jenis tanah, ketebalan lapisan tanah, kondisi air tanah, pH tanah, serta derajat kemiringan tanah. Berdasarkan jenis tanahnya, tanaman mangga dapat tumbuh dengan baik pada macam-macam jenis tanah, baik pada tanah vulkanis tua, vulkanis muda, tanah aluvial, tanah dengan struktur ringan maupun berat. Lahan untuk budidaya tanaman mangga sebaiknya merupakan satu hamparan yang cukup luas, sehingga pengolahannya dapat dilakukan secara mekanis dan serempak. Namun kenyataan di lapangan untuk mendapatkan hamparan lahan seperti itu cukup sulit, terutama untuk daerah di Pulau Jawa. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka dalam analisa baik teknik, maupun finansial disajikan model dengan luasan 1 (satu) ha. Tanaman mangga yang akan dibudidayakan adalah tanaman mangga jenis unggul, seperti arumanis dan gadung klon 143,210 dan Gedong Gincu. Varietas mangga komersial di Indonesia diantaranya mangga arumanis, manalagi jenis besar dan manalagi jenis kecil, goiek, gedong gincu, gedong biasa, dan cengkir. Adapun beberapa varietas mangga eks-import, diantaranya namdokmai, thongdam, nangkiawan (semuanya dari Thailand), irwin, julie, haden (Amerika), dan lain-lain. Pengadaan bibit sangat penting sekali dan merupakan faktor penentu keberhasilan usaha. Bibit mangga yang tidak baik akan diketahui setelah memakan waktu cukup lama, dan kalau diganti tentunya akan memakan biaya dan tidak efisien. Maka atas dasar pertimbangan tersebut pengadaan bibit mangga sepenuhnya menjadi tangung jawab INTI, petani plasma hanya menerima bibit yang sudah siap tanam.

b. Lahan dan Tanah
Persiapan Lahan
Pemilihan lokasi untuk kebun mangga hendaknya diusahakan tidak terlalu jauh dari jangkauan jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat, agar memudahkan pengangkutan baik pada saat panen maupun dalam pengangkutan bibit dan sarana produksi lainnya. Di samping itu dilokasi tersebut dekat dengan sumber air, baik dari air irigasi, ataupun dari air tanah, sehingga pada musim kemarau air untuk keperluan tanaman tetap cukup tersedia. Dalam persiapan lahan ini termasuk penyuluhan, pengorganisasian proyek di tingkat petani dan inventarisasi lahan, serta pelatihan.

Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan cangkul, bajak, garu, ataupun secara mekanis dengan traktor. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan pada musim kemarau atau awal musim hujan, dimana pada saat itu tanah tersebut masih berupa gumpalan yang mudah untuk dihancurkan/digemburkan dengan penambahan air.
Setelah pencangkulan/pembajakan/pentraktoran, tanah dibiarkan beberapa hari untuk memberikan kesempatan tumbuh bagi rerumputan, yang akhirnya rerumputan tersebut dikumpulkan, ditumpuk pada tempat tertentu, kemudian dibenam atau dibakar. Pada tanah yang derajat keasamannya tinggi (pH rendah), maka pada tanah yang telah dicangkul tersebut disebarkan kapur/dolomit secara merata.Dalam pengolahan tanah mulai dari pembukaan lahan, pencangkulan, pembajakan, penggaruan, pembuatan bedengan, guludan, pembuatan saluran irigasi dan pembuangan/drainase, serta pembuatan lobang tanam, sampai dengan siap tanam memerlukan tenaga kerja kurang lebih 200 HOK.

c. Penanaman
Lubang tanam dibuat/disediakan sesuai dengan jarak tanam, di mana jarak tanam tersebut diantaranya ditentukan oleh kesuburan tanah dan lapangan. Jarak tanam bervariasi yaitu diantaranya 4 x 6 m, 6 x 6 m, 10 x 10m. Pada lobang tanam yang telah tersedia dimasukan pupuk kandang dan dicampur dengan pupuk dasar lainnya seperti TSP, Urea, dan KCI, setelah itu barulah bibit ditanam. Tenaga kerja untuk penanaman cukup 6 - 8 HOK, tergantung dari jumlah bibit yang akan ditanam.

Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meliputi kegiatan penyulaman tanaman,penyiangan/pembumbunan, pemupukan, penyiraman/pengairan, pemangkasan, penanggulangan hama dan penyakit.

1. Tanaman mangga yang mati dan yang pertumbuhannya tidak baik/kerdil diganti dengan tanaman baru yang telah disiapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan tanaman lebih seragam;
2. Penyiangan rumput liar dilakukan pada saat pengerjaan penggemburan tanah dan pembumbunan tanaman, serta kalau diperlukan sekalian dengan mengerjakan penyulaman bagi tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang baik. Tenaga kerja untuk ini diperlukan sekitar 20 HOK;
3. Pemupukan susulan dilakukan dengan cara membenamkan campuran pupuk susulan yang terdiri dari TSP/SP 36, KCI, dan Urea di sekitar tegakan, persis dibawah tajuk tanaman tersebut. Dosis pemupukan disesuaikan dengan umur dan pertumbuhan tanaman. Pada saat tanaman memasuki fase pembungaan dan pembuahan, maka pupuk ekstra untuk merangsang dan memantapkan bunga dan buah perlu diberikan. Untuk aplikasi pemupukan dalam tiap tahun memerlukan tenaga kerja sekitar 20 HOK;
4. Pemangkasan dilakukan untuk mendapatkan bentuk tanaman yang baik, sehingga didapatkan bentuk tajuk yang dikehendaki, yaitu dahan/cabang tanaman seimbang ke segala arah. Tenaga kerja untuk memangkas dalam satu tahun pemeliharaan adalah pada kisaran 6 – 9 HOK;
5. Penyiraman/pengairan merupakan unsur yang cukup penting dalam berkebun mangga, terutama pada musim kemarau. Pada waktu tanaman masih kecil dan hujan kurang, maka penyiraman diperlukan, sedangkan pada musim hujan dimana air berlebihan, maka drainase/pembuangan air harus mendapat perhatian, sehingga aerasi dan drainase tanah tetap terpelihara. Rata-rata dalam tiap tahun diperlukan tenaga kerja 5 HOK;
6. Penanggulangan hama dan penyakit, baik yang menyerang akar, batang, daun, bunga dan buah perlu diperhatikan. Pemberantasan dilakukan apabila hama dan penyakit tersebut sudah merusak di atas ambang batas. Penggunaan pestisida dilakukan seminim mungkin, dan dilakukan dalam keadaan yang memaksa. Tenaga kerja untuk penanggutangan hama dan penyakit adalah 4 HOK/tahun.
7. Selama pemeliharaan, kebun perlu diamati pertumbuhannya, dan untuk itu pemilik kebun harus mengamatinya paling tidak 3 kali dalam seminggu.

5. Aspek Keuangan
a. Data Dan Asumsi Dasar Perhitungan
Data dan asumsi perhitungan yang dipakai dalam studi ini tercantum dalam Tabel Lampiran Investasi.Unit analisa model ini adalah 1 (satu) hektar lahan, dengan populasi 256 pohon. Sementara asumsi teknis didasarkan atas kenyataan di lapangan yang dilakukan oleh para petani ataupun pengusaha perkebunan, maka dalam hal asumsi pembiayaan, secara keseluruhan didasarkan pada harga-harga pertengahan 1998, yang diperhitungkan secara konstan selama masa proyek. Dalam pelaksanaannya, asumsi dasar (terutama mengenai pembiayaan) perlu dikaji ulang menjelang penyaluran kredit.











Kebutuhan Biaya Proyek Dan Sumber Dana
Berdasarkan asumsi yang dikemukakan di atas, maka biaya investasi untuk model usaha ini (1 hektar) disajikan dalam Tabel 1.
TAHUN 0 TAHUN 1 TAHUN 2 TAHUN 3 JUMLAH
Pra Investasi 28.000 0 0 0 28.000
Investasi Tetap 0
-Sertifikasi lahan 300.000 0 0 0 300.000
-Bibit Mangga 1.920.000 0 0 0 1.920.000
-Peralatan 0 2.050.000 2.050.000 0 4.100.000
Investasi Modal kerja 0
-Bahan dan Saprodi 0 1.448.240 776.160 897.600 3.122.000
-Tenaga Kerja 1.400.000 1.547.000 1.491.000 1.491.000 5.929.000
Jumlah 3.648.000 5.045.240 2.397.160 2.388.600 15.399.000
Management Free (5%) 182.400 252.262 119.858 119.430 769.950
JUMLAH 3.830.400 5.297.502 2.517.018 2.508.030 16.168.950
Premi Asuransi (2%) 76.608 105.950 50.340 50.161 323.379
JUMLAH 3.907.008 5.403.452 2.567.358 2.558.191 16.492.329

Dari tabel di atas, tampak bahwa biaya proyek (murni, tanpa memperhitungkan bunga selama masa konstruksi) secara keseluruhan mencapai Rp. 14.436.009. Seluruh biaya proyek, diasumsikan dibiayai dengan kredit dengan tingkat bunga sebesar 16% pertahun yang disalurkan secara bertahap, sesuai dengan kebutuhannya, yang terdiri dari tahun ke-0 (Rp. 3.907.008); tahun ke-1 (Rp. 5.403.452); tahun 2 (Rp. 2.567.358); dan tahun 3 (Rp. 2.558.191). Rinciannya, dapat dilihat pada Tabel Investasi. Seperti tampak dari tabel di atas, komponen biaya ini telah mencakup biayabiaya di luar kegiatan langsung, yaitu : management fee (5%) dan premi asuransi (2%).







Penyusutan Investasi
Dalam analisa keuangan, khususnya untuk menghitung Laba-Rugi, diperlukan komponen penyusutan biaya investasi. Penyusutan biaya investasi minimal harus dapat menutup keperluan angsuran pokok kredit (amortisasi). Nilai penyusutan investasi diperhitungkan dengan kemampuan proyek untuk dapat melunasi beban pinjaman. Perhitungan besarnya penyusutan biaya investasi tersebut disesuaikan dengan periode pengembalian kredit yang relatif memberi kesempatan kepada plasma untuk selama periode tersebut mampu menikmati peningkatan pendapatan sebagai akibat mengikuti proyek kemitraan ini. Karena itu, MK PKT ini memperhitungkan lamanya proyek dapat mengembalikan kredit berlangsung selama 9 (sembilan) tahun produksi. Dengan asumsi seperti tersebut di atas maka penyusutan investasi berkisar dari Rp. 645.118 (tahun ke-4) hingga Rp. 3.454.248 (sejak tahun ke-9). Rinciannya, dapat dilihat dalam Tabel Analisa Laba Rugi.
b. Analisa Total Penjualan
Untuk mendapatkan hasil penjualan yang akan digunakan sebagai komponen analisa arus kas (cash flow), diperhitungkan bahwa proyek PKT ini mengalami masa konstruksi selama tahun ke-0 hingga tahun ke-3. Selanjutnya, proyek telah mulai berproduksi, dengan standar produktivitas tahunan berkisar dari 1.024 kg/ha/tahun (tahun ke-4) hingga 34.133 kg/ha/tahun. Dengan menggunakan asumsi produksi proyek seperti di atas, maka dengan harga konstan bulan Juli 1998 sebesar Rp. 4.000/kg, selama 12 tahun proyek memperoleh pendapatan berkisar dari Rp. 4.096.000 (tahun ke-4) hingga Rp. 136.533.333Rinciannya tampak pada Tabel Perhitungan Hasil Panen.











Analisa Kelayakan Proyek
Untuk sampai pada kesimpulan tentang kelayakan proyek, maka digunakan kriteria kelayakan Financial Rate of Return (FRR) dan "Pay-back Period". Hasil analisa kelayakan menghasilkan kriteria sebagai berikut :
- FRR = 33%
- Pay-back Period = 6,7 tahun
- NPV = Rp 32.136.853
- BCR = 2,85 kali
Dengan demikian, dapat disimpulkan, bahwa secara finansial proyek dapat dilaksanakan. Dengan skim kredit bebunga 16% per tahun di tingkat plasma, maka proyek ini memiliki segi keamanan yang relatif tinggi bilamana ditinjau dari kredit dan atau bank. Demikian pula, proyek ini menghasilkan keuntungan yang besar bila ditinjau dari segi petani plasma dan INTI. Secara rinci dapat diikuti dalam Tabel Arus Kas.
Analisa Laba/Rugi
Dari hasil analisa Laba-Rugi (Lampiran Laba Rugi), dapat disimpulkan bahwa selama 12 tahun proyek, petani plasma akan mendapat keuntungan bersih (setelah pajak) relatif cukup besar, yaitu berkisar dari Rp 258.047 pada tahun ke-4 hingga Rp. 39.401.225.pada tahun ke-12. Pendapatan ini akan semakin besar bilamana sebagian dari jumlah HOK (Hari Orang Kerja) dapat dinikmati pula oleh tenaga kerja keluarga. Dari kepentingan keamanan kredit dapat dikembangkan suatu pola di mana para petani plasma dapat didorong untuk bersedia menempatkan dana tabungan yang diambil sebesar 10% dari pendapatan bersih setelah pajak. Kriteria keamanan proyek dapat diikuti pula dari besaran Titik Impas (Break Even Point = BEP). Dalam nilai rupiah, BEP berkisar dari Rp 3.358.720 (tahun ke-4) hingga Rp. 23.956.758 (tahun ke-12). Dalam bentuk kilogram, BEP berkisar dari 840 kg (tahun ke-4) hingga 5.989 kg (tahun ke-12). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proyek semakin aman sejalan dengan dapat diselesaikannya kewajiban proyek kepada bank yang membiayai

Pemasaran Komoditas Jeruk

by PUTRA SIAK  |  in Lingkup at  Senin, Oktober 31, 2011
1. Pendahuluan
Pemasaran jeruk dilakukan petani secara sendiri-sendiri dengan mekanisme dan sistem pembayaran yang beragam. Belum muncul suatu lembaga yang mampu memperkuat posisi tawar petani. Apalagi pada saat panen, peran pedagang lebih dominan dalam menentukan klasifikasi buah, penetapan warna dan biaya transportasi yang berakibat tingkat harga jual petani jadi lebih rendah. Dalam rangka mengatasi kondisi tersebut, telah terbentuk lembagaMasyarakat Jeruk Indonesia (MJI) komisariat Sumatera Utara. Salah satu misi yang
diembannya adalah memperkuat kemampuan dan daya saing petani jeruk dalam usahatani maupun pemasarannya.
Setidaknya ada dua cara petani dalam memasarkan produksi yaitu menjual sendiri ke pasar atau menjual kepada pedagang yang datang ke rumah/kebun. Cara pemasaran pertama, banyak dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kurang dari 100 pohon, lahan kurang dari 0.25 ha, atau lokasi lahan susah dijangkau kendaraan roda empat. Alasan ketidakseimbangan antara biaya panen dan angkut dibanding volume yang harus dijual mendorong petani melakukan penjualan langsung ke pasar. Pedagang pengumpul kerap keberatan jika membeli jeruk dalam jumlah sedikit di lokasi yang agak memencil. Pada cara pertama ini, tenaga untuk memetik, packing dan angkut dicari dan dibayar oleh petani sendiri. Jeruk yang dipanen, disusun ke dalam keranjang tanpa digrading terlebih dahulu (kualitas campuran). Beragam teknik penyusunan yang dilakukan petani untuk menunjukkan kualitas jeruk cukup baik menjadi perhatian pembeli dalam menyepakati tingkat harga. Kapasitas tiap keranjang bisa mencapai berat 80-120 kg.
Penjualan jeruk di pasar buah bisa langsung ke pedagang yang akan membawa dan menjual jeruk ke kota lain pedagang antar kabupaten/provinsi. Bisa juga menjualnya kepada pedagang perantara atau perkoper yaitu pedagang yang mempunyai lapak/ tenda di pasar. Jeruk ini kemudian dijual kembali kepada penggalas atau pedagang besar.Cara kedua, petani menjual produksi jeruk kepada pedagang yang mendatangi petani ke rumah atau ke kebun. Pembeli memberi penawaran harga setelah memeriksa dan memperkirakan produksi jeruk di kebun yang bisa dipanen. Setelah terjadi kesepakatan sistem dan harga antara petani sebagai penjual dengan pedagang, maka dilakukan pemanenan. Sebelum disusun ke dalam keranjang, jeruk di grading menurut klasifikasi mutu seperti kelas A atau super (4-6 buah/kg), kelas AB (8 buah/kg), kelas B (12 buah/kg), kelas C (15 buah/kg), kelas D atau unyil (20 buah/kg) dan kelas guli atau anak jeruk (24 buah/kg). Kecuali untuk kelas unyil dan guli, setiap keranjang bermuatan 60-65 kg. Jeruk yang dibeli, diklasifikasi dan di packing seperti dimaksud banyak dilakukan oleh pedagang pengumpul yang menjual/mengirim barang ke luar kabupaten bahkan keluar provinsi. Sementara kelas unyil dan guli disusun lebih dari 70 kg per keranjang untuk dipasarkan ke Pasar Rengit Brastagi atau Pasar Buah Tiga Panah. Pasar Rengit beroperasi dua kali seminggu, hari Selasa dan Minggu, sedangkan Pasar Buah Tiga Panah beroperasi setiap hari setelah pukul 14.00 Wib.
Pada kasus pemasaran kedua ini, ada dua sistem perhitungan dalam penjualan. Pertama, sistem sekop yang berarti pedagang membeli seluruh jeruk yang layak panen tanpa melihat kelas mutu. Sementara yang kedua sistem sam-sam yang berarti pedagang membeli seluruh jeruk kelas D atau unyil ke atas. Dengan kata lain, kelas unyil dan guli tidak ikut dijual. Biasanya kedua kelas ini akan dijual petani kepada perkoper di pasar buah. Kemampuan pedagang dalam memperkirakan produksi menurut volume total maupun volume antar kelas, sangat berpengaruh pada untung atau ruginya proses pemasaran. Pada sistem pemasaran di atas, umumnya tenaga kerja petik, sortir, grading, packing dan angkut, di sediakan dan dibayar oleh pedagang/pembeli. Petani yang melakukan cara pemasaran ini umumnya petani yang memiliki jeruk produktif di atas 100 pohon atau lahan lebih dari 0.25 ha. Terkait dengan tempat transaksi, data penelitian menunjukkan bahwa 75 persen responden melakukan transaksi di lokasi lahan petani, apakah di kebun atau rumah. Sisanya melakukan transaksi di lokasi pembeli, pasar buah atau tempat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa cara pemasaran kedua lebih banyak terjadi di petani dibanding cara yang pertama.
Terlepas dari cara pemasaran dan tempat transaksi yang di pilih petani, sistem pembayaran terhadap produksi jeruk yang dipasarkan juga sangat beragam. Sistem dimaksud meliputi pembayaran kontan/tunai, pembayaran tunda, sistem cicil, bahkan ada yang telah membayar sebagian di depan saat sebelum panen tiba. Sistem terakhir ini bisa disebut sebagai sistem ijon semu karena hampir menyerupai sistem ijon, namun harga jual jeruk ditentukan saat panen dan menurut harga pasar yang berlaku. Jika tidak terjadi kesepakatan, petani bisa menjual jeruknya kepada pembeli lain. Biasanya petani sudah meminjam uang kepada pedagang dan sepakat untuk di potong-bayar dengan penjualan jeruk kepada pedagang bersangkutan. Sedikitnya kondisi ini menjadi perangkap pedagang dalam memegang petani untuk kepastian perolehan barang dagangan.
Mengamati sistem pembayaran yang berlaku, ditemukan bahwa sekitar 58 persen
responden memperoleh pembayaran secara tunai/kontan, 8 persen dicicil, dan sisanya dengan cara bayar tunda, bayar di depan, kontrak, dan ijon semu.
Dinamika pemasaran jeruk adalah potret pemasaran yang terjadi dalam lintasan waktu tertentu. Oleh karena itu penting untuk melihat kilas balik perjalanan perkembangan jeruk yang ada di kabupaten Karo, terutama dari aspek pemasarannya.
Pada tahap awal perkembangan jeruk di Tanah Karo, pemasaran dilakukan terbatas
untuk konsumen setempat . Artinya, 100 persen produksi dipasarkan di dalam provinsi Sumatera Utara seperti di pekan-pekan sekitar Kabanjahe, Brastagi, Pematang Siantar, Tebing Tinggi dan Kota Medan. Pada akhir tahun 70-an jaringan pemasaran mulai meluas hingga keluar provinsi seperti ke Pekan Baru, Sumatera Barat, Jambi, Palembang, hingga ke Pulau Jawa. Perluasan ini berlangsung cukup pesat bersamaan dengan populernya jeruk Pontianak. Tahun 80-an hingga 90-an, kedua jeruk ini menjadi konsumsi jeruk primadona di tanah air
Menurut data statistik, tahun 1999 jeruk Medan sempat menembus pasar ekspor ke
Singapura, Malaysia dan Thailand. Volume ekspor saat itu mencapai 419 ton. Namun tahun 2000 mengalami penurunan hingga hanya 54 ton. Tahun 2001 naik kembali menjadi 100 ton. Ekspor jeruk hanya berlangsung tiga tahun. Tahun 2002 hingga kini ekspor terhenti karena jeruk Indonesia (termasuk jeruk Medan) diklaim sebagai produksi pertanian pekat pestisida sehingga kurang aman untuk dikonsumsi. Selain itu, tampilan kulit yang kurang bersih (berkoreng) dan warna buah pucat, membuat daya jualnya di pasar ekspor menjadi lemah karena kalah bersaing dengan jeruk dari negara lain.
Satu dasawarsa terakhir pemasaran jeruk Medan ramai memasuki pasar-pasar di seluruh provinsi di Sumatera, di Jawa dan di sebagian Kalimantan. Menurut Sembiring (2005), 60 persen dari seluruh produksi jeruk Medan khususnya dari Karo dipasarkan di Pulau Jawa, terutama di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Surabaya. Sisanya dipasarkan di kota Medan sendiri dan kota-kota di Sumatera. Jeruk Medan dapat ditemukan di Pasar Induk, pasar tradisional, kaki lima bahkan hingga pasar modern seperti Ramayana, Carefour, Giant, Super Indo dll. Secara sederhana tujuan pemasaran jeruk dari Tanah Karo terdistribusi dan terredistribusi ke beberapa wilayah di Tanah Air.
Secara berjenjang pelaku pemasaran jeruk meliputi petani, pedagang pengumpul, perkoper, pedagang antar kabupaten /provinsi atau pengirim, grosir di Pasar Induk/lapak dan pengecer. Kegiatan pemasaran terpola dari hulu sampai hilir, namun pelakunya banyak yang double role. Misalnya, pedagang pengumpul merangkap pedagang pengirim, petani
merangkap pedagang pengumpul sekaligus pengirim. Atau pedagang pengumpul merangkap pengirim dan grosir. Oleh karena itu, jalur pemasaran jeruk Medan bisa digolongkan sederhana. Dalam beberapa kasus pedagang pengumpul yang langsung membeli ke petani merupakan “kaki tangan” pedagang pengirim, pedagang grosir atau toke.
Interaksi sesama petani diperkuat pengamatan terhadap kehidupan petani yang menanam jeruk terlebih dahulu, telah mendorong petani lain untuk berusahatani komoditas yang sama. Data menunjukkan perkembangan luas pertanaman jeruk yang cukup pesat dari sekitar 11 ribuan pada tahun 2001 menjadi 17 ribuan pada tahun 2005. Sebagian adalah pengembangan dari lahan yang sebelumnya belum diusahakan, dan sebagian besar adalah perubahan usahatani dari tanaman lain menjadi tanaman jeruk. Hal ini cukup mengindikasikan bahwa orientasi petani jeruk Tanah Karo sepenuhnya untuk komersial. Upaya berusahatani secara maksimal bertujuan meningkatkan produksi agar bisa dijual dan menghasilkan uang. Dari keseluruhan produksi, lebih kurang 97 persen dijual atau dipasarkan. Sisanya merupakan produksi yang dikonsumsi oleh petani dan keluarganya.
Seperti layaknya komoditi buah lain, jeruk Medan dijual dalam bentuk segar. Hingga ke tingkat konsumen buah dijual dalam bentuk yang sama. Hingga saat ini belum ada penanganan pengolahan jeruk baik untuk sirup maupun juice. Meskipun demikian, pemikiran dan upaya ke arah sana sudah ada. Memperhatikan sistem penjualan yang umum berlaku, indikator pengukuram penjualan adalah berat atau dengan cara ditimbang. Penjualan pada tingkat produsen, saat petani menjual produksinya kepada pedagang yang datang langsung ke kebun, penentuan harga terkesan memakai sistem borongan. Tetapi harga total oleh petani maupun pedagang dihitung berdasarkan berat. Pedagang sendiri melakukan penawaran harga dengan mempertimbangkan berat dan prosentase kelas mutu. Perlakuan ini terkait dengan penjualan keluar provinsi yang terbatas pada kelas C ke atas.
Pemasaran jeruk untuk hotel dan pasar modern terbatas pada kelas super (A).
Mengingat kelas ini semakin sedikit dihasilkan di Tanah Karo (teknik budidaya yang kurang baik), tidak jarang kelas AB dimasukkan sebagai kelas super, atau pembeli sendiri menerima kualifikasi kelas tersebut. Kelas AB dan B banyak dijual pengecer yang membuka kios atau stand pada pusat-pusat penjualan buah segar. Sebagian dijual pada pedagang pengecer yang merangkap grosir dalam arti penjualan dalan partai relatif besar (lebih dari 10 kg). Kelas C dan sebagian kecil kelas B banyak dipasarkan oleh pedagang pengecer di pasar, atau kaki lima.
Penjualan jeruk pada masing-masing jenis pedagang mendampingkan jeruk Tanah
Karo dengan jeruk daerah lain bahkan jeruk impor. Peluang memilih ini setidaknya mempengaruhi permintaan dan tingkat harga. Menurut konsumen, jeruk Tanah Karo relatif unggul dalam rasa tetapi kalah dalam penampilan. Sebagian besar konsumen mengaku, sebelum mencoba rasanya, cenderung memilih jeruk impor. Tetapi setelah mencoba, sulit berpaling ke jeruk lain.
Jika diamati, jeruk kelas D (unyil) dan guli sudah mulai banyak yang dipasarkan keluar provinsi. Awalnya, pengiriman terbatas untuk menambah barang dalam rangka memenuhi kapasitas truk. Pemenuhan ini penting untuk mengejar waktu/jadwal keberangkatan. Biaya pengiriman per keranjang sama dengan jeruk lainnya, tetapi kapasitas keranjang di atas 65 kg. Pedagang grosir atau bandar menjual jeruk ini kepada pedagang pengecer dengan memberi servis khusus, misalnya mengantarnya ke gudang atau kiosnya. Sistem penjualan dilakukan dengan menjajakan atau mengasong di terminal, stasiun bahkan di atas kereta api. Menurut pedagang grosir, penjualan jeruk kelas unyil dan guli hanya untuk meramaikan pasar jeruk karena hanya cukup kembali modal.
Menganalisis tataniaga jeruk untuk melihat seberapa besar bagian yang diterima petani, tidak bisa terlepas dari sikap, perilaku dan keputusan yang diambil oleh pelaku pasar lainnya, termasuk pedagang dan konsumen. Sekali lagi perlu disadari, analisis ini dilakukan terhadap data yang diteliti pada saat musim panen raya jeruk yang bersamaan dengan musim buah lain yang berperan sebagai substitusi konsumsi buah oleh konsumen. Setidaknya, rendahnya harga jeruk saat itu tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya supply dan banyaknya jeruk impor di pasar, tetapi juga dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan terhadap jeruk akibat beralihnya sebagian permintaan buah ke komoditas mangga, rambutan, durian dan duku.
Mengamati jalur pemasaran jeruk Medan tidaklah rumit. Untuk pemasaran keluar provinsi atau ke Jawa, pelaku pasar memiliki jejaring yang membentuk rantai pemasaran tertutup. Munculnya pemain baru dalam pemasaran jeruk bersamaan dengan jaringannya secara utuh mulai dari pemasok (pengumpul dan pengirim dan pedagang grosir. Pasar terbuka lebih nyata di tingkat pedagang grosir ke pedagang pengecer dan konsumen. Memperhatikan kelembagaan pemasaran jeruk Tanah Karo maka secara sederhana rantai pemasaran bisa digambarkan sebagai berikut.









































Gambar 1
Rantai Pemasaran Jeruk di Lokasi Penelitian Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 2005

Jika pedagang pengumpul bukan kaki tangan pengirim, pembelian dilakukan sudah dalam bentuk tersusun di keranjang tanpa diklasifikasi menurut kelas. Harga beli Rp 150 hingga Rp 300 di atas harga beli sam-sam atau sekop, atau seharga R1.350-Rp 1.500 per kg. Tambahan ini sebagai pengganti upah tenaga dan biaya material panen dan pasca panen yangsudah ditanggung petani. Kisaran harga sangat tergantung pada perkiraan persentase kelas super dan AB dalam susunan keranjang. Jeruk kemudian dijual kepada pedagang antar kabupaten/provinsi dengan menaikkan sekitar Rp 150-Rp 250 (sejajar harga yang berlaku di tingkat petani) per kg atau sekitar Rp 1.550-Rp 1.750 per kg. Transaksi sejenis lebih banyak dilakukan di pasar buah. Jarang ditemukan pedagang pengumpul yang membeli dengan sistem ini lalu menjual jeruknya ke pengirim atau pedagang grosir. Jalur kedua, petani melakukan panen dan pasca panen sendiri lalu mengangkutnya ke pasar buah untuk dijual kepada perkoper. Jeruk disusun dengan berat tiap keranjang di atas65 kg, bahkan bisa yang mencapai 120 kg. Tujuannya lebih kepada penghematan keranjang,koran,rukus dan tali. Apalagi biaya angkut biasanya dihitung per keranjang dan bukan satuan berat. Selain transportasi, petani masih harus membayar biaya timbang dan angkut/dorong dari mobil ke lapak perkoper. Biaya yang disebut terakhir sering tergantung
kesepakatan. Harga jual petani kepada perkoper bisa mencapai Rp 1450-Rp1650 per kg. Pembayaran paling umum dilakukan secara tunai.
Perkoper menjual jeruk kepada pedagang antar kabupaten/provinsi dengan cara jual
tunai seharga Rp 1.550-Rp 1750 per kg, atau melakukan jasa menjual atau sistem komisi. Besaran komisi sekitar Rp 100-Rp150 per kg (lk 7-10 persen). Jeruk yang dibeli oleh pedagang antar kabupaten/provinsi di pasar buah, langsung terdistribusi ke daerah penjualan seperti Medan, Pematang Siantar, Padang Sidempuan, Sibolga atau ke provinsi lain seperti ke Aceh, Riau, Padang, Jambi, Palembang maupun Lampung. Jeruk yang dikirim ke lokasi yang jauh akan disortir dan disusun menurut kelas mutu terlebih dahulu. Pemasaran di daerah tertentu didominasi oleh kelas mutu tertentu pula. Sementara pengiriman ke lokasi yang dekat biasanya diangkut langsung dalam bentuk susunan saat dibeli (campuran). Jalur ketiga, petani menjual jeruk kepada pengirim dengan kualitas campuran dimana biaya panen dan pasca panen merupakan tanggungan pembeli. Pengirim jeruk di Tanah Karo umumnya membuat jaringan pemasaran dengan grosir di Pulau Jawa. Jaringan ini biasanyaterbentuk dari pihak-pihak yang masih terikat dalam hubungan keluarga atau kerabat, karena dalam jaringan dibutuhkan rasa saling percaya dan ikatan moral yang kuat berkaitan dengan perputaran bisnis dan keuangan. Biaya pembelian, transport dari Tanah Karo ke Pulau Jawa dan biaya operasional penjualan di lokasi tujuan (sewa atau pembelian lapak, retribusi, kebersihan, listrik, keamanan dan tenaga) di tanggung bersama oleh pengirim dan grosir.
Keuntungan atau kerugian yang diperoleh pun menjadi tanggungan bersama.Bentuk lain adalah sistem komisioner. Grosir menanggung semua biaya dalam perolehan jeruk dari petani atau pedagang pengumpul, sementara pengirim memperoleh komisi dari satuan berat jeruk yang diperoleh dengan besaran Rp 100-Rp 250 per kg (tergantung harga beli dan jual jeruk). Sistem ini membebaskan pengirim dari segala kemungkinan/resiko kerugian akibat fluktuasi harga, kerusakan, hilang maupun tidak terjual. Total biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengirim untuk mengirim jeruk termasuk biaya ekspedisi per 5 ton jeruk dapat mencapai Rp 6.547.000 (biaya ekspedisi/ pengiriman diantaranya sebesar Rp 4.800.000), seperti terlihat pada Tabel 4.

Uraian Satuan Jumlah Harga per
satuan Nilai Keterangan
A. Perolehan jeruk
Komisi kepada calo
(jika ada)
B. Perlakuan
1. Keranjang kpst
60-65 kg
2. Koran
3. Rukus
4. Tali
5. Operasional
pedagang
6. Tenaga petik,
sortir, pack-ing
dll
Total biaya perlakuan
C. Biaya ekspedisi
TOTAL (A+B+C) Kg








Buah


Kg
Karung
Gulung

--
orang

…………




keranjang
…………. 6.000








100


40
12
1

--
5

…………




100
………… 100








6.000


2.000
6.000
45.000

100.000

50.000
……………..



48.000
…………….. 600.000








600.000


80.000
72.000
45.000

100.000

250.000
----------------
1.147.000


4.800.000
----------------
6.547.000 Biaya ini dihitung
untuk pembelian
sejumlah 6 ton dengan
kualitas campuran.
Packing yang
dihasilkan sudah
diklasifikasi da-lam
bentuk kelas mutu.
Khusus untuk kelas
unyil dan guli ikut di
packing tetapi dijual di
pasar buah .
Sumber: Data




Biaya pengiriman jeruk dari Tanah Karo ke Pulau Jawa seperti Jakarta misalnya,mengeluarkan biaya antara Rp 40.000 hingga Rp 48.000 per keranjang (sebelum kenaikan BBM). Pengiriman sampai ke Bandung membutuhkan biaya sebesar Rp 50.000 per keranjang. Menurut pihak ekspedisi, biaya ini termasuk tinggi. Penyebabnya antara lain: sebagian besar truk di pakai ke Aceh (berkaitan dengan musibah tsunami), permintaan pengiriman barang cukup banyak karena musim panen raya dan kondisi jalan cukup buruk sehingga pihak ekspedisi membutuhkan biaya ekstra menjaga kemungkinan kerusakan dan keterlambatan di jalan. Pada bulan Pebruari hingga Mei dan September hingga November biasanya pengiriman jeruk relatif sedikit.
Beberapa resiko yang ditanggung oleh ekspedisi terkait pengiriman barang gampang busuk seperti jeruk antara lain: (1) Barang diganti total jika terjadi kecelakaan dengan kerusakan barang mencapai 60 persen. Kerusakan dibawah angka tersebut disesuaikan dengan cara negoisasi; (2) Barang diganti total jika terjadi kehilangan barang selama perjalanan; (3) Keterlambatan barang tiba ditujuan lebih dari seminggu biasanya penggantian tergantung tingkat harga di pasar. Jika harga tinggi, banyak pemilik barang tidak mengklaimkarena proses penggantian memakan waktu agak lama, sedang harga terus berfluktuasi.Tetapi jika harga jual jeruk rendah, pemilik cenderung meminta ganti barang kepadaekspedisi.
Faktor lain yang menyebabkan tingginya biaya pengiriman adalah:sifat barang yang cepat busuk sehingga perlu waktu lebih cepat untuk sampai ke tujuan, jalan yang relatif rusak sehingga diperlukan biaya operasional perjalanan yang lebih tinggi, banyaknya kutipan resmi dan tidak resmi di sepanjang perjalanan (menurut penelitian BPTP Sumatera Utara, terdapat sekitar 28 kutipan resmi dan 17 kutipan tidak resmi) dan sebagainya.
Tempat kedatangan jeruk Tanah Karo dalam partai besar di Jakarta dilakukan di Penas, Jakarta Timur dan di Pasar Induk Kramat Jati. Namun ada beberapa tempat pembongkaran yang skalanya lebih kecil yakni di Cililitan, Pasar Induk Cibitung, Senen dan Pasar Induk Tanah Tinggi di Tangerang. Prilaku pemasaran dalam semua pusat kedatangan barang tidak jauh berbeda.
Pedagang grosir menerima barang berikut nota pengiriman yang dibawa oleh petugas ekspedisi. Sebelum jeruk tiba, pengirim sudah menghubungi pedagang grosir mengenai jumlah, kualitas dan harga pembelian jeruk. Komunikasi banyak dilakukan melalui telepon. Tidak jarang terjadi perbedaan penilaian mengenai kelas mutu jeruk antara pengirim dan grosir . Hal ini sangat potensial menimbulkan permasalahan terutama dalam hal pembayaran.
Penjualan jeruk oleh grosir kepada pedagang pengecer dilakukan per keranjang sesuai kelas mutu yang ditetapkan oleh penjual. Kecuali untuk penjualan ke Pasar Modern (harus sesuai dengan persyaratan yang diminta pasar tersebut), pedagang grosir tidak melakukanpembongkaran packing jeruk. Packing penjualan menggunakan packing pengiriman. Packing bentuk keranjang merupakan ciri khas Jeruk Medan di seluruh pasar pasar. Jeruk daerah lain maupun jeruk impor lebih umum dipacking dalam bentuk kotak/peti. Jeruk yang dikirim ke Jakarta (Jawa pada umumnya) adalah kelas A (super), AB, B dan C. Kelas mutu yang paling banyak adalah kelas B dan C. Jeruk yang dibongkar di Pasar Induk langsung diangkut ke lapak pedagang grosir (di Pasar Induk lebih dikenal dengan bandar). Biaya bongkar dan pikul ditanggung oleh pedagang grosir. Jeruk ini dibeli oleh pecenteng (pedagang di bawah bandar/sub bandar dan menjual barangnya kepada pengecer di pasar tradisional) dan pedagang pengecer dari berbagai tempat atau pasar disekitar Jakarta. Pecenteng umumnya mempunyai lapak di Pasar Induk, tetapi volume penjualan/assetnya lebih kecil dari bandar.
Harga jual jeruk di Pasar Induk pada waktu tertentu tidak terpatok pada range angka tertentu pula, melainkan sangat ditentukan oleh banyaknya bongkar barang pada saat itu. Harga bisa berubah dari waktu ke waktu. Harga bisa mendadak turun jika banyak truk yang membongkar barang dan akan naik tiba-tiba jika pasokan barang hanya sedikit. Harga jual kelas super mencapai Rp 6.500, kelas AB Rp 5.500, kelas B Rp 4.500 dan kelas C Rp 3.500 per kg.
Mekanisme penjualan relatif beragam, namun kasus yang paling umum adalah pembeli yang datang untuk menawar, memilih, menyaksikan penimbangan dan membayar jeruk yang akan dibeli. Pembayaran biasanya dengan cara tunai. Biaya muat angkut dan bongkar merupakan tanggung jawab pembeli. Ada juga pedagang yang menggunakan sistem nota yakni dengan dua atau tiga nota baru bayar satu. Biasanya diberikan kepada pedagang yang sudah benar-benar dikenal (langganan tetap). Semua bentuk hubungan di atas tidak memperkenankan pengembalian barang yang sudah dibeli. Pada kasus barang sudah 2-3 hari belum terjual, sementara pasokan jeruk terus bertambah, pedagang grosir/bandar menawarkan jeruk kepada pedagang-pedagang pengecer. Harga ditawarkan di bawah harga pasar dengan cara mengantar jeruk tersebut sampai ke alamat pembeli tanpa tambahan biaya antar maupun bongkar muat.

Marjin Pemasaran
Dari uraian sebelumnya, maka berikut ini pada Tabel 5, disajikan sebaran marjin pemasaran komoditas jeruk pada berbagai kelembagaan pemasaran. Rataan marjin pemasaran untuk komoditas jeruk terbesar diperoleh kelembagaan pemasaran (KP) supermarket (Rp 4.300/kg), lalu diikuti oleh KP pedagang pasar induk (Rp 1.000/kg), dan yang diraih oleh KP pedagang pengecer sebesar Rp 900/kg. Pedagang pengumpul desa dan perkoper memperolehmarjin pemasaran masing-masing sebesar Rp 150/kg dan Rp 125/kg. Dari gambaran di atas tampaknya penyebaran marjin pemasaran relatif tidak merata, tetapi lebih mengelompok pada kelembagaan pemasaran supermarket, supplier, pedagang pasar induk dan pengecer.

Kelembagaan Pemasara
Harga Jual
(Rp/kg) Marjin
Pemasaran
(Rp/kg) Farmer
share 1)
1. Petani
2. Ped. Pengumpul Desa
3. Perkoper
4. Pengirim/Grosir
5. Pedagang Antar Pulau
6. Pedagang Pasar Induk
7. Pengecer
8. Pasar Modern/Supermarket 1.200
1.500
1.650
2.500
1.750
5.000
7.000
12.000 -
150
125
300
350
1.000
900
4.300 -
80,00
72,73
48,00
68,57
24,00
17,14
10,00



Selanjutnya, bila dilihat dari segi persentase bagian harga yang diterima petani tampaknya cukup kecil terutama terhadap dengan kelembagaan pemasaran pasar modern(10%), pengecer (17,14%), dan pedagang pasar induk (24%). Dalam hal ini mengisyaratkanbahwa peningkatan harga yang diraih oleh ketiga kelembagaan pemasaran tersebut kurang dapat tertransmisikan dengan baik ke tingkat petani. Akibatnya, harga di tingkat petani rendah dan kurang memberikan insentif bagi kinerja usahatani jeruk yang lebih baik lagi.

आरती KEHIDUPAN

by PUTRA SIAK  |  in रेनुंगन हिदू[P at  Senin, Oktober 31, 2011
Coba tanya diri anda masing – masing. Apa arti hidup menurut anda?

Hidup adalah …. .

Coba isi titik – titik yang tersedia setelah kata adalah. Pertanyaan ini sederhana, namun saya yakin isinya pasti beragam. Bisa jadi hidup adalah perjuangan, atau hidup adalah tantangan, atau hidup adalah perjalanan, dll.

Jawaban dari pertanyaan tadi bisa jadi beragam, namun ada satu hal yang perlu diperhatikan : Jawaban dari pertanyaan tersebut mencerminkan keyakinan anda atas kehidupan. Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjuangan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang harus di perjuangkan. Maka dari itu, hari hari dalam hidupnya akan dijalani dengan berjuang. Sedangkan orang yang meyakini bahwa hidup adalah tantangan, akan melihat bahwa hidup yang dijalaninya adalah tantangan yang harus di pecahkan. Dia akan menjalani kehidupannya dengan “memecahkan tantangan”. Orang yang meyakini bahwa hidup adalah perjalanan akan melihat bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang harus dicapai tujuannya. Maka dari itu dia akan menjalani kehidupannya dengan “berjalan” diatasnya.

Cara kita meyakini kehidupan akan berimbas ke pola pikir kita. Pola pikir akan mempengaruhi tindakan, dan tindakan akan menghasilkan nasib.

Sekarang, bagaimana kita sebagai orang beriman seharusnya memandang kehidupan?

Terjemahan Q.S. Al – Hadid ( 57 ) Ayat 20 :

Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

Note that : hidup adalah permainan. Waw, apakah ini berarti yang kita lakukan selagi hidup ini adalah bermain dan bersenang – senang?

Pahami konteks keseluruhan tersebut. Pemahaman yang coba di ajarkan Tuhan melalui (terjemahan) wahyu ini adalah bahwa hidup adalah sebuah permainan yang jangka waktunya pendek, maka dari itu kita harus menjadi pemain dari “permainan kehidupan”, bukannya main – main dalam kehidupan.

Maksudnya?

Pemain adalah mereka yang memainkan permainan dengan serius. Cermati contoh ini : pemain sepak bola. artinya? Mereka yang bermain sepak bola yang serius mengikuti permainan sepak bola dan mematuhi peraturan – peraturannya.

Sekarang perhatikan mereka yang menjadikan dirinya “pemain” sepak bola yang sungguh – sungguh : contoh, Kaka. Apa yang Tuhan berikan kepada Kaka yang menjadikan dirinya “pemain” sepak bola? kehidupan yang luar biasa, penghasilan yang melimpah, popularitas, jutaan penggemar, dll.

Itu baru menjadikan diri sebagai “pemain” sepak bola yang notabene dibatasi oleh 45menit X 2 dalam lapangan rumput persegi dan bola bundar.

Bisa bayangkan apa yang akan Tuhan berikan jika anda menjadi “pemain” dari permainan besar kehidupan? Menjadikan diri anda seorang manusia profesional yang mengikuti peraturan dunia dan “bermain” / menjalani kehidupan dengan serius?

Imagine that.

Tanya kembali diri anda : Apa arti kehidupan bagi anda?

P.S.
Sebelum ada yang bertanya apa itu peraturan kehidupan? jawabannya adalah peraturan ( dan petunjuk ) yang di sampaikan oleh Nabi yang menjadi panutan anda. Apa lagi memangnya?
Materi ini saya dapat dari forum liqo yang saya ikuti tadi malam. Liqo secara bahasa bermakna lingkaran, sedangan liqo secara istilah yang saya maksud disini adalah sekumpulan orang yang duduk membentuk lingkaran kecil ( antara 5 – 10 orang ), dimana dalam forum tersebut ada seorang yang berperan menjadi mentor dan sisanya menjadi murid. Yang dibahas dalam forum liqo adalah berbagai hal yang benang merahnya adalah peran kita di dunia sebagai seorang beriman yang perannya adalah menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Saya setuju dengan Bapak Ary Ginanjar : Jika ada ayat dari Al – Qur’an yang saya kutip, bukan bermakna tulisan ini ditujukan untuk penganut agama islam saja. Bukan dunia untuk islam, melainkan islam UNTUK dunia.

Proudly Powered by Blogger.