by PUTRA SIAK | 
in
EKONOMI
at Rabu, November 02, 2011
Pengertian dan Nilai Mata Uang
Sejarah Uang
Kebutuhan manusia yang semakin tidak terbatas membuat manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Pada mulanya setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri, singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.
Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akhirnya mereka melakukan pertukaran barang yang disebut barter untuk memenuhi kebutuhannya.
Pertukaran secara barter memiliki kekurangan seperti sulit menemukan barang yang sesuai kebutuhan, sulit menentukan nilai tukar barang dan sulit menyimpan barang yang akan ditukarkan, maka manusia memikirkan suatu barang yang dapat digunakan sebagai perantara dalam pertukaran yaitu uang.
Pengertian Uang
Uang adalah sesuatu yang dapat dipergunakan untuk mempermudah pertukaran dan sebagai alat pembayaran yang sah.
Syarat-syarat uang adalah :
- Diterima secara umum.
- Dapat bertahan lama.
- Nilainya tetap.
- Mudah disimpan.
- Mudah dipindah-pindahkan.
- Mudah dibagi tanpa mengurangi nilainya.
Fungsi uang terbagi 2 yaitu :
1. Fungsi asli yaitu :
- Alat tukar menukar
- Satuan pengukur nilai.
2. Fungsi turunan yaitu :
- Alat pembayaran utang
- Alat penyimpan kekayaan
- Alat untuk meningkatkan status sosial
- Alat menabung.
Nilai Mata Uang
- Nilai Nominal adalah nilai yang tertera pada uang tersebut.
- Nilai Intrinsik adalah nilai dari bahan yang dipergunakan untuk membuat mata uang tersebut.
- Nilai Riil (Nilai Internal) adalah nilai uang yang diukur dengan kemampuan uang tersebut untuk ditukar dengan barang atau jasa.
- Nilai Eksternal adalah nilai uang yang diukur dengan kemampuannya untuk ditukarkan dengan valuta asing.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2130700-pengertian-uang-sejarah-uang-syarat/#ixzz1ZOejkcbE
Morfologi tanah : suatu prasarana dalam penyelidikan ilmiah dengan tujuan untuk menguraikan, melukiskan dan melaporkan kemampatan, ciri-ciri, dan sifat tanah yang dimiliki oleh suatu profil tanah.
Profil Tanah : penampang melintang tanah yang menampakkan lapisan-lapisan tanah (horizon)
Horizon : lapisan tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan bumi dan mempunyai ciri-ciri tertentu (khas)
Solum (tubuh tanah) : tanah yang berkembang secara genetis; merupakan lapisan tanah mineral dari atas sampai sedikit dibawah batas atas horizon C
Top Soil (Tanah Atasan) : lapisan tanah yang paling atas yang dapat diartikan : (1) horizon Ap; (2) Horizon A1 (3) Horizon A seluruhnya (4) lapisan tanah yang subur karena mengandung banyak bahan organik tanah
Surface soil (tanah permukaan) : lapisan tanah permukaan yang biasanya terpindahkan (moved by) waktu pengolahan tanah (tebalnya 12-20 cm) yang biasanya tererosi
Subsurface horizon (tanah bawah permukaan) : bagian horizon A yang terdapat dibawah surface soil
Subsoil (Tanah bawahan) : horizon B bagi tanah yang sudah terbentuk horizon; sedang bagi tanah yang sedang berkembang berarti lapisan tanah dibawah tanah permukaan dimana terdapat pertumbuhan akar yang normal
Substratum (lapisan bawah tanah) : lapisan dibawah solum, baik horizon C maupun horizon R.
Syarat profil : (1) tegak (vertikal)
(2) baru
(3) tidak terkena sinar matahari langsung
(4) tidak tergenang air
(5) mewakili tapak sekeliling
Step-step pengamatan profil tanah :
1. membuat lubang profil (1m x 1m x 1m) atau tebras tebing
2. Menentukan batas-batas horizon, berdasarkan suara, warna dan kekerasan.
3. Mengukur batas-batas horizon dalam satuan cm
Batas horizon :
(a) jelas tidaknya
t – tegas (abrupt) : tebal batas kurang dari 2,5 cm
j –jelas (clear) : tebal batas 2,5-6,0 cm
a – berangsur (gradual) : tebal 6,0-15 cm
k-kabur (diffuse) : lebih dari 15 cm
(b) Topografi batas :
r- rata (smooth)
0- berombak (wavy)
i- tidak teratur (irregular)
ii- patah (broken)
4. Mengamati sifat-sifat atau kenampakan tanah
a. Warna tanah
b. Tekstur Tanah
c. Struktur Tanah
d. Konsistensi
e. PH tanah
f. Perakaran
g. Bahan-bahan kasar dan bentukan istimewa (padas, konkresi)
SIFAT FISIK TANAH
Sifat fisik tanah : tekstur, struktur, kepadatan tanah, porositas, konsistensi, warna, air tanah, temperatur, aerasi.
Tanah terdiri dari 3 komponen :
Komponen padatan terdiri atas mineral anorganik dan bahan organik.
Komponen cair (liquid) terdiri atas air, ion yang terlarut, molekul, gas yang secara kolektif disebut : cairan tanah (soil solution).
Komponen gas tanah seperti gas atmosfer di atas tanah tetapi berbeda proporsinya.
Volume tanah = volume pori (air, gas) + volume padatan = konstan; untuk tanah yang tidak mengembang/swelling
Tanah berswelling tidak konstan tergantung dari kandungan airnya
Tanah ideal = 50% padatan dan 50% pori (45% bahan anorganik,5% organik)
Pori = makro berisi udara atmosfer berisi air (air ditahan oleh gaya adhesi partikel tanah dengan air melawan gaya gravitasi).
Untuk analisis diperlukan berat tanah kering mutlak. Caranya dengan mengringovenkan pada suhu 105°C selama 48 jam yang dikenal dengan nama oven-dry-weight. Jumlah kalsium, potassium, bahan organik, air tanah dihitung berdasarkan oven-dry-weight.
WARNA TANAH
secara langsung mempengaruhi penyerapan sinar matahari dan salah satu faktor penentu suhu tanah
secara tidak langsung berhubungan dengan sifat-sifat tanah, misal informasi subsoil drainase, kandungan bahan organik surface horizon, pembeda antar horison
diukur dengan menggunakan standar warna (Soil Munsell Color Chart)
Keterangan Soil Munsell Color Chart :
“ The Munsell notation identifies color by use of three variables : Hue, Value, and Chroma.
Hue is the dominant spectral color, that is, whether the hue is a pure color such as yellow, red, green or a mixture of pure color, such as yellow-red. Mixtures are identified numerically according to the amount of yellow or red used to produce the mixture. 5YR is an equal of red and yellow. As the number increases, the amount of the first color (yellow) increases and the second color (red) decreases.
Value and Chroma are terms that refer to how the hue is modified by the addition of gray.
Value is the degree of lightness or brightness of the hue reflected in the property of the gray color that is being added to the hue. A particular value (gray) is made by mixing a pure white pigment (10) with a pure black pigment (0). If equal amounts of white and black pigments are mixed, the value is equal to 5.
Chroma is the amount of gray of a particular value that is mixed with the pure hue to obtain the actual soil color. A chroma of 1 would be made by adding 1 unit of pure hue to a certain amount of gray; a chroma of 5 would contain 5 units of pure hue to the amount of gray. The lower the chroma, the closer the color is to the pure gray of that value. “
Interpretasi : Warna tanah disebabkan oleh adanya bahan organik, dan atau status oksidasi senyawa besi dalam tanah.
tanah yang dibentuk oleh bahan induk basalt sering berwarna sangat gelap jika tanah tersebut mengandung sedikit atau tidak ada bahan organik
Status oksidasi besi terutama di lapisan bawah : tanah yang aerasi dan drainase bagus, senyawa besi berada dalam bentuk oksidasi (Ferri/Fe3+) dan memberikan warna merah atau kuning; tanah yang aerasi dan drainase jelek, senyawa besi tereduksi dalam bentuk ferro (Fe2+) akan memberikan warna abu-abu (gray)
Hubungan antara warna tanah dengan kandungan bahan organik di Illinois, USA
Notasi Munsell
(kondisi lembab) Bahan Organik (%)
Range Average
10 YR 2/1 3,5-7,0 5,0
10YR 3/1 2,5-4,0 3,5
10 YR 3/2 2,0-3,0 2,5
10 YR 4/2 1,5-2,5 2,0
10 YR 5/3 1,0-2,0 1,5
TEKSTUR TANAH
• Sifat kimia, fisika dan mineralogi partikel tanah tergantung pada ukuran partikelnya.
• Semakin kecil ukuran partikel maka luas permukaannya semakin besar. Jadi, luas permukaan fraksi liat > fraksi debu > fraksi pasir
• Sebagai contoh :
Partikel bentuk bola dengan berat 1 gr dengan bulk density 2,65 g/cm3 dipecah menjadi 106 partikel yang lebih kecil berbentuk bola dengan berat masing-masing partikel 10-6 g.
Maka :
Luas permukaan untuk partikel dengan berat 1 gr adalah sbb :
Volume = (1 g)/(2,65 g/cm3) = 0,377 cm3
Volume bola = 4/3 r3 sehingga r3 = (0,377 x 3)/4 = 0,0901
Radius = r = 0,448 cm = 4,48 x 10-3 m
Luas permukaan (Surface area/SA) = 4r2 = 2,52 x 10-4 m2
Setelah dipecah menjadi partikel yang lebih kecil :
Volume = (10-6)/(2,65 g/cm3) = 3,77 x 10-7 cm3
r3 = 3,77 x 10-7 cm3 x 3 = 9,01 x 10-8 cm
4
r = 4,48 x 10-5 m
SA dari masing-masing partikel kecil = 4r2
= 4 x x (4,48 x 10-5 m)2 = 2,52 x 10-8 m2/partikel
Kolektif SA = 2,52 x 10-8 m2/partikel x 106 = 2,52 x 10-2 m2
• Dengan kata lain,
Pemecahan partikel seberat 1 gr menjadi 106 partikel kecil dapat meningkatkan luas permukaan 100 kali lipat dari 2,52 x 10-4 m2 menjadi 2,52 x 10-2 m2
• Klasifikasi Ukuran Partikel
Sumber Soil separates
Kerikil pasir debu liat
USDA > 2mm 2 mm–50 m 50 m-2 m < 2m
ISSS > 2mm 2 mm-20 m 20 m-2 m < 2m
USPRA > 2mm 2 mm-50 m 50 m-5 m < 5m
BSI, MIT, DIN > 2mm 2 mm-60 m 60 m-2 m < 2m
• Tekstur tanah diartikan sebagai proporsi pasir, debu dan liat
• Partikel ukuran lebih dari 2mm, bahan organik dan agen perekat seperti kalsium karbonate harus dihilangkan sebelum menentukan tekstur
• Tanah bertekstur sama misal geluh berdebu mempunyai sifat fisika dan kimia yang hampir sama dengan syarat mineralogi liat
• Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium dengan metode pipet atau metode hidrometer
• Tekstur tanah menentukan tata air, tata udara, kemudahan pengolahan dan struktur tanah
STRUKTUR TANAH
Merupakan gumpalan tanah yang berasal dari partikel-partikel tanah yang saling merekat satu sama lain karena adanya perekat misalnya eksudat akar, hifa jamur, lempung, humus, dll.
Ikatan partikel tanah berwujud sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya
Pengamatan struktur tanah di lapangan (SSS, 1975) terdiri dari :
1. Pengamatan bentuk dan susunan agregat tanah tipe struktur (lempeng, tiang, gumpal, remah, granuler, butir tunggal, pejal)
2. Besarnya agregat klas struktur (sangat halus, halus, sedang, kasa, sangat kasar)
3. Kuat lemahnya bentuk agregat derajad struktur (tidak beragregat, lemah, sedang, kuat)
KONSISTENSI TANAH
Adalah derajad kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah dan ketahanan massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang mempengaruhi bentuk tanah
Konsistensi ditentukan oleh tekstur tanah dan struktur tanah
Cara penentuan (1) lapangan : memijit tanah dalam kondisi kering, lembab dan basah (2) laboratorium : Angka-angka Atterberg
Penentuan di lapangan :
Kondisi kering : kekerasan (lepas, lunak, keras)
Kondisi lembab keteguhan (lepas, gembur, teguh)
Kondisi basah : kelekatan dan plastisitas
Penentuan di laboratorium : menentukan Batas Cair (BC), Batas Lekat (BL), Batas Gulung (BG) dan Batas Berubah Warna (BBW)
Batas Cair : kadar air yang dapat ditahan oleh tanah
Batas Lekat adalah kadar air dimana tanah tidak melekat ke logam
Batas Berubah Warna adalah batas air dimana air sudah tidak dapat diserap oleh akar tanaman karena terikat kuat oleh tanah
Jangka Olah (JO) : kadar air dimana tanah mudah diolah (BL-BG)
Derajad keteguhan (DT) : BC-BG
Surplus positif : Bl > BC artinya tanah mudah merembeskan air;
Surplus negatif : BL < BC : tanah sukar merembeskan air
Tillage (Pengolahan Tanah)
dapat memperbaiki sifat tanah atau dapat juga berpengaruh negatif misal menimbulkan erosi
dapat meningkatkan BD atau kerapatan tanah dan menghancurkan struktur
Efek deep tillage (90 cm) terhadap nilai BD tanah
Depth (cm) Nilai BD awal
(gr/cm3) Nilai BD akhir
(gr/cm3)
0-30 1,45 1,38
30-60 1,59 1,49
60-90 1,62 1,46
90-120 1,54 1,53
LENGAS TANAH
Lengas tanah adalah air yang terikat oleh berbagai gaya, misalnya gaya ikat matrik, osmosis dan kapiler
Gaya ikat matrik berasal dari tarikan antar partikel tanah dan meningkat sesuai dengan peningkatan permukaan jenis partikel tanah dan kerapatan muatan elektrostatik partikel tanah
Gaya osmosis dipengaruhi oleh zat terlarut dalam air maka meningkat dengan semakin pekatnya larutan, sedang gaya kapiler dibangkitkan oleh pori-pori tanah berkaitan dengan tegangan permukaan
Jumlah ketiga gaya tersebut disebut potensial lengas tanah atau tegangan lengas tanah, dan menjadi ukuran kemampuan tanah melawan gaya gravitasi
Ukuran lengas tanah adalah cm Hg, bar, dan pF
• 1 bar = 0,9869 atm = 105 Pascal = 75,007 cm Hg
• satuan cm air dibagi 1000 menjadi satuan bar
• pF = log10 cm H2O
Klasifikasi lengas tanah berdasar tegangan lengas tanah :
1. Kapasitas menahan air maksimum
Jumlah air yang dikandung tanah dalam keadaan jenuh, semua pori terisi penuh air. Tegangan lengas tanah = 0 cm H2O, 0 bar atau pF 0
2. Kapasitas lapang
Jumlah air yang terkandung tanah setelah air gravitasi hilang. Tegangan lengas = 346 cm H2O; 0,3 bar atau pF 2,54.
3. Titik layu tetap
Tingkat kelengasan tanah yang menyebabkan tumbuhan mulai memperlihatkan gejala layu. Tegangan lengas tanah = 15,849 cm H2O; 15 bar; pF 4,17
4. Koefisien higroskopik
Jumlah lengas tanah yang dijerap permukaan partikel tanah dari uap air dalam atmosfer yang berkelembaban kira-kira 100%. Tegangan lengas tanah = 31 bar; atau pF 4,5.
5. Kering angin
Kadar air tanah setelah diangin-anginkan di tempat teduh sampai mencapai keseimbangan dengan kelengasan atmosfer. Tegangan lengas = 106 cm H2O; 1000 bar; pF 6.
6. Kering oven
Kadar air tanah setelah dikeringkan dalam oven pada suhu 105-110 C sampai tidak ada lagi air yang menguap (timbangan tetap; biasanya membutuhkan waktu 16-18 jam). Tegangan lengas tanah = 107 cm H2O; 10.000 bar; atau pF 7,0.
Klasifikasi fisik :
(1) air bebas (air gravitasi) : air yang diatus oleh gaya gravitasi. Air dalam kondisi jenuh dan berada diantara pF 0 dan pF 2,54 (diantara jenuh air dan kapasitas lapang)
(2) air kapiler : air dalam pori-pori tanah dengan tegangan antara pF 2,54 dan 4,5 (kapasitas lapang dan koefisien higroskopis)
(3) air higroskopis : air di permukaan tanah yang dipegang antara pF 4,5 dan 7,0 (antara koefisien higroskopis dan kering oven)
Klasifikasi biologi :
(1) air tidak berguna : setara dengan air bebas menurut klasifikasi fisik. Kelas ini tidak berlaku bagi padi di sawah dan hidrofit yang hidup dalam jenuh air
(2) air tersedia : air yang terdapat diantara kapsitas lapang dan titik layu tetap (pF 2,54 dan 4,17), dan
(3) air tidak tersedia : air yang berada pada tegangan diatas titik layu tetap (diatas pF 4,17). Air dipegang tanah dengan tegangan lebih kuat dibanding kekuatan akar menyerap air.
Kandungan air dalam tanah mempengaruhi sifat tanah seperti plastisitas, kembang dan kerut tanah, konsistensi, kepadatan, dan aerasi
Air tanah juga sangat berperan dalam siklus hidrologi.
KEPADATAN TANAH
Kepadatan Tanah (Density) adalah berat padatan suatu obyek dibagi volume padatan.
Kepadatan ada 2 : (1) Berat jenis (Partikel Density) (2) Berat Volume (Bulk Density)
Partikel Density (PD) adalah berat padatan tanah (solid,without pore) dibagi dengan volumenya (solid, without pore).
- PD kebanyakan tanah adalah 2,6-2,7 g/cm3.
- Kepadatan padatan (solid) tanah mendekati kepadatan kuarsa (2,6 gr/cm3) karena kebanyakan mineral tanah adalah mineral silikat
- Adanya besi dan mineral berat lainnya (seperti olivin) cenderung meningkatkan PD.
Bulk Density (BD) : berat padatan (pada kering konstan) dibagi total volume (padatan+pori)
- BD tanah yang ideal berkisar antar 1,3 – 1,35 g/cm3.
- BD pada tanah berkisar >1,65 g/cm3 untuk tanah berpasir; 1,0-1,6 g/cm3 pada tanah geluh yang mengandung BO tanah sedang-tinggi
- BD mungkin lebih kecil dari 1 g/cm3 pada tanah dengan kandungan BO tinggi
- BD sangat bervariasi antar horizon tergantung pada tipe dan derajad aggregasi, tekstur dan BO tanah. Bulk Density sangat sensitif terhadap pengolahan tanah. Tillage benar, BD turun dan sebaliknya.
POROSITAS TANAH
Distribusi, kontinuitas pori menentukan aliran air dan udara
Persen pori 50% merupakan kondisi ideal tanah dimana setengahnya makro pori untuk meneruskan air karena adanya gravitasi dan setengahnya mikropori untuk menahan air dari tarikan gravitasi
Tanah mineral normalnya 30-60%
Jumlah pori ditentukan oleh tekstur dan tipe lempungnya
Porositas (%) = (1-BD/PD) x 100%
Morfologi Lahan
1. Relief
Untuk menunjukkan perbedaan tinggi tempat (elevation)
Dibedakan atas makrorelief (seluas pandangan kita) dan mikrorelief (batas yang sempit, misal tempat profil dibuat)
Topografi = relief, tapi digunakan untuk ciri-ciri yang meliputi peta kontour
2. Kemiringan atau Lereng
Kemiringan berpengaruh terhadap : (1) jumlah dan kecepatan run off (2) penggunaan mesin-mesin (3) pengolahan tanah
Diukur dengan Abney Level atau Suunto meter dalam derajad atau persen
Dibedakan :
0-3% : Datar (flat)
3-8% : Berombak (undulating)
8-16% : bergelombang (wavy)
16-30% : berbukit (hilly)
30-65% : curam (steep)
> 65% : sangat curam (very steep)
Perlu diukur tinggi tempat dan exposure.
Tinggi tempat : geologi, iklim dan bentuk permukaan bumi
Exposure : pengaruh lansung terhadap sinar matahari, air, angin
Drainase
Merupakan kecepatan perpindahan air dari suatu tanah baik berupa aliran permukaan (run off) maupun air yang masuk kedalam tanah (perkolasi)
1. Aliran permukaan (Run off) : diamati dengan membandingkan air yang mengalir di permukaan tanah dengan jumlah curah hujan.
Dibedakan :
0-tergenang : tidak ada run off; terdapat di daerah cekung
1-sangat lambat : aliran permukaan sangat lambat, shg air akan hilang karena masuk ke dalam tanah atau menguap; tanah datar, bersifat porous
2-Lambat : air permukaan lambat, air masih tergenang, sebagian menguap dan masuk ke tanah; tanah datar sampai landai
3-sedang : air permukaan mengalir sedemikian rupa, ada air yang masuk ke tanah, permukaan tanah basah dalam waktu lama; sebagain besar air diserap dalam tanah dan tersedia bagi tanaman, bahaya erosi kecil.
4-cepat : seebagian besar dialirkan sebagai air permukaan dan hanya sebagian kecil yang meresap ke dalam tanah; pada daerah yang miring hingga curam dan mempunyai kapasitas infiltrasi rendah, sehingga bahaya erosi cukup besar
5-sangat cepat : hampir semua air hujan dialirkan sebagai aliran permukaan; biasanya pada daerah yang curam sampai sangat curam dengan kapasitas inflitrasi sangat rendah sehingga bahaya erosi sangat besar
2. Drainase dakhil : aliran air masuk ke dalam tanah yang dinyatakan dalam frekuensi dan lamanya penjenuhan air.
Dipengaruhi oleh : tekstur, struktur, tinggi air tanah.
Dibedakan atas :
0-tanpa : tanpa peresapan air kedalam tanah sehingga tanah terus-menerus jenuh air
1-sangat lambat : terlalu lambat masuknya air kedalam tanah, tanah tetap jenuh selama 1-2 bulan; cirinya profil tanah penuh dengan warna bercak; permukaan air tanah tinggi; pertumbuhan tanaman terhambat
2-lambat : masuknya air ke dalam tanah lambat; tanah jenuh air selama 1-2 minggu; profil tanah dengan horizon A hitam atau kelabu, bercak atau bintik pada horizon B; permukaan air tanah cukup tinggi; menghambat perkembangan akar tanaman
3-sedang : tanah jenuh air hanya beberapa hari di daerah basah; profil tidak berbercak; tidak menghambat perkembangan akar tanaman
4-cepat : peresepan air cepat tetapi masih ada penjenuhan beberapa jam
5-sangat cepat : peresapan air kedalam tanah terlalu cepat sehingga sering tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman; tidak pernah jenuh air; tidak terdapat bercak
Dilaboratorium penetapan peresapan air (drainase dakhil) dengan menentukan permeabilitas tanah yaitu derajad peresapan tanah pada waktu tertentu. Dibedakan atas :
- tinggi : kecepatan > 10-1 cm/detik
- sedang : kecepatan antara 10-1 – 10-4 cm/detik
- rendah : kecepatan 10-4 – 10-5 cm/detik
- sangat rendah : kecepatan10-5 – 10-6 cm/detik
- impermeabel : kecepatan kurang dari 10-6 cm/detik
Kelas drainase umum :
0-sangat buruk : ada genangan air, mencegah pertumbuhan tanaman, memerlukan drainase buatan; terlihat gleisasi
1-buruk : tanah tetap basah untuk waktu lama; menghambat pertumbuhan tanaman; perlu drainase buatan
2-agak buruk : air masuk ke tanah lambat; tanah mempunyai permeabilitas rendah; permukaan air tanah tinggi; masih memerlukan drainase buatan
3-sedang : air masuk ke tanah masih lambat; profil tanah ada lapisan impermeabel atau permukaan air tanah tinggi
4-baik : air bergerak ke bawah tetapi tidak cepat; profil bebas dari bercak atau kalau ada dibawah horizon C; pertumbuhan tanaman normal
5-agak terlalu cepat : air masuk ke tanah terlalu cepat; sangat porous; produksi tanaman rendah kecuali ada irigasi
6-terlalu cepat : air masuk ke tanah sangat cepat; umumnya pada tanah Lithosol; berlereng curam atau sangat porous
Klas drainase dan status aerasi sering dapat ditentukan dari warna dan pola warna yang terdapat pada lapisan bawah
Warna merah dan coklat umumnya mengindikasikan adanya unhidrated ferri oksida seperti hematit (Fe2O3). Warna merah biasanya berasal dari bahan induk atau berkembang dari senyawa besi yang mengalami oksidasi selama perkembangan tanah. Umumnya warna merah stabil apabila tanah mempunyai aerasi yang bagus, yaitu moderately-well sampai well-drained
Warna kuning disebabkan adanya hydrated ferri oksida misalnya geothite (Fe2O3.H2O)
Warna abu-abu atau netral disebabkan oleh beberapa substansi, terutama kuarsa, kaolinit dan mineral liat lainnya, kalsium dan magnesium karbonat (limestones), mineral besi tereduksi (ferro)
Warna tanah sangat abu-abu (grayest), chroma kurang dari 1, terjadi pada horison tanah yang selalu jenuh air (permanently water-saturated)
MINERALOGI
Batuan induk terdiri dari berbagai macam mineral. Pada batuan beku yang belum terdekomposisi umumnya terdiri dari kuarsa dan feldspar.
Di tanah, kuarsa merupakan mineral utama yang terdapat di pasir dan debu. Fraksi clay didominasi oleh mineral lempung montmorillonit, kaolinit, besi dan aluminium oksida, besi dan aluminium hidroksida.
Batuan induk didominasi oleh 9 elemen (lihat tabel berikut ini).
Element Major Ion Percent Mass Basis
Oxygen O2- 60
Silicon Si4+ 20
Aluminium Al3+ 6
Hydrogen H+ 3
Sodium Na+ 3
Calcium Ca2+ 2
Iron Fe2+ and Fe3+ 2
Magnesium Mg2+ 2
Potassium K+ 1
Tabel tersebut menunjukkan oksigen jumlahnya terbanyak dan hanya satu-satunya unsur yang berupa anion
by PUTRA SIAK | 
in
EKONOMI
at Senin, Oktober 31, 2011
PERMINTAAN DAN PENAWARAN
A. Permintaan
Permintaan adalah : kesanggupan pembeli untuk membeli berbagai jumlah produk pada berbagai kemungkinan tingkat harga dalam waktu yang sama.
A. 1. Hukum Permintaan
Hukum permintaan berbunyi : jumlah produk yang diminta berbanding terbalik dengan harga, artinya : jika harga barang naik maka jumlah permintaannya akan turun dan sebaliknya. Tentu saja kondisi di atas bersifat ceteris paribus artinya semua faktor yang mempengaruhi berlakunya hukum permintaan dianggap tetap.
A. 2. Kurva Permintaan
Akibat dari adanya hukum permintaan tersebut kurva permintaan menjadi miring dari kiri atas ke kanan bawah, sehingga kurva permintaan dikatakan mempunyai kemiringan negatif, karena variable – variable yang bekerja dalam pemintaan bekerjanya berlawanan arah. Kurva permintaan tidak mungkin menyentuh sumbu P karena berapapun harganya pasti ada konsumen yang bersedia untuk membeli barang yang dihasilkan
A. 3. Pergeseran Kurva Permintaan
Kurva permintaan dikatakan mempunyai kemiringan negatif. Ia miring dari kiri atas ke kanan bawah. Kurva permintaan ini bisa bergeser disepanjang kurva permintaan apabila terjadi perubahan harga dan perubahan jumlah barang yang diminta.
P
P1 A
P2 B
0 Q1 Q2 Q
Sedangkan pergerakkan kurva permintaan hanya bisa terjadi apabila jumlah barang berubah. Kurva permintaan dikatakan bertambah apabila kurvanya bergerak ke kanan atas dan dikatakan berkurang apabila kurvanya bergerak ke kiri bawah.
P
D3
D2
D3
P1 b a c
0 Q
Q2 Q1 Q3
A. 4. Faktor – factor yang Mempengaruhi Permintaan
Faktor – faktor yang menyebabkan keadaan ( hukum permintaan tak berlaku ) tidak menjadi ceteris paribus dan mempengaruhi permintaan masyarakat adalah :
1. Selera masyarakat
2. Jumlah pendapatan
3. Intensitas kebutuhan
4. Adanya barang Substitusi
5. Banyaknya konsumen akan produk yang bersangkutan
Permintaan dapat dibedakan menjadi :
1. Permintaan absolut : permintaan yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan kemampuan
2. Permintaan potensial : permintaan yang disertai dengan kemampuan membeli
3. Permintaan efektif : permintaan yang benar – benar dilaksanakan
A. 5. Analisis Matematis
Analisi ini berguna untuk menggambar dan memperhitungkan harga dan jumlah permintaan secara lebih rasional matematis. Adapun hal – hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Fungsi permintaan dituliskan : Qd = a – b. P
Qd = jumlah barang yang diminta
a = konstanta
b = gradien garis
P = harga barang
2. Rumus persamaan garis melalui dua titik yaitu
P – P1 Q – Q1
P2 – P1 Q2 – Q1
3. Contoh Soal :
Harga / Price Jumlah yang dibeli ( Quantity Demand )
1500 45
2000 40
2500 35
2750 25
3500 22
B. Penawaran
Penawaran diartikan : kesediaan penjual untuk menjual berbagai jumlah produk pada berbagai tingkat harga dalam waktu yang sama.
B. 1. Hukum Penawaran
Hukum penawaran menyatakan bahwa : jumlah produk yang ditawarkan berbanding lurus dengan harga. artinya : jika harga naik maka jumlah barang yang ditawarkan juga akan naik dan sebaliknya, ceteris paribus
B. 2. Kurva Penawaran
Kurva penawaran mempunyai kemiringan positif artinya variable – variabelnya bekerja dalam arah yang sama. Kurva penawaran miring dari kiri bawah ke kanan atas.
B. 3. Pergeseran Kurva Penawaran
Sifat kurva penawaran dalam pergesaran dan pergerakkan kurva hampir sama dengan yang terjadi pada kurva permintaan hanya gambar kurva penawaran miring dari kiri bawah ke kanan atas. Selanjutnya kurva penawaran dikatakan bertambah apabila kurvanya bergerak ke kanan bawah dan dikatakan berkurang apabila kurvanya bergerak ke kiri atas.
S2
P S P S1
S3
P1 b b a c
P1
P2 a
0 Q 0 Q
Q2 Q1 Q2 Q1 Q3
B. 4. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Penawaran
Faktor – faktor yang menyebabkan hukum penawaran tak berlaku atau keadaan menjadi tak ceteris paribus lagi adalah :
1. Kemampuan produsen untuk berproduksi
2. Ekspektasi
3. Ketersediaan factor Produksi
4. Banyaknya perusahaan
5. Jumlah permintaan yang dihadapi perusahaan
B. 5. Analisis Matematis
Analisi ini berguna untuk menggambar dan memperhitungkan harga dan jumlah penawaran. Adapun hal – hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Fungsi penawaran dituliskan : Qs = - a + b. P
Qs = jumlah barang yang ditawarkan
a = konstanta
b = gradien garis
P = harga barang
2. Rumus persamaan garis melalui dua titik yaitu
P – P1 Q – Q1
P2 – P1 Q2 – Q1
3. Contoh Soal :
A. Aspek Permintaan
Di samping menimbulkan penurunan kinerja ekonomi, depresiasi nilai rupiah terhadap mata uang asing khususnya dollar AS memberikan berkah bagi produk-produk Indonesia berkandungan impor rendah untuk go internasional. Khususnya dalam memanfaatkan peningkatan daya saing atau paling tidak dalam rangka melakukan substitusi impor. Substitusi impor melalui peningkatan produksi dan produktivitas dalam negeri di segala subsektor pertanian, merupakan salah satu bentuk pemanfaatan ini, salah satu diantaranya untuk komoditi kacang kedelai.
B. Perkembangan Impor Kedelai
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya, Indonesia masih harus terus melakukan impor yang rata-rata sebesar 40% dari kebutuhan kedelai nasional meningkat dari tahunke tahun, produksi dalam negeri masih relative rendah dan memiliki kecenderungan terus menurun.
Hal ini menyebabkan ketergantungan akan kedelai impor terus berlangsung dan memiliki kecenderungan terus meningkat. Seperti yang terlihat dalam Gambar 1, puncak impor tertinggi tercatat untuk tahun 1996 sebesar 743 ribu ton, suatu peningkatan impor sebesar 50% dari tahun sebelumnya (496 ribu ton). Sementara itu angka impor terendah selama kurun waktu tersebut terjadi pada tahun 1993 yaitu sebesar 700 ribu ton. Secara keseluruhan selama kurun waktu tersebut kecenderungan impor kedelai nasional menunjukkan peningkatan sebesar 8,59%.
Gambar 1. Total Impor Kedelai
C. Perkembangan Produksi Kedelai Nasional
Produksi kedelai nasional selama kurun waktu 6 tahun terakhir mengalami penurunan sebesar 5,2% (lihat Gambar 2.). Produksi kedelai tahun 1997 sebesar 1,3 juta ton, turun 11% dari tahun sebelumnya yang mencatat produksi sebesar 1,5 juta ton. Demikian pula pada tahun 1996 (1,5 juta ton) turun dari tahun 1995 (1,7 juta ton) sebesar 11%. Kondisi berbeda terjadi di tahun 1995 dengan peningkatan sebesar 7% dari periode sebelumnya.
Penurunan Produksi Kedelai Nasional Laju penurunan produksi tersebut antara lain disebabkan oleh produktifitas lahan yang masih rendah, berkurangnya luas areal panen, gagalnya panen karena iklim yang tidak cocok untuk pertumbuhan, juga karena belum dikuasainya teknologi produksi yang maju oleh petani. Sebagai perbandingan produktifitas di negara-negara penghasil utama seperti Amerika Serikat dan Brazil berkisar 2 7 ton/ha.
Gambar 2. Penurunan Produksi Kedelai Nasional
D. Perkembangan Harga
Secara rata-rata harga kedelai nasional sejak tahun 1990 hingga tahun 1996 mengalami peningkatan yang tidak terlalu mencolok, yakni hanya meningkat sebesar 3,7%. Demikian pula halnya dengan harga kedelai impor pada kurun waktu yang sama hanya meningkat sebesar 7,33%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa harga komoditi kedelai ini termasuk sangat stabil. Sejak krisis moneter melanda Indonesia, harga seluruh barang dan jasa didalam negeri melambung jauh diatas flutuasi kewajarannya selama ini, tidak terkecuali untuk kacang kedelai. Data terakhir (Agustus 1998) di beberapa propinsi ama, harga kedelai lokal telah mencapai Rp. 2.300 /kg. Untuk kedelai impor dengan kurs Rp 10.000 saja, maka harganya telah menjadi paling sedikit Rp. 3.500/kg.
Dengan demikian kedelai lokal kini memiliki keuntungan komparatif, walaupun harga pupuk dan pestisida naik, tapi kenaikan biaya produksi itu tidak sebesar kenaikan hasilnya.
PROFIL TANAMAN KEDELAI
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumberdaya alam berupa lahan yang relatif cukup luas dan subur. Dengan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan pokok, maka hampir seluruh tanaman pangan pokok tersebut (biji-bijian, umbi-umbian dan kacang-kacangan asli Indonesia) dapat tumbuh dengan relatif baik.
Salah satu jenis tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah tanaman kedelai (Glysine max (L) Merril). Kedelai merupakan salah satu mata dagangan yang pasokannya di Indonesia semakin cenderung tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri sendiri. Sekalipun dapat ditanam dengan cara yang paling sederhana sekalipun, produktivitas dan produksinya dalam negeri hampir tidak mungkin dapat memenuhi permintaan yang semakin meningkat.
Dalam kehidupan masyarakat kita, kedelai telah dikenal sejak lama sebagai salah satu tanaman sumber protein nabati dengan kandungan 39% - 41% yang diolah menjadi bahan makanan, minuman serta penyedap cita rasa makanan, misalnya yang sudah sangat terkenal adalah tempe, kecap, tauco dan tauge. Bahkan diolah secara modern menjadi susu dan minuman sari kedelai yang dikemas dalam karton khusus atau botolan. Selain itu kedelai
juga berperan penting dalam beberapa kegiatan industri hingga peternakan.
Sebagai bahan makanan kedelai sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan menjaga kondisi sel-sel tubuh. Kedelai banyak mengandung unsur dan zatzat makanan penting seperti protein, lemak, karbohidrat dan sebagainya. Selain bijinya, dari tanaman kedelai ini beberapa bagian dari tanaman juga berguna untuk usaha peternakan, misalnya dari daun dan batangnya dapat digunakan untuk makanan ternak dan pupuk hijau.
Sedangkan dari kacang kedelainya, selain untuk bahan baku seperti telah disebutkan di atas, juga dapat dikembangkan beberapa cabang yang dapat diolah lebih lanjut. Untuk cabang "protein kedelai" dapat diolah menjadi
bahan industri makanan (seperti susu, vetsin, kue, dll) dan industri nonmakanan (seperti kertas, cat air, tinta cetak dll). Selanjutnya dari cabang minyak kedelai dapat digunakan sebagai bahan Gliserida (seperti minyak goreng, margarin, tinta, pernis, dll) dan sebagai
bahan Lecithin (seperti margarine, insektisida, plastik, industri farmasi dll).
Dengan demikian, tampak bahwa tanaman kedelai memiliki manfaat ekonomis yang luas dan strategis, sekaligus berkaitan erat bagi pengembangan industri hilir. Oleh karena itu, dapat dimengerti apabila kebutuhan kedelai di dalam negeri sangat besar, bahkan untuk memenuhi permintaan ini dati tahun ke tahun impor kedelai cenderung meningkat.
SYARAT TUMBUH
Tanaman kedelai ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C - 300C, kelembaban 60% - 70%, pH tanah 5,8 - 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.
PENGOLAHAN TANAH
- Tanah dibajak, digaru dan diratakan
- Sisa-sisa gulma dibenamkan
- Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m
- Tanah dikeringanginkan tiga minggu baru ditanami
- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m² (10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:
- Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.
PENANAMAN
- Rendam benih dalam POC NASA dosis 2 cc / liter selama 0,5 jam dan dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai
- Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm
- Buat lubang tugal sedalam 5 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang
- Tutup benih dengan tanah gembur dan tanpa dipadatkan
- Waktu tanam yang baik akhir musim hujan
PENJARANGAN & PENYULAMAN
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.
PENYIANGAN
Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.
PEMBUBUNAN
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.
PEMUPUKAN
Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut :
Waktu
Dosis Pupuk Makro (per ha)
Urea (kg)
SP-36 (kg)
KCl (kg)
2 Minggu Setelah Tanam
50
40
20
6 Minggu Setelah Tanam
30
20
40
Total
80 kg
60 kg
60 kg
POC NASA diberikan 2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4 - 8 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10 - 20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3 - 4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan, akan lebih aman jika disiramkan.
PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.
PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT
1. Aphis glycine
Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.
2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan PESTONA
3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)
Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.
4. Kepik polong (Riptortis lincearis)
Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.
5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)
Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.
6. Kepik hijau (Nezara viridula)
Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.
7. Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa Natural VITURA.
8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)
Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.
Pengendalian : Pemberian Natural GLIO
9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)
Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal
10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )
Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian : (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) Pencegahan di awal dengan Natural GLIO
11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)
Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; (2) semprotkan Natural GLIO + gula pasir.
12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)
Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : (1) memperbaiki drainase lahan; (2) Tebarkan Natural GLIO di awal.
PANEN DAN PASCA PANEN
Lakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul.
Perlu diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.
Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.
Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.
Lampiran Gambar produk hasil olahan kedelai
Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.
Istilah teh juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal. Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh. Teh bunga dengan campuran kuncup bunga melati yang disebut teh melati atau teh wangi melati merupakan jenis teh yang paling populer di Indonesia. Konsumsi teh di Indonesia sebesar 0,8 kilogram per kapita per tahun masih jauh di bawah negara-negara lain di dunia, walaupun Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar nomor lima di dunia.
Klasifikasi tanaman teh:
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan biji)
Sub divisi : Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)
Kelas : Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah)
Sub Kelas : Dialypetalae
Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)
Familia (suku) : Camelliaceae (Theaceae)
Genus (marga) : Camellia
Spesies (jenis) : Camellia sinensis
Varietas : Assamica
Budidaya Teh
Syarat Tumbuh:
1. Tanah
• Tanah mempunyai derajat keasaman (pH) antara 4,5 - 5,6
• Jenis tanah yaitu tanah Latosol dan tanah Podzolik
• Tanah yang mempunyai kedalaman efektif (effective depth) dan berstruktur
remah lebih dari 40 cm.
2. Iklim
• Suhu udara berkisar antara 13°C - 25°C
• Cahaya matahari yang cerah dan kelembaban relatif pada siang hari tidak
kurang 70%
• Curah hujan rata-rata sepuluh tahun terakhir menunjukkan bulan kemarau
curah hujannya kurang dari 60 mm
• Jumlah hujan tidak kurang dari 2.000 mm per tahun
• Makin banyak sinar matahari makin cepat pertumbuhan, sepanjang curah
hujan mencukupi
3. Ketinggian Tempat
• Tinggi tempat 800 - 2.000 m dari permukaan laut atau lebih.
Pengolahan teh dan Pengelompokan
Teh dikelompokan berdasarkan cara pengolahan. Daun teh Camellia sinensis segera layu dan mengalami oksidasi kalau tidak segera dikeringkan setelah dipetik. Proses pengeringan membuat daun menjadi berwarna gelap, karena terjadi pemecahan klorofil dan terlepasnya unsur tanin. Proses selanjutnya berupa pemanasan basah dengan uap panas agar kandungan air pada daun menguap dan proses oksidasi bisa dihentikan pada tahap yang sudah ditentukan.
Pengolahan daun teh sering disebut sebagai fermentasi walaupun sebenarnya penggunaan istilah ini tidak tepat. Pemrosesan teh tidak menggunakan ragi dan tidak ada etanol yang dihasilkan seperti layaknya proses fermentasi yang sebenarnya. Pengolahan teh yang tidak benar memang bisa menyebabkan teh ditumbuhi jamur yang mengakibatkan terjadinya proses fermentasi. Teh yang sudah mengalami fermentasi dengan jamur harus dibuang, karena mengandung unsur racun dan unsur bersifat karsinogenik.
Pengelompokan teh berdasarkan tingkat oksidasi:
Teh putih
Teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Teh putih kurang terkenal di luar Tiongkok, walaupun secara perlahan-lahan teh putih dalam kemasan teh celup juga mulai populer.
Teh hijau
Daun teh yang dijadikan teh hijau biasanya langsung diproses setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal, proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan (cara tradisional Jepang dengan menggunakan uap atau cara tradisional Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas). Teh yang sudah dikeringkan bisa dijual dalam bentuk lembaran daun teh atau digulung rapat berbentuk seperti bola-bola kecil (teh yang disebut gun powder).
Oolong
Proses oksidasi dihentikan di tengah-tengah antara teh hijau dan teh hitam yang biasanya memakan waktu 2-3 hari.
Teh hitam atau teh merah
Daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di Asia Selatan (India, Sri Langka, Bangladesh) dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti: Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi dan Zimbabwe. Teh hitam masih dibagi menjadi 2 jenis: Ortodoks (teh diolah dengan metode pengolahan tradisional) atau CTC (metode produksi teh Crush, Tear, Curl yang berkembang sejak tahun 1932). Teh hitam yang belum diramu (unblended) dikelompokkan berdasarkan asal perkebunan, tahun produksi, dan periode pemetikan (awal musim semi, pemetikan kedua, atau musim gugur). Teh jenis Ortodoks dan CTS masih dibagi-bagi lagi menurut kualitas daun pasca produksi sesuai standar Orange Pekoe.
Pu-erh
Teh pu-erh terdiri dari dua jenis: "mentah" dan "matang." Teh pu-erh yang masih "mentah" bisa langsung digunakan untuk dibuat teh atau disimpan beberapa waktu hingga "matang". Selama penyimpanan, teh pu-erh mengalami oksidasi mikrobiologi tahap kedua. Teh pu-erh "matang" dibuat dari daun teh yang mengalami oksidasi secara artifisial supaya menyerupai rasa teh pu-erh "mentah" yang telah lama disimpan dan mengalami proses penuaan alami. Teh pu-erh "matang" dibuat dengan mengontrol kelembaban dan temperatur daun teh mirip dengan proses pengomposan. Teh pu-erh biasanya dijual dalam bentuk padat setelah dipres menjadi seperti batu bata, piring kecil atau mangkuk. Teh pu-erh dipres agar proses oksidasi tahap kedua bisa berjalan, karena teh pu-erh yang tidak dipres tidak akan mengalami proses pematangan. Semakin lama disimpan, aroma teh pu-erh menjadi semakin enak. Teh pu-erh yang masih "mentah" kadang-kadang disimpan sampai 30 tahun bahkan 50 tahun supaya matang. Pakar bidang teh dan penggemar teh belum menemui kesepakatan soal lama penyimpanan yang dianggap optimal. Penyimpanan selama 10 hingga 15 tahun sering dianggap cukup, walaupun teh pu-erh bisa saja diminum setelah disimpan kurang dari setahun. Minuman teh pu-erh dibuat dengan merebus daun teh pu-erh di dalam air mendidih seringkali hingga lima menit. Orang Tibet mempunyai kebiasaan minum teh pu-erh yang dicampur dengan mentega dari lemak yak, gula dan garam.
Teh kuning
Sebutan untuk teh berkualitas tinggi yang disajikan di istana kaisar atau teh yang berasal dari daun teh yang diolah seperti teh hijau tapi dengan proses pengeringan yang lebih lambat.
Kukicha
Teh kualitas rendah dari campuran tangkai daun dan daun teh yang sudah tua hasil pemetikan kedua, dan digongseng di atas wajan.
Genmaicha
Teh hijau bercampur berondong dari beras yang belum disosoh, beraroma harum dan sangat populer di Jepang.
Teh bunga
Teh hijau atau teh hitam yang diproses atau dicampur dengan bunga. Teh bunga yang paling populer adalah teh melati (H¬eung Pín dalam bahasa Kantonis, Hua Chá dalam bahasa Tionghoa) yang merupakan campuran teh hijau atau teh oolong yang dicampur bunga melati. Bunga-bunga lain yang sering dijadikan campuran teh adalah mawar, seroja, leci dan seruni.
Teh juga sering dikaitkan dengan kegunaannya untuk kesehatan. Teh hijau dan teh pu-erh sering digunakan untuk diet. Orang juga sering menghubung-hubungkan teh dengan keseimbangan yin yang. Teh hijau cenderung yin, teh hitam cenderung yang, sedangkan teh oolong dianggap seimbang. Teh pu-erh yang berwarna coklat dianggap mengandung energi yang dan sering dicampur bunga seruni yang memiliki energi yin agar seimbang.
Komposisi
Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Pada daun teh segar, kadar katekin bisa mencapai 30% dari berat kering. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin yang tinggi, sedangkan teh hitam mengandung lebih sedikit katekin karena katekin hilang dalam proses oksidasi. Teh juga mengandung kafein (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir), teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.
PROSPEK TEH
Sebagian besar merek teh yang dijual di pasaran merupakan hasil ramuan ahli teh yang membuat blend yang unik untuk merek tersebut dari berbagai daun teh yang berbeda. Rasa enak dari teh berkualitas tinggi dan berharga mahal biasanya bisa menutupi rasa teh yang berkualitas rendah, sehingga kualitas teh bisa meningkat dan dapat dijual dengan harga yang lebih pantas. Teh hasil ramuan juga menjaga agar rasa teh yang dimiliki merek tertentu tetap stabil sepanjang masa.Teh melati dibuat dengan mencampur kuncup melati yang siap mekar. Sebelum dicampur dengan kuncup melati, daun teh mengalami proses pelembaban agar harum melati dapat menempel pada daun teh.
Teh dikemas menjadi:
Teh celup : Teh dikemas dalam kantong kecil yang biasanya dibuat dari kertas. Teh celup sangat populer karena praktis untuk membuat teh, tapi pencinta teh kelas berat biasanya tidak menyukai rasa teh celup. Sari Wangi adalah perintis teh celup merek lokal [1] di Indonesia.
Teh seduh (daun teh) : Teh dikemas dalam kaleng atau dibungkus dengan pembungkus dari plastik atau kertas. Takaran teh dapat diatur sesuai dengan selera dan sering dianggap tidak praktis. Saringan teh dipakai agar teh yang mengambang tidak ikut terminum. Selain itu, teh juga bisa dimasukkan dalam kantong teh sebelum diseduh. Mangkuk teh bertutup asal Tiongkok yang disebut gaiwan dapat digunakan untuk menyaring daun teh sewaktu menuang teh ke mangkuk teh yang lain.
Teh yang dipres: Teh dipres agar padat untuk keperluan penyimpanan dan pematangan. Teh pu erh dijual dalam bentuk padat dan diambil sedikit demi sedikit sewaktu mau diminum. Teh yang sudah dipres mempunyai masa simpan yang lebih lama dibandingkan daun teh biasa.
Teh stik : Teh dikemas di dalam stik dari lembaran aluminium tipis yang mempunyai lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai saringan teh.
Teh instan : Teh berbentuk bubuk yang tinggal dilarutkan dalam air panas atau air dingin. Pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an tapi tidak diproduksi hingga akhir tahun 1950-an. Teh instan ada yang mempunyai rasa vanila, madu, buah-buahan atau dicampur susu bubuk.
Prospek Teh Organik
Kecenderungan konsumen akan makanan atau minuman bebas bahan pencemar yang semakin meningkat akan mendongkrak permintaan akan teh organik. Apalagi dalam menghadapi pasar global, produk organik merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi. Produktivitas kebun teh organic diperkirakan akan lebih rendah daripada kebun teh konvensional, sehingga harga pokok per kilogram teh menjadi lebih tinggi. Diperkirakan harga teh organik mencapai 2- 3 kali lipat atau lebih daripada harga teh biasa sehingga budi daya the organik dapat menjadi usaha yang menguntungkan. Penurunan produktivitas budi daya teh organik disebabkan oleh hal-hal berikut:
• Penurunan hara tanah, terutama di areal yang biasa menggunakan pupuk organik.
• Efisiensi pemupukan hanya mencapai 30-65% karena sisanya hanyut terbawa air dalam bentuk nitrat yang menjadi polutan di sepanjang badan air dengan fosfat.
• Pertanian organik bertujuan tidak hanya untuk menghasilkan produk yang bebas bahan pencemar, tetapi juga untuk membuat tanah yang sakit menjadi sehat, produktif, dan lestari.
Negara-negara yang telahmenghasilkan teh organik adalah China, India, Jepang, Sri Lanka, Tanzania, dan Malawi dengan luas total 3.810 ha dan produksi 2.346 ton dengan rata-rata produktivitas 0,67 ton/ha. Laporan terakhir pada International Conference on Organic Tea di India pada tahun 1997 menyebutkan bahwa produktivitas tersebut masih dapat meningkat dengan semakin mantapnya teknik budi daya teh organik. Diperkirakan kebutuhan dunia akan the organic belum dapat dipenuhi oleh negaranegara tersebut. Pada tahun 2000, diperkirakan produk pertanian organik menempati 3-10% dari seluruh pasar bahan makanan di Uni Eropa.
Perkembangan pertanian organik dan juga konsumsi produk organik yang paling maju terjadi di Eropa. Di Australia dan Swiss, pertanian organic menempati lebih dari 10% dari sistem pangan masing-masing. Di Amerika Serikat, perkembangan pertanian organik baru mencapai sekitar 0,2% dari total lahan pertanian, tetapi pasar tumbuh dengan laju lebih dari 20%/tahun, seperti di Perancis, Jepang, dan Singapura. Dari tahun 1992-1997 lahan yang disertifikasi untuk usaha tanaman organik berlipat lebih dari dua kali. Berdasarkan pengamatan Pusat Penelitian Teh dan Kina, banyak kebun teh di Indonesia berpotensi untuk dikembangkan menjadi kebun teh organik, karena penggunaan pestisida minimal, bahkan ada yang sama sekali tidak menggunakan pestisida.
Teh merupakan bahan minuman penyegar yang sudah lama dikenal. Beberapa kandungan senyawa kimia dalam teh dapat memberi kesan warna, rasa, dan aroma yang memuaskan peminumnya. Jadilah teh minuman penyegar yang nikmat. Berbekal kenyataan lama bahwa teh dipakai sebagai obat dan sarana meditasi dalam upacara ritual keagamaan, penelitian dalam dasawarsa terakhir abad 20 ini menunjukkan bukti bahwa teh dapat menjaga kesehatan tubuh manusia.
Sebagai sarana kesehatan kebiasaan minum teh sehari-hari akan lebih bermanfaat daripada dikonsumsi secara insidentil sebagai sarana pengobatan, oleh karena itu, teh lebih cocok diarahkan sebagai minuman fungsional daripada sebagai obat.
Beberapa jenis teh dapat memenuhi persyaratan minuman fungsional dan upaya yang harus ditempuh untuk menjadikan teh sebagai minuman fungsional dipaparkan dalam makalah ini.
Teh Sebagai Minuman Fungsional
Senyawa utama yang dikandung teh adalah katekin , yaitu suatu kerabat tanin terkondensasi yang juga akrab disebut polifenol karena banyaknya gugus fungsi hidroksil yang dimilikinya. Selain itu, teh juga mengandung alkaloid kafein yang bersama-sama dengan polifenol teh akan membentuk rasa yang menyegarkan. Beberapa vitamin yang dikandung teh di antaranya adalah vitamin P, vitamin C, vitamin B, dan vitamin A yang walaupun diduga keras menurun aktivitasnya akibat pengolahan masih dapat dimanfaatkan oleh peminumnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam teh, terutama fluoride yang dapat memperkuat struktur gigi.
Karena kandungan senyawa tersebut, terutama kandungan katekinnya, teh tampaknya dapat disebut minuman fungsional. Beberapa kenyataan yang dibuktikan melalui penelitian antara lain (Oguni, 1996) sebagai berikut.
1. Teh akan meningkatkan sistem pertahanan biologis tubuh terhadap kanker.
2. Teh mencegah timbulnya penyakit, seperti mengendalikan diabetes dan tekanan darah tinggi.
3. Teh membantu penyembuhan penyakit, misalnya mencegah peningkatan kolesterol darah.
4. Teh dapat mengatur gerak fisik tubuh dengan mengaktifkan sistem saraf karena kandungan kafeinnya.
5. Katekin teh merupakan antioksidan yang kuat dan akan menghambat proses penuaan.
Karena kelima fungsi yang harus dipenuhi oleh makanan fungsional ada dalam teh, maka potensi teh menjadi minuman fungsional tampaknya tidak diragukan lagi.
Prospek Teh Indonesia Sebagai Minuman Fungsional
Katekin yang mendominasi ± 20% berat kering teh merupakan substansi utama yang menyebabkan teh memenuhi persyaratan sebagai minuman fungsional. Senyawa ini dikandung lebih banyak pada pucuk tanaman teh ( Camellia sinensis ) varietas assamica dibandingkan varietas sinensis (Yamanishi, 1995). Teh hitam lebih sedikit mengandung katekin daripada teh hijau karena dalam proses pengolahannya sengaja mengoksidasi katekin untuk memperbaiki warna, rasa, dan aromanya.
Karena kondisi tanah dan iklim lingkungannya, hampir 100% tanaman teh di Indonesia adalah C. sinensis varietas assamica . Pucuk teh yang dihasilkan tanaman tersebut 80% diolah menjadi teh hitam, sedangkan sisanya diolah menjadi teh hijau. Teh hitam terutama diproduksi oleh perkebunan besar negara dan sebagian perkebunan besar swasta, sedangkan teh hijau terutama diproduksi oleh pabrik teh swasta yang menerima pasokan bahan baku dari perkebunan teh rakyat. Sebagian perkebunan besar swasta juga memproduksi teh hijau. Hampir seluruh produksi teh hitam Indonesia diekspor dan sebaliknya hampir seluruh teh hijau dikonsumsi di dalam negeri setelah diolah lanjut menjadi teh wangi . Beberapa tahun terakhir teh hijau pun sudah memasuki pasar ekspor.
Dari uraian di atas, tampak bahwa teh hijau Indonesia merupakan produk yang unik karena diolah dari pucuk teh C. sinensis var. assamica . Dibandingkan dengan teh hijau Cina, teh hijau Indonesia berbeda bahan bakunya ( C. sinensis var. sinensis ) tetapi sama dalam proses pengolahannya, yaitu sistem panning (inaktivasi ensim dengan udara panas). Sebaliknya, teh Indonesia sangat berbeda dengan teh hijau Jepang karena berbeda bahan baku maupun pengolahannya (Jepang sistem steaming , yaitu inaktivasi ensim dengan uap panas). Karena keunikannya inilah, maka secara khusus teh hijau Indonesia diduga lebih potensial menjadi minuman fungsional. Bahkan teh hitam Indonesia yang terbuat dari C. sinensis var. assamica memiliki kandungan katekin yang lebih tinggi daripada sencha (teh hijau Jepang).
Tabel 1. Katekin pada beberapa jenis teh Indonesia (Bambang et al. , 1995)
Negara Jenis the Substansi katekin (% b.k.)
Indonesia teh hitam Orthodox 8,24
teh hitam CTC 7,02
teh hijau ekspor 11,60
teh hijau lokal 10,81
teh wangi 9,28
Jepang Sencha 5,06
Cina teh oolong 6,73
teh wangi 7,47
Sri Lanka teh hitam BOP 7,39
Kandungan katekin pada pucuk segar pernah diteliti (Bambang et al ., 1996) dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kadar katekin pucuk teh segar beberapa klon teh di Indonesia
No. Jenis klon Katekin (% b.k.)
1. Gmb 1 14,61
2. Gmb 2 14,16
3. Gmb 3 15,08
4. Gmb 4 13,99
5. Gmb 5 13,30
6. TRI 2024 12,53
7. TRI 2025 13,63
8. Kiara 8 12,69
9. PS 1 13,84
10. Cin 143 12,66
Dari kedua tabel tersebut, dapat diketahui bahwa dari segi bahan baku , pucuk segar tanaman C. sinensis var. assamica teh Indonesia mempunyai peluang besar untuk memasok minuman fungsional.
Rekayasa Produk Minuman Fungsional Teh Kaya Katekin
Dengan melihat potensi bahan baku teh yang ada di Indonesia , peluang Indonesia untuk menghasilkan minuman fungsional teh kaya katekin terbuka luas. Peluang ini sudah mulai dimanfaatkan melalui rekayasa proses pengolahan teh berkatekin tinggi serta rancang bangun prototipe alat pengolahannya (Bambang, 1996; Bambang, et al. 1999, Bambang et al. , 2000). Prinsip dasar rekayasa pengolahan teh berkatekin tinggi adalah proses inaktivasi enzim yang lebih baik dengan uap panas, diikuti dengan proses penggilingan yang kuat dan cepat, dan diakhiri dengan proses pengeringan berkesinambungan yang singkat. Proses demikian diharapkan dapat mempertahankan secara maksimal katekin yang dikandung pucuk teh, walaupun kenampakan teh kering konvensional (bentuk keriting terpelintir) tidak akan dijumpai.
Rekayasa produksi minuman fungsional teh kaya katekin juga dapat dilakukan melalui upaya pemuliaan tanaman dan tindakan agronomis di kebun. Perolehan klon-klon baru kaya katekin dan miskin kafein sangat mendukung keberhasilan program ini, demikian pula beberapa tindakan agronomis yang dapat memacu biosintesis katekin dan menekan produksi kafein.
Faktor-faktor Kunci Percepatan Percepatan Pengembangan Industri Hilir The di Indonesia
Kemajuan industri hilir teh di Indonesia , masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dari masih rendahnya kontribusi ekspor produk-produk hilir teh terhadap total volume ekspor teh Indonesia , yaitu hanya mencapai 6,1%. Sebagai perbandingan, Sri Lanka telah mampu mengekspor produk-produk hilir ( packet tea, tea bag , dan instant tea ) mencapai 43,4% dari total volume ekspor (ITC, 2003). Demikian pula India telah mengekspor teh dalam bentuk produk-produk hilir mencapai 34,2% dari total ekspor. Bahkan Sri Lanka dan India telah mengimpor teh curah asal Indonesia untuk dijadikan campuran pada produk-produk hilir teh yang diekspornya.
Di lain pihak, impor produk-produk hilir teh Indonesia selama periode 1997-2002 terus meningkat dengan laju peningkatan sebesar 4,2%/tahun yaitu dari 2.870 ton pada tahun 1997 menjadi 3.526 ton pada tahun 2002 (BPS, 2003). Jenis teh yang meningkat jumlah impornya adalah jenis produk-produk hilir teh yaitu berupa teh hijau kemasan yang meningkat dengan laju peningkatan sebesar 11,8%/tahun dan teh hitam kemasan dengan laju peningkatan sebesar 28,4% / tahun.
Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan ekspor dan menghambat impor produk-produk hilir teh, diperlukan upaya-upaya pengembangan industri hilir teh. Dalam rangka meningkatkan devisa negara, menjaring nilai tambah, memperkuat struktur ekspor, mengurangi risiko fluktuasi harga komoditas teh curah, dan mencegah penurunan nilai tukar, serta antisipasi terhadap kejenuhan pasar komoditas teh curah di masa mendatang perlu pengembangan industri perkebunan teh ke arah hilir.
Pengembangan agroindustri perkebunan ke arah hilir secara umum memiliki beberapa keunggulan karena efek penggandaannya ( multiplier ) yang relatif besar, efek distribusinya yang relatif baik, komponen impor yang kecil, bertumpu pada sumberdaya yang dapat diperbaharui, pemicu pertumbuhan daerah baru, dan memperkuat struktur ekspor melalui pola diversifikasi.
Efek penggandaan yang besar tercermin dari tingkat keterkaitan yang kuat, baik yang bersifat keterkaitan ke belakang (backward linkage ) maupun keterkaitan ke depan ( forward linkage). Efek distribusi agroindustri yang baik disebabkan sekitar 60% nilai tambah agroindustri adalah dalam bentuk upah. Demikian pula, agroindustri hanya mempunyai komponen impor sekitar 17%.
Peran yang cukup penting lainnya dari agroindustri khususnya agroindustri hilir perkebunan dalam mendukung sektor pertanian adalah dalam upaya mengurangi fluktuasi harga produk primer pertanian dan mencegah penurunan nilai tukar produk pertanian. Fluktuasi harga yang tinggi serta penurunan nilai tukar komoditas primer perkebunan terutama berpangkal dari inelastisnya permintaan dan penawaran komoditas primer perkebunan. Dengan mengolah produk primer perkebunan melalui agroindustri, panawaran dan permintaan produk perkebunan menjadi lebih elastis sehingga diharapkan mengurangi fluktuasi harga dan mencegah penurunan nilai tukar hasil perkebunan.
Output dari pembangunan agroindustri adalah perolehan nilai tambah yang signifikan atas input teknologi yang diberikan. Pengembangan agroindustri yang lebih berorientasi ke arah hilir merupakan strategi yang harus dilaksanakan untuk beberapa jenis komoditas perkebunan, antara lain teh, yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk hilir yang berorientasi ekspor.
Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Percepatan Pengembangan Industri Hilir Teh
Dari hasil experts meeting , pada tahap awal telah diidentifikasi tiga puluh empat faktor yang berpengaruh terhadap percepatan pengembangan industri hilir teh. Namun setelah dilakukan seleksi melalui diskusi yang mendalam telah diidentifikasi sepuluh faktor yang berpengaruh terhadap percepatan pengembangan industri hilir teh seperti diperlihatkan pada Tabel 1.
Dari sepuluh faktor tersebut kemudian diidentifikasi faktor-faktor kuncinya yaitu faktor yang memiliki pengaruh sangat kuat ( influence ) dalam percepatan pengembangan industri hilir teh, namun memiliki ketergantungan yang rendah terhadap faktor lainnya atau lebih independent . Penentuan faktor kunci dilakukan dengan menggunakan analisis keterkaitan antar faktor. Hasil analisis keterkaitan antar faktor disajikan pada Gambar 1. Dari gambar tersebut diketahui bahwa dari kesepuluh faktor yang berpengaruh terhadap percepatan pengembangan industri hilir teh, ternyata hanya terdapat empat faktor kunci yaitu (1) Pajak Pertambahan Nilai, (2) insentif investasi; (3) harmonisasi tarif, dan (4) konsistensi dukungan pemerintah , yang merupakan faktor-faktor kunci karena memiliki pengaruh total yang tinggi namun ketergantungannya pada faktor lain yang rendah. Dengan demikian, percepatan pengembangan industri hilir teh di Indonesia betul-betul sangat tergantung pada kebijakan dan political will dari pemerintah Indonesia.
Kondisi Faktor Kunci di Masa Depan dan Skenario yang Paling Mungkin Terjadi
Skenario merupakan gabungan dari beberapa kondisi faktor-faktor kunci di masa depan. Setelah menghilangkan adanya inkompatibilitas yaitu gabungan kondisi faktor-faktor yang tidak mungkin dapat terjadi secara bersama-sama, kemudian dihasilkan enam skenario yang mungkin terjadi di masa depan.
Pemilihan skenario yang paling mungkin terjadi pada masa 5 hingga 10 tahun mendatang dipilih melalui teknik penjumlahan skor dari setiap expert di setiap skenario. Dari jumlah skor tersebut, diketahui bahwa skenario yang paling mungkin terjadi di masa 5 – 10 tahun mendatang adalah skenario 1 (jumlah skor 16) yang disajikan pada Tabel 2, yaitu akan terjadi kondisi (1) PPN akan tetap dipungut seperti sekarang atau tidak ada perubahan terhadap kebijakan PPN ( status quo ), (2) insentif investasi akan diberlakukan, (3) harmonisasi tarif akan diberlakukan, dan (4) konsistensi dukungan dari pemerintah akan sulit ditebak, karena tergantung pada siapa Presidennya dan bagaimana karakter dan kompetensi anggota-anggota kabinetnya, bahkan sampai mengarah pada kondisi inkonsistensi dukungan pemerintah.
Tabel 1. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Percepatan Pengembangan Industri Hilir Teh di Indonesia
No. Faktor Definisi
1. Pajak Pertambahan Nilai PPN yang dikenakan di setiap rantai penyerahan barang mulai dari bahan baku hingga produk-produk hilirnya.
2. Insentif Investasi Keringanan pajak untuk investasi di industri hilir teh di Indonesia
3. Insentif Investasi Pengenaan tarif impor yang berbeda untuk produk hilir dan bahan baku.
4. Konsistensi Dukungan Keberpihakan/prioritas terhadap pengembangan industri hilir dari waktu ke waktu tidak terpengaruh oleh pergantian pemerintahan (kabinet)
5 Efisiensi Biaya Produksi Struktur dan efisiensi biaya produk hilir, minimisasi pungutan
6. Keamanan Investasi Keamanan investasi, termasuk hubungan antara buruh dengan perusahaan
7. Penelitian Pasar Mencakup penyediaan informasi pasar, market intelligence, akses pasar dan upaya promosi..
8. Kualitas Bahan Baku dan Bahan Penolong Mencakup konsistensi dan kontinyuitas mutu bahan baku dan penolong
9. Respon Sosial Tanggapan masyarakat terhdap pembangunan industri hilir dalam bentuk kebutuhan akan biaya sosial dan bina lingkungan
10. Supply Chain Management dan Infrastruktur Membangun jaringan dari produksi hingga distribusi baik manajemen dan infrastruktur dengan pembiayaan swasta dan fasilitasi dari pemerintah dan asosiasi
Beberapa Usulan Kebijakan untuk Percepatan Pengembangan Industri Hilir Teh
Beberapa usulan kebijakan untuk mempercepat pengembangan industri hilir teh di Indonesia, yang merupakan kesimpulan dari hasil expert meeting antara lain adalah sebagai berikut.
1. Penyempurnaan Kebijakan PPN
• Untuk penyempurnaan kebijakan PPN, hendaknya dilakukan kebijakan satu pintu untuk restitusi PPN. Kebijakan satu pintu tersebut dimaksudkan untuk mengurangi biaya dan waktu pengurusan restitusi PPN (maksimum 1 bulan pemrosesan) sehingga tidak begitu menggangu cash flow pelaku industri (produsen, pengolah, pedagang, eksportir). Restitusi PPN hendaknya tidak dikaitkan dengan Pph.
• PPN hendaknya dipungut di lini akhir, yaitu terhadap produk-produk hilir teh yang dikonsumsi di pasar dalam negeri, bukan di setiap rantai penyerahan seperti sekarang ini. Apabila kebijakan ini dapat diberlakukan diperkirakan akan menumbuhkan para pelaku baru agroindustri hilir teh.
• PPN pada industri teh yang kondisinya sedang memburuk, hendaknya direlokasikan kembali ke industri tersebut, dalam bentuk program-program peningkatan daya saing industri teh nasional yang dikelola bersama oleh pemerintah, Asosiasi Teh Indonesia dan Asosiasi Petani Teh Indonesia .
2. Konsistensi Dukungan Pemerintah
Pemerintah hendaknya dapat membangun grand strategy pengembangan industri hilir teh dengan legal aspek yang diterbitkan berupa Keputusan Presiden atau Peraturan Pemerintah dan didukung oleh Peraturan Daerah dalam implementasinya. Dukungan terhadap percepatan pengembangan industri hilir teh tersebut hendaknya secara jelas dituangkan pada PROPENAS. Bahkan perlu disebutkan secara spesifik lagi ke jenis industri hilir teh yang memiliki prospek pasar yang baik dan nilai tambah tinggi. Hal ini sangat diperlukan untuk menjaga konsistensi dukungan walaupun terjadi pergantian pemerintahan. Malaysia merupakan salah satu contoh negara yang memiliki grand strategy pengembangan industri hilir perkebunan yang dituangkan dalam visi “Malaysia 2020”.
3. Pemberlakukan Insentif Investasi
Insentif investasi berupa insentif fiskal hendaknya diberikan kepada para pengusaha yang bermaksud membangun industri hilir baru yang belum berkembang di Indonesia atau yang meningkatkan kapasitas industri hilirnya. Untuk industri baru tersebut, pemerintah hendaknya memberlakukan beberapa instrumen kebijakan antara lain.
• Tax holiday untuk industri baru ( pioneer ) dan pengembangan industri hilir di wilayah tertentu
• Keringanan tarif impor untuk mesin-mesin dan alat-alat terutama untuk industri kecil dan menengah yang produknya dipasarkan untuk pasar ekspor maupun pasar domestik
• Insentif pembebasan Pph berdasarkan jumlah tenaga kerja yang ditampung di industri kecil dan menengah
• Insentif pembebasan pajak iklan.
• Hendaknya pemerintah memberikan kemudahan dalam efisiensi proses perizinan (waktu dan biaya) khususnya dalam pengurusan ijin lokasi, IMB, dan kemudahan lainnya hingga kemudahan dalam memproses analisis dampak lingkungan.
4. Pemberlakuan Harmonisasi Tarif
• Harmonisasi tarif perlu dilakukan pemerintah dengan menerapkan tarif proporsional sesuai kandungan produk dan dengan pengertian yang jelas sesuai dengan klasifikasi produk ( Harmonized System ). Untuk tarif impor, hendaknya pemerintah menerapkan prinsip pengenaan tarif yang lebih besar ke produk-produk hilir teh dibandingkan terhadap produk-produk hulunya (teh curah). Saat ini besarnya tarif impor untuk teh curah sama dengan produk-produk hilir teh yaitu semuanya dikenakan 5%. Usulan dari GAPMMI dan ATI untuk tarif impor produk-produk hilir teh adalah minimal 15%, sedangkan untuk teh curahnya tetap 5%.
• Untuk mengetahui permainan tarif yang dilakukan oleh negara-negara pengimpor, pemerintah perlu memberdayakan aparat (atase) perdagangan di luar negeri.
• Penentuan tarif impor hendaknya dilakukan melalui metode kompromi dengan melibatkan para penentu kebijakan, ilmuwan, pengamat, dan Asosiasi teh serta produk hilir teh yang bersangkutan.